Ralph Breaks the Internet (2018)
112 min|Animation, Adventure, Comedy|21 Nov 2018
7.0Rating: 7.0 / 10 from 201,825 usersMetascore: 71
On a quest to save the video game 'Sugar Rush' and to find a replacement, Ralph and his best friend Vanellope travel to the World Wide Web through a Wi-Fi router they find at the arcade.

Ralph Breaks the Internet merupakan sekuel dari Wreck It Ralph (2012) yang kini disutradarai oleh Rich Moore bersama Phil Johnston. Seri pertamanya yang juga merupakan produksi Walt Disney Animation Studios, sukses meraih nominasi film animasi panjang terbaik dalam ajang Golden Globe dan Academy Awards. Film ini masih pula diisi suara oleh John C. Relly, Sarah Silverman, dan kini beberapa bintang baru turut serta, seperti Gal Gadot, Alan Tudyk, Alfred Molina, hingga Taraji P. Henson. Dengan bermodal bujet US$ 175 juta, akankah sekuelnya ini mampu mengungguli film pertamanya?

Setelah 6 tahun sejak peristiwa film pertama, Ralph dan Vanellope masih bersahabat baik. Sang gadis kini merasa bosan dengan rutinitasnya dan ingin mendapatkan tantangan baru. Ralph yang ingin menghibur Vanellope, justru sebaliknya membuat permainan balap Sugar Rush rusak hingga akhirnya dinonaktifkan. Untuk memperbaiki permainan tersebut, Ralph lalu mengajak sahabatnya pergi ke dunia internet, sebuah tempat yang ternyata jauh lebih besar dari bayangan mereka.

Kisahnya kini memang masih mengusung tema persahabatan antara dua tokoh utamanya. Namun, kali ini hubungan Ralph dan Vanellope diuji lebih jauh lagi dan sekuelnya ini mampu menampilkan kisahnya dengan cara sederhana dengan visualisasi yang sangat berkelas. Mata penonton kini amat dimanjakan dengan warna-warni dunia internet yang ditampilkan begitu memesona.

Kita tinggalkan dulu komentar soal visual, dan kembali ke Ralph dan Vanellope. Sejak awal cerita pun, kita dengan mudah masuk ke dalam dua sosok tokoh utamanya, terlebih fans film pertamanya yang memiliki ending begitu menyentuh. Chemistry kuat di antara keduanya, yang lagi-lagi dibawakan secara memukau oleh John C. Relly dan Sarah Silverman, membuat kita seolah tidak menonton film animasi. Visualisasi yang begitu gemerlap tidak lantas membuat dua sosok ini meredup, namun sebaliknya. Sejak awal, mereka nyaris tak pernah lepas dalam satu adegan pun, begitu mereka terpisah, anehnya, kita pun ikut merasakan kehilangan satu sama lain. Hubungan mereka pun, di akhir kisah kini naik tingkat dengan lagi-lagi disajikan melalui satu adegan yang menyentuh.

Baca Juga  Guardians of the Galaxy Vol.2

Rasanya belum pernah ada visualisasi film animasi sebrilian apa yang dilakukan film ini. Semua detail yang ada di internet saat ini, mampu divisualisasikan secara cerdas, Dari mesin pencarian, jual beli item game online, bahkan hingga iklan pop-up jika kita masuk sebuah situs. Semua sosial media populer pun ada di sini serta mampu menggambarkan secara jelas kebiasaan dan perilaku manusia kini terhadap sosmed dengan melakukan apapun kini hanya dengan sentuhan jari. Kita sebagai penonton, sama takjubnya dengan Ralph dan Vannelope ketika memandang dunia internet yang tersaji begitu indah dan gemerlap.

Satu lagi yang mencuri perhatian adalah ikon populer serta cameo yang muncul di film ini. Entah mungkin puluhan bahkan ratusan jumlahnya jika dicermati benar. Dalam satu momen, Vanellope dikejar pasukan stormtroopers dengan iringan score imperial March di situs Walt Disney. Kapan lagi kita bisa melihat Groot diwawancara oleh fansnya jika tidak di sini. Sosok Iron Man hingga Stan Lee pun tampil sekilas. Namun, tentu yang dominan adalah kemunculan para putri Disney, yang sudah kita akrabi sejak trailer film ini rilis. Geli rasanya melihat “putri” Vanellope bisa bernyanyi layaknya para putri dengan gaya dan passion-nya terhadap balap mobil. Penikmat film sejati dijamin bakal terpuaskan dengan ini semua.

Berbekal perpaduan kuat sisi drama, aksi, komedi, dan pencapaian visualnya, Ralph Breaks the Internet merupakan tontonan sempurna penonton segala usia melalui visualisasi menawan dunia internet serta pesan kuat tentang persahabatan. Ralph Breaks the Internet adalah sebuah pencapaian sekuel langka yang tidak hanya sangat menghibur, namun juga kita bisa belajar banyak dari dua sosok tokoh utamanya tentang apa arti persahabatan sesungguhnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaDongeng Mistis
Artikel BerikutnyaRampant
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses