qodrat


Sepintar-pintarnya seorang peruqyah yang selalu berhasil menyembuhkan pasien, pasti ada gagalnya. Begitulah Qodrat. Film horor thriller religi dan laga arahan Charles Gozali dengan naskah yang ia tulis bersama Gea Rexy dan Asaf Antariksa. Lewat produksi Magma Entertainment, Rapi Films, Ideosource Entertainment, dan Astro Shaw, Vino G. Bastian dan Marsha Timothy menunjukkan kebolehan mereka memainkan peran tokoh utama dalam sebuah film horor. Selain mereka, ada pula Randy Pangalila dan Cecep Arif Rahman, serta Maudy Effrosina, Keanu Azka, dan Jason Doulez Beunaya Bangun yang jarang kita dengar. Sang sutradara dan para penulisnya belum punya banyak pengalaman dengan genre-genre itu. Lalu bagaimana dengan film yang mereka kerjakan ini?

Qodrat (Vino) adalah seorang peruqyah jenius, andal, punya kekuatan supernatural tinggi yang tak pernah gagal menyelamatkan setiap pasiennya. Namun Qodrat tetaplah manusia biasa. Dia pun bisa mengalami kegagalan. Ditambah lagi, pasien terakhirnya itu adalah putranya sendiri. Kegagalan yang kian dia rasa pahit. Qodrat yang kemudian dipenjara pun kian mempertanyakan tentang Tuhan. Dia amat sakit hati, marah, dan kecewa. Dia abaikan segala bentuk ibadah dan keyakinan. Sampai ajal menjemputnya, tetapi Tuhan berkata lain. Tugas Qodrat dalam hidupnya belumlah usai.

Film dengan genre horor, untuk ke sekian kalinya amat penting memaksimalkan nuansa menyeramkan di atas segala unsur horor lainnya. Baik Charles maupun dua rekan penulisnya, Rexy dan Asaf memahami itu dengan baik lewat Qodrat. Bahkan Qodrat menyajikan sensasi dari sebuah cerita horor dengan struktur yang rapi. Tidak ada jembatan antarkronologi peristiwa yang berlubang. Meski kerapian ini baru benar-benar terasa setelah memasuki babak kedua. Pembuka cerita dan babak pertama berjalan dengan “serangan” masif dari kehadiran sesosok misterius yang mengincar Qodrat (Vino).

Kehadiran kedua bintang besar kita, Vino G. Bastian dan sang istri, Marsha Timothy, dalam satu layar juga berhasil memanjakan pemirsa. Meski rasanya perubahan karakter antara Yasmin normal dan Yasmin yang kerasukan tampak lebih kuat dan gemilang. Kapan lagi kita bisa melihat seorang Marsha menunjukkan sisi buas dan ganasnya karena faktor kesurupan iblis? Jarang pula kita melihat kombinasi pemain seperti yang ada dalam Qodrat. Tak ada satu pun di antara mereka yang sering muncul dalam film-film horor lokal belakangan ini. Kecuali Marsha (Asih 2), Jason (Makmum 2), dan Pritt Timothy (Inang).

Baca Juga  Pasutri Gaje

Qodrat boleh jadi memang membawakan jalinan kisahnya yang misterius dan penuh teror dari iblis dengan rapi sekaligus mengerikan. Namun ide-ide dalam naskahnya tak semuanya mengandung kebaruan. Lihat saja bagaimana beberapa film horor belakangan bermain-main dengan premis yang lebih-kurang mirip. Kafir: Bersekutu dengan Setan, Perempuan Tanah Jahanam, Sebelum Iblis Menjemput, bahkan Pengabdi Setan, yang menjual jiwa atau menumbalkan orang lain pada iblis demi kepentingan pribadi. Ada pula Ruqyah: The Exorcism yang membawakan satu kemiripan dengan Qodrat, yakni “ruqyah”. Namun Qodrat punya elemen agamis yang jauh lebih kental ketimbang film-film sejenis lainnya.

Apa keistimewaan lain dari Qodrat adalah keberadaan elemen laganya. Film horor dalam negeri mana yang pernah kita saksikan, berisi adegan perkelahian tangan kosong (bisa jadi silat) antara manusia dengan korban kesurupan? Martial arts dalam film horor Indonesia. Dan keberadaan nama Cecep Arif Rahman sudah banyak menjelaskan kemampuan olah fisik atau bela diri dari beberapa pemain. Terutama Zafar (Randy), Yasmin (Marsha), serta Qodrat (Vino). Walaupun sebagaimana kemasan filmnya yang sangat Islami, setiap benturan fisik dalam perkelahian tersebut selalu dibalut dengan bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an. Lagipula toh ada prosesi meruqyah di sana.

Jika kita hendak mengamati lebih banyak elemen-elemen lain dalam Qodrat, Charles tampaknya terinspirasi untuk membuat adegan-adegan sadis dan menggiriskan. Kepala terputar, atau tangan nyaris terpotong perlahan. Dia juga menunjukkan hasil dialognya dengan Hani lewat gambar-gambar memutar yang selalu mengikuti aksi pemain, ketika adegan laga tengah berlangsung. Meski Hani sendiri belum punya rekam jejak yang tampak jelas sebagai pengarah gambar film horor.

Qodrat memang berangkat dari ide-ide yang telah banyak muncul, tetapi dikerjakan oleh para penulis naskah yang sabar dalam mengolah cerita mereka. Walau pada saat yang sama mereka melewatkan kemungkinan penonton bisa menduga, “Siapakah penjahatnya.” Tinggal menunggu kesempatan untuk melihat cara pengungkapan faktanya saja. Adanya Vino dan Marsha dalam satu layar, sebagai sesama tokoh utama pula, secara tidak langsung juga memberi tahu kita seberapa besarnya dana pembuatan Qodrat. Qodrat, boleh jadi salah satu pilihan terbaru horor lokal, bila sudah bosan dengan Pengabdi Setan 2: Communion.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaTopeng, Bramacorah, dan Media Sosial
Artikel BerikutnyaWhite Building : Potret Keruntuhan
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.