Army of Thieves adalah prekuel dari Army of the Dead yang rilis tahun lalu. Film ini diarahkan oleh Matthias Schweighofer yang juga bermain sebagai tokoh utamanya, Sebastian alias Ludwig Dieter. Film yang dirilis Netflix ini dibintangi pula oleh Nathalie Emmanuel, Guz Khan, Roby O. Fee, serta Jonathan Cohen dengan diproduseri sang kreator, Zack Snyder. Apakah film ini tampak mengekor sukses Army of the Dead, jawabnya jelas iya, namun secara mengejutkan Army of Thieves memiliki banyak kelebihan.

Plot film ini berkisah enam tahun sebelum peristiwa Army of the Dead, di mana wabah zombi untuk pertama kali muncul di Las Vegas. Film ini mengisahkan latar belakang satu sosok penting dalam Army of the Dead yakni Ludwig Dieter, sang ahli pembobol brangkas. Dikisahkan Sebastian (Schweighofer), nama asli Dieter, terobsesi dengan brankas klasik buatan mendiang Hans Wagner. Tanpa diduga, satu kelompok perampok bank, yang diinisiasi Gwendoline (Emmanuel) mengetahui keberadaan tiga brankas tersebut dan berniat membobolnya dengan bantuan Sebastian. Sebastian pun tidak menolak tawaran menggiurkan ini.

Plotnya memang tipikal genre aksi kriminal “perampokan bank”. Semua aksinya sama, intriknya pun sama, hanya prosesnya yang berbeda. Pembeda tentu ada pada sosok Sebastian yang eksentrik. Tak hanya aksi perampokan, plotnya secara mengejutkan juga menyelipkan sentuhan roman yang terbilang manis. Ini berkat chemistry kuat dari sosok Sebastian dan Gwen yang dimainkan begitu memikat oleh dua tokoh utamanya. Sisipan humor pun juga disajikan berkelas dalam banyak momen, seperti sosok Brad Cage yang namanya diinpirasi dari dua tokoh bintang Hollywood tenar, serta juga humor dalam banyak momen aksinya. Sekalipun kita tahu apa yang terjadi dengan sosok Sebastian kelak, namun pengembangan plotnya mampu memberikan beberapa kejutan kecil di sepanjang cerita. Army of Thieves dari sisi mana pun memiliki naskah lebih berkelas ketimbang Army of the Dead.

Sisi estetik pun film ini banyak memiliki pencapaian yang terbilang sangat baik. Beberapa kali teknik montage disajikan dengan amat berkelas sejak pembuka filmnya. Satu montage menarik disajikan dalam “kilas-depan” aksi pembobolan brangkas pertama yang diakhiri sisi humor yang bakal membuat penonton terpingkal. Satu rangkaian montage ini seolah mengolok segmen sejenis dalam banyak film yang menggunakan teknik serupa. Satu lagi pencapaian yang menonjol adalah ilustrasi musik, dengan nama Hans Zimmer tercantum sebagai salah satu pembuat musiknya. Sentuhan Zimmer dan rekannya kali ini mampu membuat satu komposisi yang unik dan enerjik, jauh dari pencapaian musik Bond milik sang komposer belum lama ini. Pencapaian teknis film ini memang sedikit di luar ekspektasi.

Baca Juga  Heart of Stone

Army of Thieves memiliki segalanya ketimbang seri pendahulunya, menghibur, penokohan kuat, sisipan humor, serta sentuhan roman yang hangat sekalipun kisahnya tak sulit diprediksi. Naskah menjadi pembeda, di mana sebelumnya, semua tokohnya layaknya zombi yang tak memiliki latar yang cukup untuk menarik simpati penonton. Kini, rasa peduli kita terisi penuh pada sosok Sebastian dan Gwen. Army of Thieves adalah segalanya yang seharusnya ada di Army of the Dead. Sosok dan talenta sang sineas, Schweighofer, yang juga bermain sebagai Sebastian, rasanya tidak bisa dianggap remeh.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaBroadcast Signal Intrusion
Artikel BerikutnyaPemenang Festival Film Wartawan Indonesia XI
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.