Paterson, supir bus umum di kota Peterson. Kalimat barusan terdengar begitu puitik dan memang Paterson menulis puisi sebagai bagian rutinitasnya sehari-hari. Dia akan bangun pagi ketika istrinya masih ingin terlelap, sarapan ditemani anjingnya, menuju garasi bus, menulis puisi diatas bus sebelum bus mulai jalan, mengendarai bus menyusuri kota Paterson (New Jersey) dengan warga kota sebagai penumpangnya, mendengarkan percakapan penumpang-penumpangnya, lalu pulang, mengambil surat dikotak pos, membenarkan kotak pos yang miring, sampai rumah bertemu istrinya yang ekspresif, lalu pergi ke Bar langganannya. Harinya akan kembali di pagi hari ketika dia bangun diranjang bersama istrinya, lalu seperti mengulang kembali hari sebelumnya. Film ini berawal dari Senin pagi dan akan berakhir pada Senin pagi seminggu kemudian.

Puisi yang ditulis Paterson berkisah tentang hal-hal kecil dalam kesehariannya, tentang merk korek api “Ohio blue tip matches” yang ada dirumahnya, tentang hal-hal kecil disekitarnya atau puisi cinta yang syahdu untuk istrinya. Meskipun keseharian Paterson nampak membosankan tetapi dengan puisi yang ia tulis, hari-harinya terasa lebih bermakna. Puisi-puisi ia tulis dibuku catatan, semacam “The Secret Notebook”, hanya ia dan istrinya yang bisa mengakses.

Film ini tentang menjalani hari-hari yang dijalani dengan biasa-biasa saja. Seperti menulis puisi bukan karena ingin menjadi pujangga besar, namun karena ini bagian dari kesehariannya. Meski didesak oleh istrinya untuk membuat salinan puisi-puisinya yang dianggap layak dibaca banyak orang, Paterson hanya menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Demi istrinya dia berjanji akan membuat salinanya pada akhir pekan.

 

Another One


When you’re a child

you learn

there are three dimensions:

height, width, and depth.
Like a shoebox.
Then later you hear
there’s a fourth dimension:

time.

Hmm.

Then some say

there can be five, six, seven…

I knock off work,

have a beer

at the bar.

I look down at the glass

and feel glad.

Secara keseluruhan film ini seperti puisi panjang, seperti puisi yang sering tidak perlu drama yang menguras air mata atau bahagia, hanya sekedar mengambil jarak, merefleksikan apa yang ingin disampaikan tanpa harus menyentuh atau mengatakan dengan lugas. Sepanjang film bagai puisi yang terangkai dari hal-hal biasa. Seperti di awal film, istri Paterson, mengatakan bahwa ia baru saja mimpi kalau ia akan mempunyai anak kembar, lalu di sepanjang film Paterson banyak menjumpai orang-orang kembar. Salah satunya gadis kecil yang mempunyai kesukaan yang sama seperti Paterson, menulis puisi di “secret notebook” nya, gadis itu membacakan puisinya untuk Paterson, berjudul “Water Falls”.

 

Baca Juga  Saya Daniel Blake, Saya Warga Negara Biasa

Water Falls

 

Water falls from the bright air.

It falls like hair.

Falling across a young girl’s shoulders.

Water falls.

Making pools in the asphalt.

Dirty mirrors with clouds and buildings inside.

It falls on the roof of my house,

it falls on my mother, and on my hair.

Most people call it rain.

 

Akhirnya “secret notebook”-nya Paterson tidak bisa diperbanyak karena dirusak oleh anjing kesayanganya dan hampir susah disatukan kembali. Puisi yang ia tulis tidak akan bisa ditulis ulang kembali yang membuat Paterson agak kesal. Besoknya ia termenung di tempat favoritnya, di dekat air terjun, lalu seorang pria Jepang misterius datang, mereka bercakap-cakap, pria tersebut membacakan puisi William Carlos William, penulis puisi terkenal dari kota Paterson. Pria Jepang tersebut bercerita bahwa ia juga menulis puisi yang ditulis di “secret notebook”nya, sebelum meninggalkan Paderson, pria Jepang memberikan hadiah notebook kosong. Notebook kosong yang mempunyai lebih banyak kemungkinan. Paterson seperti menemukan kembali puisinya, tentu puisi-puisi baru yang akan ia tulis. Paterson menemukan Ahaa… menemukan dirinya kembali.

Ah saya jadi membayangkan ditengah hiru-pikuk, caci maki, membenci yang keluar dari sebuah kota, apalagi seperti kota Jakarta, alangkah damai bila setiap warganya menemukan Ahaa-nya, menemukan puisinya.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaSaya Daniel Blake, Saya Warga Negara Biasa
Artikel BerikutnyaHidden Figures
Pernah belajar film secara formal di Jogja dan Jakarta. Pernah dan masih membuat film diwaktu luang. Sekarang tinggal dan beraktifitas di Kota Bogor. Ketika akan menonton film selalu ingat dengan kata-kata “Hidup terlalu singkat untuk menonton film yang jelek”. Penulis saat ini mengasuh kolom frontier pada montasefilm.com

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.