7500 (2019)
93 min|Action, Drama, Thriller|18 Jun 2020
6.3Rating: 6.3 / 10 from 34,203 usersMetascore: 58
When terrorists try to seize control of a Berlin-Paris flight, a soft-spoken American co-pilot struggles to save the lives of the passengers and crew while forging a surprising connection with one of the hijackers.

7500? Bukan judulnya yang ternyata sederhana, namun kisah dan setting cerita pun teramat sederhana. 7500 [2019) adalah film aksi thriller arahan Patrick Vollrath yang merupakan debut film feature-nya. Film ini dibintangi aktor populer, Joseph Gordon-Levitt serta beberapa aktor dan aktris Jerman yang menjadi pendukung. 7500 adalah kode bagi penerbangan berawak ketika dalam sebuah pesawat terjadi situasi pembajakan.

Satu penerbangan komersil bertolak dari Berlin menuju Paris. Tokoh utama kita, Tobias Ellis (Levitt) adalah kopilot dalam penerbangan tersebut bersama sang pacar, yang juga pramugari di sana. Pesawat tinggal landas dengan sukses, namun berselang menit, sekelompok teroris mencoba mengambil-alih kokpit. Sang pilot dan kopilot berusaha mati-matian untuk mempertahankan kokpit. Tobias akhirnya mampu mengendalikan situasi, namun di belakang sana, penumpang dan awak kabin harus berhadapan dengan teroris yang brutal.

Kisah bencana di pesawat macam ini memang tidak lagi baru, contohnya saja baru lalu, The Captain yang mampu menyajikan ketegangan tanpa henti. Kisah pembajakan penerbangan komersial pun juga sudah beberapa kali di angkat dengan sangat baik, misal saja United 93 hingga film India, Neerja. Belum lagi film-film aksi mainstream, macam Passenger 57, Executive Decision, hingga Snakes on a Plane.

7500 memang menawarkan sesuatu yang unik, yakni melalui setting terbatas dan pendekatan realismenya. Kisah filmnya hanya berjalan di satu tempat sempit saja dan tidak pernah beranjak dari sana, yakni dalam kokpit pesawat. Menonton film ini, layaknya menonton film dokumenter melalui pendekatan kamera handheld serta penuturan “realtime” (nonstop tanpa jeda) sehingga seolah semua yang terjadi adalah kejadian sesungguhnya. Kombinasi elemen-elemen tersebut mampu menyajikan sebuah ketegangan maksimal tanpa bisa kita antipasi apa yang bakal terjadi. Hanya saja, pada segmen penutup menurun banyak tensinya, terkesan berlama-lama dengan tidak banyak pengembangan cerita yang terjadi.

Baca Juga  Twilight, Kisah Cinta Sejati antara Manusia dan Vampir

7500 adalah film thriller ber-setting minimalis dengan ketegangan maksimal didukung pendekatan estetik yang realis serta penampilan memukau dari sang bintang. Levitt seolah bermain solo di sini dengan tanpa banyak lawan main sepanjang film, namun performanya memang luar biasa menampilkan seorang kopilot dalam situasi tertekan secara fisik dan mental, namun sekaligus memiliki kepercayaan diri dan ketenangan luar biasa. Pujian tentu saja juga ditujukan kepada sang sineas, Patrick Vollrath, sekalipun kisahnya fiktif, namun pendekatan yang ia lakukan sungguh mampu membuat kisahnya menjadi sangat meyakinkan seolah sungguh terjadi.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaDefending Jacob
Artikel BerikutnyaThe High Note
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses