Revenant adalah seri drama Korea Selatan bernuansa horor yang ditulis oleh Kim Eun-hee yang juga menulis seri horor populer Kingdom. Seri rilisan Disney + bertotal 12 episode ini berdurasi rata-rata 60 menit lebih. Film ini dibintangi oleh Kim Tae-ri, Oh Jung-se, Hong Kyung, serta beberapa bintang lokal lainnya. Film-film horor produksi Korea Selatan kita kenal seringkali menggunakan elemen dan budaya lokal mereka. Akankah seri ini mampu memberikan satu sajian yang berbeda dari seri dan film horor Korea Selatan lainnya?

Seorang gadis muda, Gu San-yeong (Tae-ri) mendadak mendapat berita kematian tentang ayahnya yang selama ini disembunyikan identitasnya oleh sang ibu. Ayahnya ternyata adalah seorang profesor ahli cerita rakyat (folklore) yang tewas secara tak wajar. San-yeong menerima sebuah titipan dari sang ayah berupa jepit rambut yang rupanya membuka mata batinnya. Sejak momen itu, sang gadis kerasukan entitas jahat yang mengontrol tubuh dan pikirannya untuk melakukan aksi pembunuhan tak wajar. Di tempat lain, seorang profesor muda, Yeom Hae-sang (Jung-se) mendapat pesan dari ayah San-yeong untuk melindungi putrinya. Perkara yang awalnya terlihat sebagai pembunuhan biasa, rupanya terkait dengan belasan pembunuhan tak wajar yang terjadi sejak tahun 1950-an. Semua petunjuk mengarah ke satu perusahaan besar yang dipimpin dan dimiliki oleh nenek Hae-sang.

Plot bertotal lebih dari 12 jam ini terhitung rumit dan kompleks. Informasi demi informasi dan petunjuk, datang silih berganti begitu cepat dalam tiap episodenya. Satu kasus muncul beralih cepat menuju kasus lainnya. Satu pertanyaan belum terjawab, pertanyaan lain seketika muncul. Penggunaan segmen kilas-balik yang demikian intensif, juga membuat semakin tidak mudah mencerna plotnya. Belum lagi, ranah supernatural tidak mengenal nalar dan logika manusia. Hal-hal ini yang menjadikan seri ini begitu melelahkan untuk ditonton. Penikmat film yang terbiasa dengan plot macam ini bisa jadi bakal mampu mengambil inti cerita, namun mustahil tidak melewatkan satu petunjuk kecil tanpa mengulang menonton serinya.

Plotnya secara umum dibagi menjadi tiga segmen berdasarkan tokoh utamanya, yakni San-yeong, sang profesor muda, dan tim detektif dari kepolisian. Sepanjang seri, tiga segmen ini disajikan secara bergantian dan simultan, didominasi aksi investigasi untuk menguak misteri pembunuhan berantai dan dalang di balik semuanya. Kadang, San-yeong melakukan investigasi bersama sang profesor, atau sang profesor bersama tim detektif, bagitu sebaliknya. Kolaborasi San-yeong dan sang profesor tercatat paling beragam dan dinamis karena mereka adalah dua sosok kunci kisahnya. Selipan kilas-balik pasti digunakan dalam tiap segmennya, kadang menjawab satu misteri, kadang justru membuka misteri baru. Satu adegan penting dalam episode pertengahan, ketika tim detektif berusaha merangkum semua pembunuhan dalam satu papan tulis, sangat membantu kita merangkum jejak plot sebelumnya.

Baca Juga  The Occupant

Plotnya mulai terarah sejak episode 8 hingga final. Plot investigasi mulai terfokus untuk mencari identitas sang hantu dan mencari lima benda yang jika disegel dianggap mampu memusnahkan roh jahat tersebut. Kejutan demi kejutan terjadi menjelang klimaks, memberi bumbu menarik dalam kisahnya. Klimaks pun berakhir memuaskan sekalipun motif sang roh jahat masih menjadi pertanyaan. Sebenarnya, ia hanya tumbal atau memang arwah penasaran yang dimanfaatkan sang dukun untuk melanggengkan kekayaan pengguna jasanya? Apa keuntungan bagi sang entitas ketika membunuh para tumbalnya jika ia sendiri bisa melalukan apa pun yang ia mau? Ini yang masih mengganjal.

Jika Revenant disebut bergenre horor murni, rasanya kurang tepat. Tidak banyak adegan menyeramkan yang bisa dirujuk karena “jump scare”-nya nyaris nihil. Tak ada sosok seram berwajah menakutkan di sini. Sisi seramnya justru dibangun oleh teror dari sang hantu yang mampu mengontol pikiran para korbannya. Bayang-bayang roh jahat San-yeong dengan rambutnya yang tegak berdiri cukup membuat kita bergidik. Sisi ketegangan dan misteri justru dibangun melalui sisi investigasi yang kerap diselipkan aksi roh jahat memangsa korbannya. Ilustrasi musiknya membantu membangun ketegangan adegannya walau eksekusinya terkadang terlalu berlebihan. Jika saja seri ini lebih ringkas, bisa jadi kisahnya berjalan efektif, dan sisi horornya bisa lebih dominan.

Revenant merupakan horor misteri yang memadukan elemen horor dengan sisi investigasi yang kompleks melalui kekuatan elemen lokalnya. Satu catatan menarik seri ini adalah kemiripannya dengan konsep budaya lokal yang kita kenal di Jawa, seperti “ketempelan” dan pesugihan. Dalam Revenant konsep ini dikembangkan demikian kompleks dengan penggambaran yang mendetil. Elemen lokal lainnya tersaji pula seperti tradisi/upacara tolak bala, portal dunia arwah dan manusia, jimat penghalang roh jahat, dan banyak sekali lainnya. Hal-hal semacam ini yang menjadi pembeda antara horor Asia dengan Barat. Revenant adalah satu contoh ideal yang bisa ditiru para pembuat film horor kita untuk memadukan elemen lokal dan modern dengan cara berkelas, tanpa mengorbankan tradisi dan nilai-nilai luhur budayanya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaSympathy for the Devil
Artikel BerikutnyaSmugglers
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.