Predators (2010)
107 min|Action, Adventure, Sci-Fi|09 Jul 2010
6.4Rating: 6.4 / 10 from 243,560 usersMetascore: 51
A group of elite warriors parachute into an unfamiliar jungle and are hunted by members of a merciless alien race.

Predators merupakan film aksi fiksi ilmiah yang merupakan lanjutan dari rangkaian seri panjang sang pemangsa sejak Predator (1987), Predator 2 (1990), Alien vs Predator (AVP/2004), serta Alien vs Predator: Requiem (2007). Filmnya kali ini digarap oleh sineas asal Hongaria, Nimrod Antal yang pernah menggarap film-film aksi serta thriller seperti Kontroll (2003), Vacancy (2007), Armored (2009) serta diproduseri sineas top, Robert Rodriguez. Film ini dibintangi oleh Adrien Brody, Alicia Braga, Laurence Fishburne, serta Daniel Trejo.

Alkisah delapan orang manusia yang memiliki keahlian khusus dalam hal membunuh dipilih dan dikumpulkan dalam sebuah hutan misterius tanpa alasan yang jelas. Diantara mereka adalah Royce (Brody) seorang tentara bayaran, Isabelle (Braga) seorang wanita penembak jitu, Edwin seorang dokter, serta beberapa anggota militer elit, gerilyawan, hingga seorang yakuza. Dalam perkembangan diketahui ternyata mereka diambil secara paksa dari planet bumi untuk dijadikan target permainan bagi para pemangsa di sebuah planet asing. Cerita selanjutnya berjalan bagaimana mereka bisa bertahan hidup dari kejaran para pemangsa.

Konon sang produser dan sineas menginginkan filmnya ini adalah sekuel dari dua seri Predator orisinal serta mengesampingkan dua seri AVP. Dari sisi cerita film ini jelas tampak ingin mengembalikan nuansa seperti film pertamanya bahkan setting cerita pun kembali sama di hutan belantara. Predator (1987) boleh dibilang adalah salah satu film kombinasi aksi – perang – fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa yang sulit dicari tandingan. Plotnya yang orisinil, brilyan, dan penuh kejutan mampu memberikan ritme ketegangan yang dibangun apik dari awal hingga klimaks tanpa cela sedikit pun. Dengan plot yang mirip film orisinilnya, Predators samasekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Alur ceritanya mudah sekali diduga, tak ada kejutan yang berarti, dan ide cerita pun boleh dibilang konyol. Coba pikir, apa maksudnya para pemangsa menculik manusia-manusia bumi terpilih jika mereka jelas-jelas terlalu superior baik fisik maupun teknologi? Bukankah buang-buang waktu apalagi para pemangsa berjumlah banyak? Jika ingin menguji kemampuan mereka bukankah lebih baik bertarung dengan makhluk alien seperti di seri AVP. Hal lain yang aneh juga para manusia yang diculik tampak tidak terlalu panik dengan situasi yang mereka hadapi dan seperti telah tahu apa yang tengah terjadi dengan mereka.

Baca Juga  Settlers

Predators mencoba untuk mengambil jiwa dan semangat film pertamanya, namun hasilnya gagal. Dari sisi aksi jika dibandingkan dengan seri predator sebelumnya, film ini terburuk. Sama seperti plotnya, aksinya tidak menawarkan sesuatu yang baru, tanpa kejutan sedikitpun, cenderung membosankan, dan sama sekali tidak menghibur. Satu-satunya hal yang membangkitkan nostalgia film pertamanya hanyalah ilustrasi musik mencekam dan dinamis yang diambil sama dari film aslinya (Predator). Rasanya memang sulit mencari ide cerita yang mendekati film pertamanya. Lalu apalagi yang bisa ditawarkan sekuelnya? Sepertinya hanyalah para pemangsa yang lebih banyak, mencari buruan yang lebih kuat, setting yang semakin terbatas, serta mungkin aksi-aksi yang lebih sadis. Mungkin bisa jadi sekuel-sekuel berikutnya akan terpikir judul seperti ini, Spiderman vs Predators. Sepertinya menarik…

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaThe Twilight Saga: Eclipse
Artikel BerikutnyaDespicable Me
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Sya rasa predator jga takut kepada manusia..mka y dia pake kamuflase…di film avp requaiem…ada scene si predator menghilangkan para korban xenomorph dengan cairan biru…itu bkti bhwa predator tidak ingin kbradaanya diketahui manusia…pda knyataanya manusia sudah tau kbradaanya..

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.