All the Bright Places (2020)
107 min|Drama, Romance|28 Feb 2020
6.6Rating: 6.6 / 10 from 38,802 usersMetascore: 61
The story of Violet and Theodore, who meet and change each other's lives forever. As they struggle with the emotional and physical scars of their past, they discover that even the smallest places and moments can mean something.

All the Bright Places adalah film roman remaja yang diadaptasi dari novel karya Jenniver Niven. Niven pun ikut menulis naskah filmnya yang disutradarai oleh Brett Haley. Film yang didistribusikan oleh Netflix ini dimainkan oleh bintang muda Elle Fanning serta Justice Smith. Fanning pun turut memproduseri film ini. Kontras dengan kesan dari judulnya, film ini justru mengambil tema yang tak lazim untuk genrenya dengan tone kisah yang gelap.

Finch (Smith) yang tengah olahraga pagi menjelang fajar, bertemu dengan Violet (Fanning) yang berdiri di atas tembok bibir jembatan sambil menatap jauh ke bawah. Finch yang melihat niat buruk sang gadis, berusaha menghampirinya dan dengan caranya berhasil membuat sang gadis untuk turun. Setelah peristiwa ini, mereka pun akhirnya saling curhat dan dekat satu sama lain. Dalam perkembangan, Violet akhirnya menyadari bahwa Finch rupanya jauh lebih bermasalah ketimbang dirinya.

Tak banyak film roman atau melodrama remaja yang mengangkat kisah trauma mental macam ini. Musik riang atau adegan romantis yang lazim di genrenya, tak banyak muncul. Sang gadis pun nyaris sepanjang film berekspresi murung, seolah adalah gadis paling menderita di muka bumi. Seperti dalamnya trauma Violet, tempo kisahnya berjalan lambat bahkan pada adegan “ceria” sekali pun, entah mengapa tone filmnya masih tampak muram. Dalam satu momen, sang gadis akhirnya tersenyum, seolah penonton bakal menebak arah kisah selanjutnya seperti roman lazimnya. Namun, problem rupanya bukanlah pada Violet. Hidup kadang tak seindah kata-kata kutipan Violet dan Finch. Film ini adalah pelajaran besar buat sang gadis tentang kehidupan dan bagi kita semua yang tengah atau pernah mengalami trauma berkepanjangan.

Baca Juga  Xtreme

Tidak seperti roman remaja lazimnya, All the Bright Places berani menawarkan tema gelap tentang gangguan mental remaja dengan penampilan memukau dari dua bintang utamanya. Fanning dan Smith jelas adalah bintang dalam film ini. Fanning dengan kepiawaiannya berakting, seperti kita tahu sebelum-sebelumnya, memang tinggal menanti waktu untuk menjadi aktris papan atas. Smith yang juga sudah bermain dalam film-film besar, tinggal menanti peran yang pas untuk meluncurkan karirnya. Film-film mainstream jarang sekali berani mengambil resiko macam ini dengan lebih mengutamakan sisi hiburan  ketimbang pesan filmnya. Media streaming rupanya menjadi alternatif untuk membuat film yang mampu menyampaikan pesannya secara lebih personal.

Kasus Violet dan Finch rasanya sama dengan situasi kita saat ini. Social distancing seperti sebuah shock terapy, seperti halnya Violet yang melakukan “social distancing”. Jika bisa belajar, kini mestinya kita bisa lebih menyadari banyak hal nyata di sekitar kita yang harus kita pedulikan dan siapa yang benar-benar peduli dengan kita, ketimbang berjam-jam ber-medsos menatap layar handphone yang menjauhkan kita (sosial distancing) dengan realitas.

Even the ugliest of places can be beautiful as long as you take the time to look.   

Stay healthy and safe!

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Hunt
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek mOntase: The Sacred of Kudus
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.