Ini yang sudah ditunggu-tunggu! Batman: The Long Halloween, Part Two menjawab semua pertanyaan seri pertamanya yang dirilis bulan lalu. Film arahan Chris Palmer ini diadaptasi dari komik DC berjudul sama yang naskahnya dibagi menjadi dua bagian. Seri keduanya dirilis oleh Amazon Prime Video. Seri pertama harus diakui adalah salah satu kisah Batman terbaik yang pernah ada. Kini, apakah seri keduanya mampu memberikan penutupan yang memuaskan?

Melanjutkan persis kisah sebelumnya (post credit scene), Bruce kini dalam kendali penuh hipnotis Poisin Ivy yang bekerja di bawah Carmine Falcone. Sementara Batman absen, sang pembunuh alias The Holiday Killer, masih saja beraksi menghabisi antek-antek kriminal yang ada di kota Gotham, tepat pada hari libur nasional. Akhirnya Bruce ditolong oleh Catwoman dari cengkraman Ivy, sehingga Batman pun bisa beraksi kembali. Situasi bertambah rumit karena perseteruan dua gangster besar, Maroni dan Falcone semakin memanas. Lagi-lagi, Jaksa Harvey Dent dan Inspektur Gordon berada ditengah-tengah mereka. Maroni mencoba mendekati Dent untuk menjerat pesaingnya. Falcone pun mengincar nyawa Dent, namun justru sang jaksa kini sudah menjadi seseorang yang sama sekali berbeda.

Tidak seperti seri pertama, kisah seri kedua ini memang tergolong rumit dan membingungkan untuk diikuti. Tempo plotnya yang cepat, adegan demi adegan, membuat sulit untuk mencerna kisahnya dengan mudah. Segmen kilas-balik yang sesekali muncul juga semakin menambah informasi baru. Saya belum membaca novelnya, tapi bisa jadi, ada beberapa bagian yang diringkas atau dihilangkan dalam plotnya sehingga kita kehilangan arah kisahnya. Sejalan dengan waktu, banyak misteri makin terkuak, dan kita pun akhirnya memang mendapatkan jawaban. Pada segmen penutup, kita tahu apa yang terjadi, namun tetap saja banyak hal kecil yang kita lewatkan. Seri kedua ini rasanya memang butuh untuk ditonton lebih dari sekali.

Baca Juga  The Good Dinosaur

Bagian kedua ini juga lebih banyak menampilkan tokoh supervillain ikonik Batman. Namun, tidak seperti terdahulu di mana sosok Joker begitu mencuri perhatian, kini sayangnya, mereka hanya tampil sekilas, tanpa introduksi yang memadai. Seperti misalnya sosok scarecrow muncul begitu saja tanpa penjelasan berarti. Sosok-sosok baru lainnya yang muncul, sebut saja Poison Ivy, Mad Hatter, hingga The Penguin. Solomon Grundy yang sebelumnya muncul sekelebat kini tampil lebih banyak. Tidak seperti sebelumnya, segmen aksinya kini sulit untuk dinikmati karena kita terlalu sibuk mencerna kisahnya. Jika mau disimpulkan, The Long Halloween sebenarnya adalah kisah origin Two Face (Harvey Dent).

Lebih kompleks dan kurang menggugah sisi misteri seperti seri pertamanya, namun Batman: The Long Halloween, Part Two adalah penutupan yang memuaskan untuk salah satu kisah terbaik sang ksatria malam dalam medium film. Menegaskan kembali ulasan seri pertama, seri kedua ini membuktikan bahwa versi animasi Batman jauh lebih superior dari versi DC Extended Universe (DCEU)-nya. Saya rada heran dan mempertanyakan fans fanatik DCEU yang membelanya mati-matian. Apa komentar mereka tentang film animasi Batman: The Long Haloween? Apa yang membuat film ini istimewa bukanlah pemain top, sineas, atau gaya visual, namun adalah kekuatan kisahnya. The Long Haloween menjawabnya dengan gaya elegan dan berkelas.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaA Perfect Fit
Artikel BerikutnyaDevil on Top
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.