Saat seorang atlet berhasil mendapat medali emas untuk negerinya dan orang-orang dari berbagai penjuru dunia mengetahui itu, hal pertama yang tebersit dalam benak adalah bagaimana perjalanan dan perjuangan sang atlet tersebut. Inilah yang diupayakan oleh Lola Amaria selaku sutradara dengan naskah yang ditulis oleh Sinar Ayu Massie dalam film berjudul 6,9 Detik. Film drama biografi ini diproduksi oleh Federasi Panjat Tebing dan Lola Amaria Production, dengan para pemerannya adalah sang atlet langsung, yakni Aries Susanti Rahayu; lalu Ariyo Wahab, Kayla Ardianto, Brilliana Arfira, Rukman Rosadi, Maryam Supraba, dan sejumlah atlet asli yang memerankan karakter masing-masing.

6,9 Detik adalah kisah perjuangan seorang atlet peraih medali emas cabang Panjat Tebing dalam Asian Games 2018, Aries Susanti Rahayu. Film ini menceritakan perjalanan yang harus ditempuh oleh Ayu sejak masih berusia anak-anak dalam dunia atletik, dengan karakteristiknya yang berani, nekat, takut kalah, bahkan lebih senang disebut sebagai laki-laki. Namun, di balik semua itu, keinginannya hanyalah dapat diakui oleh orang-orang di sekitarnya, serta mendapat dukungan langsung dari ibunya (Brilliana Arfira), yang sulit menyertai tumbuh kembang sang putri karena harus bekerja sebagai TKW di Timur Tengah.

Untuk film biografi berdurasi 1 jam 18 menit, 6,9 Detik sangat berfokus pada “batu-batu loncatan” sang atlet, tanpa ingin membiarkan sisi lain dari aktivitasnya, mengambil alih perhatian penonton dari konflik utama sang atlet. Dengan batasan durasi yang pendek dan tensi perpindahan dari satu segmen ke segmen lain yang cepat, film ini memacu ketegangan penonton setiap kali sang tokoh harus beraksi sejak masih anak-anak dalam lomba lari hingga berhasil masuk di Pelatda (Pusat Pelatihan Daerah) Panjat Tebing. Satu hal yang terasa benar-benar ditekankan oleh film ini adalah jalan cerita selalu berpusat pada seputar perjuangan sang atlet dalam latihan panjat tebing. Satu-dua peristiwa berbeda yang menjadi aktivitas lain dari sang atlet hanya muncul sekilas.

Pemampatan durasi dengan tensi cepat yang saling memburu inilah yang lalu menjadi celah bagi 6,9 Detik. Penonton beberapa kali terlambat memahami latar belakang dari sejumlah tokoh lain. Kadang seolah mereka muncul di dalam satu bagian plot dan kadang menghilang. Penonton terus dibuat meraba-raba, kecuali sosok Aries. Hingga pada akhir cerita, semua terjelaskan melalui narasi dan deskripsi tentang orang-orang yang punya peran penting di belakang Ayu.

Baca Juga  Boven Digoel

Kendati demikian, sisi akting dalam 6,9 Detik terasa kuat karena atlet-atlet tersebut diperankan langsung oleh para atlet aslinya. Tentu, ini menambah tensi dramatiknya ketika melihat momen-momen terendah, perjuangan, dan kebangkitannya karena mereka telah mengalaminya sendiri.

Tidak banyak aspek teknis berupa warna, cahaya, dan busana yang menonjol. Hanya saja, kerja sama apik antara ilustrasi musik, sudut pengambilan gambar, dan dominasi pergerakan dinamis mengikuti pergerakan para kasting yang sedang berlari maupun memanjat tebing. Lalu pemotongan gambar dramatik khas film biografi dari seorang atlet maupun olahragawan memacu adrenalin dan menumbuhkan semangat dalam benak penontonnya. Hal in tentu juga dipengaruhi ingatan kita yang masih segar akan pencapaian sang atlet pada Asian Games 2018.

Tak jauh berbeda dengan film biografi dari tokoh-tokoh kita selama ini. Mengangkat kisah hidup dan bagaimana perjuangan mereka akan selalu memantik sisi drama tersendiri. Selain itu, 6,9 Detik pun menawarkan aspek lain melalui sisi lokalitas daerah asal sang atlet, yakni Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah. Hal-hal di sana masih menjadi daya tarik tersendiri, melihat kultur daerah pedesaan dengan kebiasaan dan moralitas di dalamnya yang sedikit-banyak menggambarkan latar belakang masa anak-anak sang atlet di kampung halamannya.

6,9 Detik tak banyak membiarkan cerita berjalan dengan terlalu banyak basa-basi. Film ini adalah kisah menarik perjuangan seorang atlet wanita cabang olahraga panjat tebing yang berhasil mendapat medali emas dalam Asian Games 2018, sekaligus memecahkan rekor tercepat dunia dengan raihan 6,9 detik. Ayu harus membuktikan banyak hal dengan latar belakang keluarga, ekonomi, serta gender yang tidak terlalu menjanjikan untuk akhirnya dapat diakui dan tidak dianggap remeh oleh orang lain.

Miftachul Arifin

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaDanur 3 : Sunyaruri
Artikel BerikutnyaJoker
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.