raminten universe

Musik riang membahana. Sekitar 40 talent bergantian tampil di atas panggung dengan kostum yang ekstravaganza. Para penonton bersorak, menyemangati para talent yang menampilkan pertunjukan ala kabaret tersebut. Dan ini bukan pertunjukan kabaret biasa, ini adalah kabaret House of Raminten. Adegan-adegan penuh kilauan cahaya ini menjadi awalan film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret

Kamera kemudian berganti ‘menyoroti’ pendiri dan tokoh di balik House of Raminten. Ia adalah Hamzah Sulaiman yang juga mendapat gelar Kanjeng Mas Tumenggung Hamijinindyo berkat kerja kerasnya sebagai abdi dalem bertahun-tahun.

Nama Raminten sendiri melekat di dirinya karena ia dulu kerap tampil di sebuah acara komedi di stasiun teve lokal dengan kebaya dan sanggul. Nama karakternya di situ adalah Raminten.

Penonton kemudian diajak beralih perhatian ke putrinya yang bernama Ratri Septiani. Jika Hamzah adalah otak di balik House of Raminten, maka Ratri adalah juru mudinya, terutama untuk pertunjukan kabaretnya. Ia yang mengomandani, memilih peran tiap talent, dan mengatur jalannya operasional pertunjukan kabaret tersebut.

Kabaret House of Raminten yang berlokasi di Lantai 3 Gedung Hamzah Batik ini memiliki sesuatu yang unik. Pertunjukan ini sebagian besar penampilnya melakukan cross-dressing dengan membawakan tarian tradisional, lagu-lagu populer, tak lupa disisipi humor dan akrobat. Kostumnya pun ekstravaganza.
Selanjutnya film menyuguhkan satu-persatu penampil kabaret, dari pekerjaannya sehari-hari beralih ke profesinya sebagai talent di kabaret, lengkap dengan transformasi penampilan dan nama panggungnya yang unik-unik. Nama panggung ini umumnya terinspirasi dari nama selebriti terkenal, seperti Agnes Monica.

Dokumenter ini disutradarai oleh Nia Dinata yang sebelumnya juga pernah menyutradarai film dokumenter berjudul Unearthing Muarajambi Temples (2023). Sebelumnya Nia lebih banyak berkutat dengan film panjang tentang isu perempuan dan isu perkotaan. Raminten Universe: Life is a Cabaret ini diproduksi Kalyana Shira Foundation dan diproduseri Dena Rachman. Direncanakan film ini tayang reguler di bioskop pada akhir tahun 2025.

Baca Juga  Relay | REVIEW

Pesan dari film dokumenter ini tentang seni dapat menciptakan ruang aman bagi siapa saja untuk berekspresi tersampaikan dengan baik. Bukan hanya sang pendiri yang mendapat ruang untuk mengungkapkan gagasannya, tetapi juga tiap-tiap personel yang merasa aman ketika berekspresi di kabaret tersebut, meski masih ada stigma yang dilontarkan masyarakat sekitar akan pertunjukan mereka.

Di Indonesia pertunjukan kabaret seperti House of Raminten belum banyak sehingga keberadaan film dokumenter tentang kabaret ini terasa fresh. Hanya sayangnya durasi dokumenter ini sepanjang 95 menit ini terasa kepanjangan.

Hal ini dikarenakan isi dari film dokumenter ini agak monoton, kurang variatif. Isi dokumenter sebagian besar adalah keseharian personel lalu beralih ke sosok mereka di panggung beserta nama panggung. Sebagian besar diisi oleh bagian ini secara berulang. Awalnya memang menarik, tapi lama-kelamaan agak menjenuhkan karena formatnya itu-itu saja.

Sebenarnya akan lebih menarik dan lebih lengkap apabila juga ada wawancara seperti dari para penonton, tokoh masyarakat, penggiat budaya, dan komunitas cross-dresser. Mengingat tiket pertunjukan kabaret mereka rata-rata sold out pasti tanggapan penonton bakal menarik

Selain itu beberapa gambar saat pertunjukan agak gelap, suaranya kadang juga kurang jelas. Bagian atraksi yang ditampilkan rata-rata mirip-mirip. Bagian seperti pertunjukan akrobat dan komedi bisa juga lebih ditonjolkan untuk penyeimbang pertunjukan menyanyi yang dominan di film dokumenter ini.

Secara keseluruhan film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret ini unik dan segar. Apalagi bagi mereka yang belum pernah tahu akan keberadaan House of Raminten di Yogyakarta ini. Pesan seni untuk menghapus stigma tersampaikan meski penyajian isinya masih relatif kurang variasi.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHighest 2 Lowest | REVIEW
Artikel BerikutnyaA Big Bold Beautiful Journey | REVIEW
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses