Reservoir Dogs (1992)
99 min|Crime, Drama, Thriller|02 Sep 1992
8.3Rating: 8.3 / 10 from 930,834 usersMetascore: 79
When a simple jewelry heist goes horribly wrong, the surviving criminals begin to suspect that one of them is a police informant.

Reservoir Dogs (1992) adalah film kriminal yang merupakan debut sutradara tersohor, Quentin Tarantino. Bermain dalam film ini adalah bintang-bintang kelas dua, seperti Harvey Keitel, Michael Madsen, Tim Roth, Steve Buscemi, Chris Penn, serta Tarantino sendiri. Sekalipun tidak sukses komersil namun film ini banyak dianggap pengamat sebagai salah satu film independen terbaik dan merupakan terobosan besar bagi perkembangan film independen selanjutnya.

Inti plot Reservoir Dogs sederhana sekali. Seorang gembong mafia, Joe Cabot berniat merampok sebuah toko berlian. Cabot kemudian merekrut beberapa orang yang sebagian besar sudah ia kenal baik, diantaranya, Mr. White (Keitel), Mr. Pink (Buscemi), Mr. Orange (Roth), Mr. Blonde (Madsen), serta Mr. Brown (Tarantino). Cabot mempercayakan putranya, “Nice Guy” Eddie (Penn) sebagai tangan kanannya di lapangan. Pada hari perampokan ternyata segalanya berjalan tidak sesuai rencana. Mr. White bersama Mr. Orange yang tertembak pergi ke sebuah gudang yang menjadi tempat kumpul mereka setelah perampokan. Mr. Pink tak lama datang dan menuduh seseorang diantara mereka adalah mata-mata polisi. Tak lama Mr. Blonde datang semakin memperkeruh suasana dengan menculik seorang polisi.

Dalam film debutnya ini, Tarantino telah menggunakan beberapa formula unik yang menjadi trademark-nya kelak. Dapat kita lihat bagaimana ia bermain-main dengan unsur cerita melalui pola cerita non-linier. Tidak seperti film kriminal lazimnya, aksi perampokan yang menjadi kunci cerita justru sama sekali tidak diperlihatkan pada penonton. Alur cerita utama justru terfokus pada peristiwa setelah aksi perampokan terjadi. Tarantino menggunakan pola nonlinier dengan memotong kisah utamanya dengan tiga kisah, yakni “Mr. White”, “Mr. Blonde”, dan “Mr. Orange”. Masing-masing kisah pendek tersebut memperlihatkan latar-belakang tokoh yang bersangkutan. Uniknya dalam masing-masing kisah tersebut juga memperlihatkan beberapa penggal kejadian setelah aksi perampokan terjadi. Sekalipun dalam durasi waktu cerita yang pendek, lokasi cerita terbatas, serta pelaku cerita yang berjumlah banyak (masing-masing memiliki karakter yang unik) namun Tarantino secara efektif masih mampu mengemas cerita dengan gayanya yang khas dengan memberikan kejutan-kejutan yang tidak bakal kita duga sebelumnya.

Baca Juga  Film, Yahudi, dan Kita

Kemasan cerita yang unik ternyata mampu diimbagi pula oleh Tarantino dengan sentuhan estetiknya yang khas. Satu hal yang paling dominan adalah “sense of humor” Tarantino melalui dialog-dialog tempelannya yang khas, spontan, cuek, konyol, serta kadang menyebalkan. Dialog-dialog tersebut seolah “tak berguna” dan sama sekali tidak berhubungan langsung dengan cerita utamanya. Coba simak seperti pada adegan pembuka, para pelaku justru berdebat masalah lagu Like a Virgin (Madonna), serta masalah tip. Coba simak adegan ketika bos Cabot tengah menjelaskan rencana perampokan justru Mr. Pink berdebat masalah nama alias mereka. Satu adegan lagi yang juga menjadi ciri Tarantino adalah penggunaan aksi kekerasan yang vulgar. Cipratan darah dimana-dimana dan patut dicatat adalah ketika adegan Mr. Blonde menyiksa sang polisi muda. Sejak Reservoir Dogs, Tarantino juga menggunakan lagu dan musik 70-an yang kelak menjadi ciri khasnya. Reservoir Dogs merupakan film kriminal gaya baru (modern) yang kelak banyak menginspirasi puluhan film lainnya termasuk juga film-film Tarantino sendiri.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaJackie Brown, Momen Tarantino Menyempurnakan Hat-Trick
Artikel BerikutnyaQuentin Tarantino
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.