Real Steel (2011)

127 min|Action, Drama, Sci-Fi|07 Oct 2011
7.1Rating: 7.1 / 10 from 358,481 usersMetascore: 56
In the near future, robot boxing is a top sport. A struggling ex-boxer feels he's found a champion in a discarded robot.

Pada tahun 2020 dikisahkan olahraga tinju digantikan oleh robot. Seorang mantan petinju, Charlie Kenton (Jackman) mencari penghasilan dengan robotnya namun selalu gagal. Ia kini juga harus merawat sementara putranya, Max (Agoyo), anak dari mantan pacarnya yang baru saja meninggal. Secara tak sengaja Max dan Charlie menemukan sebuah robot di tempat rongsokan dan ia membawanya pulang. Robot bernama Atom tersebut ternyata masih berfungsi normal dan dengan sedikit modifikasi oleh Max, robot ini diubah menjadi robot petinju. Setahap demi setahap Atom mampu merubah hidup Charlie dan Max melebihi apa yang mereka impikan.

Perpaduan unik antara genre olahraga, drama keluarga, dan fiksi ilmiah. Plotnya banyak mengingatkan pada, yang menjadi standar plot genre olahraga: from hero to zero. Sekalipun plotnya mudah sekali diprediksi namun sisi dramatik kisahnya yang mengharukan sedikit banyak menolong filmnya. Di sisi lain juga ada bagian cerita yang dirasa terlalu cepat, yakni ketika disajikan sepak terjang Atom sejak awal hingga menjadi populer (disajikan menggunakan teknik montage sequence). Dari sisi perjuangan Atom dari nol hingga menjadi dikenal ini memang efektif namun sisi dramatik kedekatan antara ayah dan anak menjadi sedikit lepas disini.

Disamping unsur dramatik, nilai lebih film ini jelas pada visualisasi (CGI) robot-robot petarung yang disajikan dengan sangat meyakinkan. Aksi-aksi pertarungan seru di arena disajikan begitu menawan dan tampak sangat nyata, sama seperti halnya film fiksi ilmiah populer, Transformers. Kekuatan lain ada pada penampilan akting Hugh Jackman dan aktor cilik, Dakota Agoyo. Agoyo tampil mencuri perhatian ketimbang Jackman sendiri. Penampilan akting mereka mampu menjaga chemistry diantara keduanya yang terjalin dengan manis sepanjang film. Musik bernuansa rock dan hip hop juga menjadi faktor pendukung yang kuat, sekalipun sentuhan Elfman sendiri sama sekali tidak tampak disini. Settingnya, terutama arena pertarungan, unik dan sangat pas yang menggabungkan aroma western, post modern, bahkan hingga bekas kebun binatang.

Baca Juga  Brut Force

Real Steel tidak hanya menawarkan aksi-aksi para robot belaka, namun juga sisi dramatik yang kuat dan mengharukan. Kehangatan hubungan antara ayah dan anak menjadi sentuhan manusiawi di antara mesin-mesin mekanik yang tengah beraksi. Film ini rasanya adalah film terbaik yang mampu memadukan dengan apik, genre olahraga, drama, serta fiksi ilmiah. Tidak seperti tiga seri Transformers, Real Steel menawarkan lebih dari hanya sekedar hiburan semata.

 

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
85 %
Artikel SebelumnyaDari mOntase
Artikel BerikutnyaMata Tertutup
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.