Buñuel in the Labyrinth of the Turtles

Mystery is the essential element of every work or art” – Luis Buñuel

Batas antara mimpi dan dunia riil terasa tipis dalam film surealis. Dalam genre ini ada nama-nama seperti Germaine Dulac, Salvador Dali, dan Luis Buñuel yang menjadi pionir. Dalam film animasi berjudul Buñuel in the Labyrinth of the Turtles (2018), penonton diajak untuk menyelami konflik yang terjadi selama Buñuel membesut salah satu karya masterpiece-nya yang unik.

Hasil kerja kerasnya bersama Salvador Dali rupanya tak mendapat tanggapan seperti yang diharapkannya. Film debutnya, L’Age d’Or, dianggap kontroversial. Ia pun kesulitan mendapatkan pendanaan untuk membuat film anyar.

Hingga suatu ketika Maurice, seorang antropolog, menyarankannya membuat dokumenter tentang Las Hurdes, sebuah kawasan termiskin di Spanyol masa itu. Berkat sokongan dana dari kawannya, Ramón Acín, Buñuel pun menuju La Alberca, pintu masuk menuju kawasan tersebut. Apa yang ditemuinya memberinya ide untuk menghasilkan gambar-gambar yang tak biasa.

Unsur Dark Comedy dan Surealis yang Membuat Penonton Menghela Napas

Tak mudah menikmati animasi yang dibesut oleh Salvador Simó ini. Beberapa kali saya menghela napas dan memicingkan mata, karena tidak tahan melihat cara-cara ekstrem yang dilakukan Buñuel untuk mendapatkan gambar yang sesuai dengan imajinya.

Animasi biografi ini sepertinya tak dibuat untuk semua penonton. Oleh karena si sutradara berupaya dengan jujur dan apa adanya untuk menerjemahkan novel Buñuel en el laberinto de las tortugas karya Fermín Solís ke bahasa gambar animasi. Beberapa adegannya terasa seperti mimpi buruk dan kalian ingin segera terbangun dari mimpi tersebut.

Apabila ada beberapa adegan yang membuat kalian seperti frustasi, maka kalian bisa memahami perasaan kawan dan kru yang mengikuti proses syuting dalam Buñuel in the Labyrinth of the Turtles. Konflik selama proses syuting, konflik dalam diri Buñuel, juga situasi politik di Spanyol era 1930-an yang kompleks dikemas jadi satu dalam film tersebut dengan porsi yang pas. Bagian yang tragis dalam film ini juga bisa jadi membuat kalian tersentil, sebuah dark comedy.

Dari sisi visual, animasi produksi Spanyol ini memiliki ciri khas tersendiri dari desain karakter, desain latar, dan juga pewarnaannya. Warna-warni dalam animasi ini pucat dan terasa suram, sesuai dengan kondisi kota yang seisinya tampak begitu muram. Sebaliknya, skoring dalam film yang dikomandani Arturo Cardelús ini terasa megah dan misterius. Saya sampai mencarinya di aplikasi streaming musik dan masih terkesima mendengarnya. Coba dengarkan nomor Laberinto dan Salvador Dali!

Baca Juga  Sinema Ekspresionisme Jerman

Bagian menarik dari animasi ini ketika pikiran bawah sadar Buñuel berkelana. Ia membayangkan gajah berparade dengan egrang dan dikepung oleh sejumlah pintu yang tertutup. Kemudian juga ada beberapa adegan pengambilan gambar yang dilakukan kru yang kemudian dibandingkan dengan hasil gambar secara nyata setelah film tersebut sukses tayang.

Lewat animasi ini penonton akan bisa lebih mengenal sosok Luis Buñuel tersebut. Saat ia masih kecil, keluarganya, dan traumanya. Nama Buñuel memang tak sepopuler John Ford, Alfred Hitchcock, Stanley Kubrick, dan Ingmar Bergman, sutradara-sutradara yang satu masa dengannya. Namun Buñuel dianggap salah satu tokoh legendaris di kancah perfilman yang sangat berperan dalam sejarah seni sinema.

Buñuel lewat kecintaannya terhadap gambar-gambar, tak memberikan batasan apakah gambar adalah buah pikiran bawah sadar, sekadar simbol-simbol dalam alam mimpi, atau sesuatu yang riil.  Ia tak terlalu berlaku kepada cerita yang linear dan logis. Gambar-gambar yang seperti mimpi juga bisa diintepretasi tersendiri.

Ia kemudian memberikan landasan dan pondasi seni yang unik dalam genre film surealis. Ada banyak film dan serial sukses dengan unsur surealis seperti Twin Peaks, Mulholland Drive, Blue Velvet,  Donnie Darko, dan I’m Thinking of Ending Things.

Film animasi ini bisa dinikmati di platform KlikFilm. Jangan berekspektasi. Selama 80 menit, nikmati saja perjalanan berkenalan dengan tokoh legendaris pemberi pijakan genre surealis ini.

 

Artikel SebelumnyaThe Swimmers
Artikel BerikutnyaWednesday
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.