Aktor gaek Liam Neeson untuk kesekian kalinya kembali ke peran tipikalnya, si tua tangguh. Blacklight adalah film aksi thriller garapan sineas Mark Williams. Setelah bulan lalu rilis di teater, kini filmnya telah hadir di platform streaming. Agak tak lazim, sejak bulan lalu terkesan film ini bakal tayang di bioskop tanah air mengingat reputasi sang aktor bagus di sini. Namun setelah menonton, alasannya pun rupanya jelas.

Neeson kini berperan sebagai Travis Block, seorang agen FBI senior yang bekerja langsung di bawah sang pimpinan sebagai problem solver untuk para agen yang “membelot”. Suatu ketika, ia harus menyelesaikan kasus seorang agen FBI yang akan membocorkan satu rahasia ke jurnalis. Satu peristiwa terjadi, dan Block kini mempertanyakan apakah ia berada di pihak yang benar? Block yang dianggap tidak stabil akhirnya harus berhadapan dengan satu sistem besar yang telah membesarkan dirinya.

Premisnya tampak tak buruk, namun eksekusinya, luar biasa buruk. Naskah adalah salah satu pondasi paling rapuh dari film ini. Nyaris tak ada ketegangan yang intens dan nuansa ancaman yang seharusnya ada, juga tidak mampu kita rasakan. Alur plotnya mudah sekali untuk diduga arahnya dengan lubang plot yang bermunculan di banyak adegan. Alur kisahnya terasa tidak pernah terlihat serius begitu pun pengadeganannya. Satu peristiwa besar terjadi, namun seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Aneh saja, seluruh penjuru kota begitu hingar bingar dengan aksi penuh ledakan, tembak-menembak di jalanan, car-chase gila-gilaan, korban tewas pun berjatuhan, namun kota ini tetap terasa aman dan damai? Bujet? No way, film ini berbujet USD 43 juta, ini lebih dari cukup untuk membuatnya lebih baik dari ini.

Baca Juga  Krampus

Pencapaian naskahnya yang buruk ternyata diikuti pula sisi teknisnya. Satu sisi yang sangat terlihat begitu buruk adalah editing. Teknik jump cut yang tak inspiratif dengan insert kilasan-kilasan shot yang mungkin dimaksudkan sebagai style, sama sekali tak membantu. Ini justru membuat filmnya tampak murahan. Lantas Neeson kini sudah terlalu tua untuk peran tipikalnya. Kali ini sungguhan. Sang aktor harus lebih berhati-hati memilih skenario agar tidak terjebak dalam film-film level sampah macam ini. Tiga film sebelumnya, Honest Thief, The Marksman, serta The Ice Road, terhitung sebagai film-film terburuknya.

Liam Nesson akhirnya turun kelas, Blacklight menjadi penegas karirnya yang semakin menurun setelah sekian lama berperan dalam karakter tipikalnya. Blacklight adalah film terburuk sepanjang karirnya sejauh ini. Sang bintang jelas masih mampu bermain dengan level akting yang tinggi jika mendapat naskah yang ideal. Dari tiga film yang ia bintangi ke depan, tercatat sineas-sineas berkelas akan menggarap filmnya, yakni Martin Campbell (Casino Royale), Nimrod Antal (Predators), hingga Neil Jordan (Interview with the Vampire). Saya pun terkejut ketika tahu ini tapi rasanya menjanjikan untuk mengembalikan pamor sang bintang.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaDrive My Car
Artikel BerikutnyaThe Weekend Away
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.