Abe (2019)
85 min|Comedy, Drama|17 Apr 2020
6.2Rating: 6.2 / 10 from 2,355 usersMetascore: 62
With the help of a Brazilian chef, a 12-year-old boy who dreams of being a cook tries to find the ideal recipe to break down the cultural barriers that divide his half Israeli and half Palestinian family.

Abe digarap oleh sineas asal Brazil Fernando Grostein Andrade, yang sebelumnya banyak menggarap film seri televisi dan dokumenter. Film ini dimainkan oleh bintang cilik pemain seri Stranger Things, Noah Schnapp, serta Seu Jorge, Mark Margolis, Dagmara Dominczyk, dan Arian Moayed. Drama komedi ringan yang  bertema tentang kuliner memang bukan satu hal baru dalam medium film, namun film ini mampu menyajikan ini dengan isu sensitif agama. Menarik memang untuk dibincangkan.

Film ini mengetengahkan kisah remaja tanggung di tengah dilemanya terhadap identitas kepercayaannya. Abe (Schnapp) adalah seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang berbeda dengan rekan sebayanya, yakni hobi kuliner dan memasak. Pada liburan panas kali ini, sang bocah didaftarkan ibunya untuk mengikuti cooking summer camp di kotanya. Tanpa sepengetahuan ayah ibunya, Abe diam-diam bekerja sambilan pada satu resto Brazil milik Chico (Jorge). Sang bocah sendiri adalah anak keturunan Muslim dan Yahudi, di mana sang kakek dan neneknya, termasuk orang tuanya, selalu membuatnya tertekan dengan pandangan tentang agama mereka masing-masing.

Rasanya, film dengan adonan campuran antara religi dan kuliner, baru kali ini saya tonton. Bagaimana ini bisa? Abe yang doyan masak, mengkombinasikan masakan muslim dan yahudi sebagai usahanya untuk mendamaikan semua. Apakah Abe berhasil? Awal kisahnya sudah disajikan secara rapi dan menarik. Hanya melalui satu adegan di meja makan, perseteruan abadi antar kepercayaan disajikan begitu efektif melalui dialog-dialognya. Kadang memang terlihat memaksa. Apa mereka tidak lelah, beradu mulut hanya masalah itu-itu saja? Solusinya, tentu kita berekspektasi tinggi pada sosok Abe. Tak disangka, sajian “menu” akhirnya terasa hambar, jauh dari semua makanan yang tersaji demikian menggugah selera. Kalian yang gemar memasak, wajib menonton ini. Ini sungguhan.

Baca Juga  Herself

Abe mencoba mengemas tema keberagaman religius dengan cara yang segar dan unik, melalui kuliner, namun eksekusi akhir terasa kurang menggigit seperti apa yang dijanjikan sajian lezatnya. Harmoni. Tentu ini yang diharapkan sebagai tujuan akhirnya dan itu memang tampak pada permukaan luarnya. Namun, kisahnya tak memberi pukulan yang lebih dalam untuk bisa menjawab isu ini lebih jauh. Abe memang masih terlalu muda dan naif untuk bisa menjawab tantangan dan realita hidup yang pahit. Setidaknya, film ini sudah mencoba menawarkan solusi efektif untuk ini, yakni es lolipop.

Stay Safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaWendy – English
Artikel BerikutnyaAbe – English
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.