Sekuel dari Asih –yang mana merupakan bagian dari semesta Danur—ini masih mengadaptasi novel karya Risa Saraswati. Asih 2 disutradarai oleh Rizal Mantovani –yang namanya cukup tenar dari film-film bergenre horor dan drama. Perannya, entah bagaimana menggantikan Awi Suryadi, yang sudah menggawangi directing empat film dalam Danur universe selama ini, yaitu Danur: I Can See Ghosts, Danur 2: Maddah, Danur 3: Sunyaruri, dan Asih. Namun meski mengalami pergantian sutradara, skenarionya masih digarap oleh Lele Laila, Adam Ripp, dan Paul Todisco. MD Pictures dan Pichouse Films memproduksi Asih 2 dengan membawa kembali satu-dua nama dari Asih seperti Shareefa Daanish dan Marini, serta sejumlah pemain baru yaitu Marsha Timothy, Ario Bayu, Anantya Rezky, Ruth Marini, dan Graciella Abigail. Jadi, apa yang sebenarnya ingin diberikan oleh Asih 2, saat memutuskan untuk mengganti sutradaranya?

Setelah selesai dengan pengenalan sosok Asih (Shareefa Daanish), latar belakangnya hingga menjadi arwah penasaran, serta penguburan sisir miliknya, sang hantu penasaran ini rupanya masih dapat kembali lagi. Dia bahkan tanpa menunggu reaksi dan perlawanan langsung membawa pergi Amalia, menewaskan kedua orang tuanya, serta hanya menyisakan neneknya (Marini) saja yang masih hidup. Kisahnya kemudian bergulir seputar konflik perebutan hak asuh Ana (Anantya Rezky), antara pasangan suami-istri Razan (Ario Bayu) dan Sylvia (Marsha Timothy) dengan Asih. Seiring hari-hari mereka berlalu dengan teror dari kehadiran sosok Asih, ada seorang tetangga yang akrab disapa Emak (Ruth Marini), yang turut mengawasi kehadiran sang hantu penasaran tersebut.

Asih 2, meski dengan pergantian sutradaranya masih berupaya menambah durasi intensitas ketegangan, sebagaimana yang dilakukan Awi terhadap ketiga film Danur. Film ini meningkatkan tempo dan intensitas ketegangannya. Bahkan sejak film bermula, protagonisnya sudah dipertemukan dengan masalah serius yang berkaitan dengan sosok sang hantu.

Kendati seolah tampak lebih baik, celah Asih 2 –sebagai sekuel—masih sangat lebar bila dikomparasikan dengan Danur 2: Maddah dan Danur 3: Sunyaruri. Celah yang sudah sangat tampak bahkan sejak dari segmen opening-nya. Asih 2, dibuka oleh rangkaian adegan yang begitu mudahnya mematahkan penyelesaian dari film pertamanya. Seakan upaya para tokoh yang dilakukan untuk mengusir sang hantu dalam Asih sama sekali percuma, karena toh dia dengan gampangnya kembali lagi dan merebut Amalia begitu saja.

Baca Juga  Trinity Traveler

Tak hanya berhenti di situ, alur Asih 2 pun hingga ke pertengahan filmnya gampang sekali tertebak. Memang kemudian masih dapat dinetralisir pada separuh kedua film. Tetapi seseorang akan mudah merasa bosan pada separuh pertama film ini, kecuali adanya penampakan sosok Asih yang sesekali muncul bisa “sedikit” mengurangi kebosanan itu.

Banyak pula adegan yang sangat dipertanyakan, karena tindakan dari tokoh yang melakukan adegan tersebut memiliki alasan yang lemah. Dalam artian, adegannya tidak punya alasan yang kuat mengapa harus terjadi demikian, dan tindakan dari tokohnya sendiri sama sekali tidak berdasar. Seakan dipaksakan harus terjadi, hanya untuk mendukung beberapa adegan berikutnya. Dan salah satu tokoh yang melakukan tindakan tak beralasan ini ialah Razan. Seolah Ario Bayu diposisikan agar menjadi tokoh yang cukup bodoh dan kerap kali melakukan kesalahan –yang sebenarnya sangat mungkin dihindari.

Akumulasi dari ketiga celah tersebut kemudian melahirkan dugaan tentang kunci penyelesaian konflik dalam film ini. Konflik berupa perebutan hak asuh anak antara Sylvia dan Asih, yang memperebutkan Ana.

Aspek-aspek lain yang termasuk ke dalam sinematik sama saja dengan film horor selama ini. Tak ada yang berbeda, baik pengambilan gambar, artistik, efek yang digunakan, adanya lagu ikonik, setting lokasi berupa rumah dengan halaman yang luas, juga interior rumah beserta lampu-lampunya.

Asih 2 nyatanya tak berhasil untuk –setidaknya—menjaga level kepuasan terhadap semesta Danur, setelah dibangun perlahan melalui film-film sebelumnya –termasuk oleh ketiga film Danur. Sayang sekali pergantian sutradaranya malah mereduksi hype yang sudah dibangun oleh Awi selama dia mengarahkan ketiga film Danur dan Asih. Bila diukur dalam skala perbandingan dengan keseluruhan film horor Tanah Air “minimal” dua tahun ke belakang, Asih 2 –lebih-kurang—hanya menempati posisi rata-rata. Film ini memang lebih baik ketimbang The Secret 2: Mystery of Villa 666, Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, atau Rasuk 2, namun masih berada di bawah Affliction dan Perempuan Tanah Jahanam. Yah, bagaimanapun, intensitas ketegangan dalam Asih 2 masih lebih baik daripada Asih. Walau tak lebih baik dibanding ketiga film Danur, padahal mereka semua berada dalam satu semesta cerita yang sama.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaThe Father
Artikel BerikutnyaChaos Walking
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.