Studio : Star Vision
Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Sutradara: Monty Tiwa
Penulis Naskah:  Ben Sihombing, Monty Tiwa
Penata kamera : Rollie Markiano
Pemain : Karina Salim, Abbrar Adrian, Dwi Sasono, Ray Sahetapy.
Penata Artistik:  Fauzi
Penata Musik: Ganden Bramanto
Editor: Cesa David Luckmansyah
Durasi : 99 Menit

Film yang diadaptasi dari novel berjudul “Raksasa dari Jogja” karangan Dwitasari ini disutradarai oleh  Monty Tiwa yang sering menyutradarai film bergenre komedi romantis seperti film Get Married 3 (2011), Aku, Kau & KUA (2014), dan Kapan Kawin? (2015). Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Bian (Karina Salim) yang mengalami beberapa masalah dalam kehidupannya. Sahabat terbaiknya berselingkuh dengan pacarnya sendiri. Sang papa (Ray Sahetapy) menuntut ia untuk kuliah di Universitas Indonesia, namun sosok papanya bukan menjadi panutan karena melakukan KDRT terhadap mamanya. Bian kemudian memutuskan untuk kuliah di Jogja. Disinilah ia bertemu dan dekat dengan seorang laki-laki “raksasa” bernama Gabriel (Abbrar Adrian).

Film ini memiliki plot yang sederhana dan menarik. Film ini menekankan pada kedekatan Bian dan Gabriel secara perlahan-lahan. Konflik-konflik kecil yang dibangun antara mereka berdua yang menyebabkan pasang surutnya hubungan mereka menambah intensitas dramatik yang cukup baik dan menarik untuk diikuti. Momen-momen yang mereka lalui cukup membangun suasana romantis filmnya. Background cerita yang dibangun juga cukup baik menjelaskan permasalahan utama Bian sebagai tokoh utama yang penuh trauma. Namun pada beberapa adegan terasa terlampau cepat sehingga beberapa informasi cerita yang sebetulnya bisa menguatkan filmnya tidak muncul. Seperti mengapa Bian memilih untuk lari ke Jogja? Studi apa yang sebenarnya diinginkan Bian sehingga harus ke Jogja?

Baca Juga  A: Aku, Benci & Cinta

Proporsi cerita permasalahan Bian dengan keluargannya dan kedekatannya dengan Gabriel berjalan dengan seimbang dan saling mendukung. Kedekatan dengan Gabriel mengingatkan trauma Bian terhadap ayahnya yang suka memukuli ibunya karena ternyata Gabriel mempunyai reputasi yang buruk di kampusnya karena suka berkelahi. Walaupun Bian awalnya tak suka hal-hal tersebut namun akhirnya ia bisa melihat hal–hal positif pada sosok Gabriel. Satu momen menarik ketika Bian membatalkan pulang ke Jakarta pada hari ulang tahun mamanya, karena mendengar Gabriel dibawa polisi karena ia dikeroyok oleh sekelompok preman. Bian yang akhirnya mencari di kantornya menunggu Gabriel hingga malam. Disitulah kedekatan yang lebih intens dibangun. Ending cerita juga dibangun cukup manis dan memperlihatkan solusi dari persoalan-persoalan yang dihadapi Bian. Pertemuannya dengan Gabriel membawanya menjadi seorang novelis yang mengisahkan cintanya dengan Gabriel.

Walaupun didominasi pemain-pemain yang belum populer akting yang terlihat di filmnya cukup natural. Salah satu yang cukup baik adalah akting Angkola (Dwi Sasono) sebagai aktor pembantu yang mampu menghidupkan dialog serta suasana komedi di film ini. Suasana Kota Jogja kurang terasa dari bahasa visualnya sekalipun menggunakan lokasi-lokasi landmark Kota Jogja. Salah satu adegan yang menggambarkan Jogja justru malah berada di jembatan penyeberangan busway di Kota Jakarta dimana sekelompok pengamen menyenandungkan lagu tentang Jogja yang didengarkan Bian. Musik romantis yang konsisten dan pas dengan adegan-adegannya juga dibangun sangat baik dari awal hingga akhir filmnya. Raksasa dari Jogja adalah film komedi romantis yang cukup berhasil di tengah maraknya film-film roman sejenis yang ber-setting di mancanegara.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaBvS Pecahkan Rekor & Deadpool Jawara X-Men
Artikel BerikutnyaBvS Menukik Tajam
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.