Public Enemies (2009)
140 min|Action, Biography, Crime|01 Jul 2009
7.0Rating: 7.0 / 10 from 318,050 usersMetascore: 70
The Feds try to take down notorious American gangsters John Dillinger, Baby Face Nelson, and Pretty Boy Floyd during a booming crime wave in the 1930s.

Public Enemies merupakan film aksi gangster arahan sineas kawakan Michael Mann. Film ini diadaptasi dari buku non-fiksi Public Enemies: America’s Greatest Crime Wave and the Birth of the FBI, 1933-34 karya Bryan Burrough. Michael Mann seperti kita tahu pada dekade lalu telah memproduksi film-film kriminal berkualitas macam Heat (1995) dan The Insider (1999). Film ini dibintangi oleh dua aktor megabintang saat ini, yakni Johnny Depp dan Christian Bale, didampingi aktor-aktris papan tengah, seperti Marion Cotillard, David Wenham, Billy Crudup, serta Stephen Dorff.

Cerita film didasarkan atas kisah nyata berlatar tahun 1933 ketika Amerika mengalami masa-masa suram akibat depresi besar serta kriminal yang semakin merajalela. John Dillinger (Depp), Baby Face Nelson, dan Pretty Boy Floyd tercatat adalah para perampok bank paling dicari di Amerika. Pihak FBI menunjuk agen Melvin Purvis (Bale) untuk memburu Dillinger dkk setelah belum lama ia sukses memburu Floyd. Sepanjang filmnya menggambarkan sepak terjang Dillinger dalam aksi perampokan bank serta usaha Purvis mengejar para kriminal.

Tidak banyak yang bisa kita bicarakan tentang plot filmnya. Plotnya memiliki banyak kemiripan dengan arahan Mann sebelumnya, Heat. Bedanya hanya lebih ringkas. Hampir tigaperempat durasi filmnya hanya murni memperlihatkan aksi kejar-mengejar serta kucing-kucingan antara Dillinger dkk dan pihak FBI. Adegan demi adegan mengalir dengan singkat dan jarang berlama-lama dengan karakter-karakternya. Alur cerita yang demikian cepat tidak memberi kesempatan pada penonton untuk larut pada tiap karakter dalam filmnya. Bahkan hingga bumbu roman pun disajikan dengan ringkas. Coba simak bagaimana Dillinger dengan cepat mampu memikat hati Billie Frechette (Marion Cottilard), wanita yang baru saja ia temui, untuk menjadi pasangannya. Hasilnya, chemistry yang terbangun diantara keduanya begitu rapuh bahkan hingga akhir filmnya. Satu lagi momen penting ketika Dilliger bertatap muka untuk pertama kalinya dengan Purvis. Momen yang mestinya terasa sangat-sangat emosional hanya terasa datar-datar saja. Coba bandingkan dengan Heat ketika karakter Al Pacino dan Robert De Niro untuk pertama kali bertatap muka, adegannya sederhana namun mampu tersaji begitu emosional. Entah apa maunya sang sineas yang jelas film ini sama sekali tidak menekankan unsur dramatiknya.

Baca Juga  Madagascar 3

Plot yang semata-mata menekankan pada aksi semakin komplit dengan penggunaan teknik handheld camera serta format digital (HD). Sang sineas kali ini mencoba berbeda dengan tidak menggunakan format seluloid (35mm) lazimnya, dan hasilnya, gambar yang tersaji memiliki tone “buram” layaknya dokumenter (berita tv). Teknik handheld camera plus format digital mampu menyajikan gambar yang memiliki nuansa realisme begitu kental. Kombinasi teknik ini tampak begitu istimewa terutama dalam sekuen-sekuen aksinya. Sekuen tembak-menembak di jalanan tersaji begitu realistik seolah “live” terpampang langsung di mata kita. Satu lagi aspek teknis yang sangat mendukung adalah efek suara rentetan senjata mesin yang begitu meyakinkan sehingga seolah aksi tembak-menembak benar-benar terjadi di dekat kita. Dijamin suara-suara tembakan akan mampu membuat Anda kaget setengah mati dan meloncat dari bangku penonton.

Bicara kasting siapapun pasti berharap banyak dari adu akting antara dua superstar masa kini, yakni Depp dan Bale. Namun nyatanya, naskah yang minim unsur drama dan lebih menekankan aksi membuat penampilan dua aktor tersebut jauh di bawah performa mereka. Depp sebagai Jack Sparrow (Pirates of the Carribean) masih jauh lebih berkarisma ketimbang karakter John Dillinger. Depp sendiri sepertinya masih kurang beringas, dingin, dan kejam sebagai sosok Dillinger. Sementara nasib Bale tidak berbeda jauh sekalipun kali ini ia bisa lepas dari karakter Bruce Wayne (Batman). Mereka berdua rasanya telah berakting maksimal dalam filmnya. Mann sepertinya ingin mencoba mengulang sukses Heatyang mengadu akting dua legenda Hollywood, De Niro dan Pacino, namun treatment plot filmnya kali ini jelas tidak memungkinkan para pemainnya untuk mencapai hal serupa. Jika De Niro dan Pacino yang bermain sekalipun rasanya hasilnya akan sama.

Public Enemies rasanya lebih pas disebut film aksi ketimbang gangster. Suara rentetan senjata dan deru mesin kendaraan lebih banyak berbicara ketimbang dialog. Pendekatan sinematik yang menggunakan tone “dokumenter” justru semakin memberi jarak antara tokoh-tokohnya dengan kita (penonton). Kita seolah seperti melihat reka-ulang peristiwa masa silam (sejarah) yang dirancang begitu apik. Bisa jadi unsur realisme inilah yang ingin dicapai sang sineas, nyatanya memang kemasan filmnya jauh lebih menarik ketimbang isi (cerita) filmnya. Sebagai kata penutup, saya adalah pengagum berat Heat dan The Insider, namun setelah dua film ini sang sineas sepertinya telah kehilangan sentuhannya.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHarry Potter and The Half Blood Prince
Artikel BerikutnyaUp
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.