Ambulance (2022)
136 min|Action, Crime, Drama|08 Apr 2022
6.1Rating: 6.1 / 10 from 97,324 usersMetascore: 55
Two robbers steal an ambulance after their heist goes awry.

Michael Bay kini kembali setelah dua tahun absen mengarahkan film. Sineas spesialis aksi ini kini menggarap satu lagi genre aksi thriller, Ambulance. Film ini adalah remake dari film aksi produksi Denmark bertitel sama tahun 2005. Film ini dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Yahya Abdul-Mateen II, dan Elsa Gonzales. Era emas Bay rasanya telah lewat, namun melalui Ambulance, rupanya masih membuktikan bahwa ia masih memiliki sentuhan khas yang sama.

William (Mateen) yang merupakan saudara angkat Danny (Gyllenhaal), memiliki masalah uang untuk membayar biaya operasi istrinya sebesar USD 231.000. Will pun meminta bantuan Danny, namun ia justru diajak untuk merampok bank dengan target USD 32 juta. Tak ada pilihan, Will pun terpaksa ikut. Saat perampokan, sesuatu yang tak terduga terjadi, mereka berdua terpaksa menyandera sebuah ambulan yang berisi seorang perawat, Cam (Gonzales) dan seorang polisi yang tertembak. Aksi kejar-mengejar seru pun terjadi.

Masih ingat aksi kejar-mengejar mobil dalam Bad Boy dan The Rock, bisa jadi ini menginspirasi Bay untuk membuat satu film utuh yang hanya berisi sekuen aksi ini. Nyaris 80% dari total durasi filmnya (136 menit) berada dalam ambulan yang bergerak. Melelahkan? Ya. Menghibur? Dalam beberapa momen ya. Apa yang kita harapkan dari Michael Bay untuk aksi macam ini, semua ada di sini; aksi nonstop tanpa henti, handheld camera yang kasar, drone shot yang membuat kepala pening, editing cepat, hingga teknik khasnya, low-angle shot. Ilustrasi musik menghentak komposer Lorne Balfe menjadi satu pencapaian menonjol yang mendukung penuh tiap adegannya.

Baca Juga  Copshop

Beberapa selipan humor garing ala sang sineas juga tersaji, yang baru kali ini rasanya saya dengar menggunakan referensi dari film-film Bay sendiri. Tak perlu berharap banyak dari sisi cerita, di mana adegan/aksi tak masuk akal pun (operasi medik menggunakan jepit rambut!) hanya bisa ada dalam film-film garapan sineas ini. Jika kamu familiar dengan film-filmnya, arah plotnya pun tak sulit ditebak. Tak banyak kejutan cerita berarti karena semua pernah ada sebelumnya.

Apa yang kamu harapkan dari Michael Bay? Nonstop car-chase, tembak-menembak, ledakan bom, mobil berjumpalitan, Ambulance menyajikan semua tanpa tidak perlu berharap apapun dari kisahnya. Bagi fans lama sang sineas, setidaknya bakal terhibur melalui aksi-aksi cepatnya yang disajikan dinamis. Bay memang belum kehilangan sentuhannya sama sekali dan masih tercatat sebagai sineas aksi yang handal. Walau masih ada sentuhan moral dalam kisahnya, namun belum mampu mengangkat kisah dan adegannya yang seringkali over dramatik. The Rock (1996), bagi saya, hingga kini masih menjadi film terbaik sang sineas.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaTurning Red
Artikel BerikutnyaWindfall
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.