Ashfall merupakan film aksi bencana produksi Korea Selatan garapan Lee Hae-jun dan Kim Byung-seo. Dengan bermodal bujet USD 17,7 juta film ini dibintangi aktor aktris papan atas Korea, seperti Lee Byung-hun, Ma Dong-seok, Ha Jung-woo, Bae Su-ji, serta Jeon Hye-jin. Setelah belum lama ini, industri film Korea Selatan sukses dengan film komedi bencana unik, Exit, apakah dengan bujet dan para bintang yang lebih besar, mampukah Ashfall membuktikan bisa bersaing dengan film-film barat yang lebih mapan?

Gunung api raksasa Baekdu yang ada di perbatasan Korea Utara dan Cina mendadak meletus hebat yang efeknya bisa dirasakan sepanjang semenanjung Korea. Efek gempa hebat yang meluluhlantakkan seluruh kota di wilayah tersebut, rupanya hanya permulaan saja. Para ahli memperkirakan tiga letusan lagi yang diakhiri dengan mega erupsi yang berpotensi menghancurkan seluruh semenanjung Korea. Kang, seorang ahli vulkanologi memiliki satu solusi yang ia prediksi mampu menghentikan letusan ketiga. Namun, aksi ini membutuhkan sebuah tim untuk masuk jauh ke dalam tambang biji besi di lokasi gunung tersebut dan meledakkannya dengan bom nuklir.

Dari ringkasan kisahnya, tentu sudah terlihat premis filmnya yang menarik. Satu hal yang membuat film ini menjadi lebih menarik lagi adalah intrik politiknya. Nuklir! Hanya satu kata kecil ini saja, begitu sensitif dan mampu membuat semua negara-negara di dunia kalang kabut. Faktor ini yang membuat kisah filmnya menjadi berbeda. Belum pernah ada, film bencana yang mampu memadukan unsur politik dengan brilian seperti ini. Tidak seperti dalam plot film populer barat lazimnya, bom nuklir bukan masalah besar, namun tidak untuk film ini.

Peristiwa bencana ini kebetulan bersamaan dengan pakta kesepakatan nuklir yang melibatkan Korea Utara dan AS. Intinya, Korea Selatan yang tidak memiliki bom nuklir terpaksa harus mendapatkan bom nuklir ini dengan cara apapun. Sekalipun absurd, Ini dianggap sebagai solusi terbaik untuk menghentikan bencana yang lebih besar. Karena memang tidak ada waktu untuk berpikir dan bernegosiasi. Semua serba hitungan jam, sebelum ledakan terakhir terjadi. Satu hal lagi yang membuat lebih rumit adalah satu-satunya orang yang tahu persis di mana lokasi bom nuklir ini adalah seorang pembelot yang ditahan di salah satu penjara di Korea Utara. Dan rupanya, ia pun memiliki agenda tersendiri. Menarik bukan?

Baca Juga  JoJo's Bizarre Adventure: Diamond Is Unbreakable Chapter 1

Bicara genre bencana, film ini tidak lepas dari formula umum genrenya. Banyak subplot dengan belasan karakter serta tentunya dominasi CGI. Lazimnya dalam film bencana, plotnya berusaha lari atau bertahan hidup dari malapetaka, namun uniknya plot Ashfall sekaligus berusaha menghentikannya. Rasanya baru ini terjadi dalam film bencana, khususnya gunung berapi. Di luar sisi politiknya, film ini memang tak sulit untuk diantisipasi kisahnya. Proses kisahnya pun tidak semulus yang kita bayangkan dan eksekusinya sering kali terlalu lemah.

Banyak momen penting yang disajikan melompat, padahal momen tersebut adalah sesuatu yang genting. Misalkan saja, seorang tokoh dalam bahaya yang sangat mengancam nyawanya, namun entah bagaimana ia bisa lepas dari bahaya tanpa ada penjelasan atau visualisasi. Ini tidak terjadi satu dua kali tapi belasan kali. Ini sebenarnya yang membuat kita, tidak sepenuhnya bisa berempati dengan karakternya karena terlalu mudah untuk bisa lepas dari bahaya. Ancaman setinggi apapun menjadi nol unsur ketegangannya. Sayang sekali. Padahal sisi visualnya boleh dibilang sebelas duabelas dengan pesaingnya di Hollywod sana.

Sekali lagi, Ashfall merupakan bukti bahwa film Korea mampu bersaing secara kualitas dengan Hollywood melalui pencapaian visual maupun variasi genrenya, sekalipun masih terjebak dalam formula standar genrenya serta eksekusi naskah yang lemah. Seperti halnya Exit, Ashfall masuk dalam jajaran film-film terbaik genre bencana melalui keberanian bereksplorasi dengan genrenya melalui bujet yang relatif kecil. Bukan mustahil, jika di masa mendatang, film bencana terbaik yang pernah diproduksi adalah berasal dari industri film Korea Selatan. Rasanya tinggal menunggu waktu.

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaIp Man 4: The Final
Artikel BerikutnyaSi Manis Jembatan Ancol
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.