Bloodshot (2020)
109 min|Action, Adventure, Sci-Fi|13 Mar 2020
5.7Rating: 5.7 / 10 from 85,409 usersMetascore: 44
Ray Garrison, a slain soldier, is re-animated with superpowers.

Bloodshot adalah film superhero adaptasi komik Valiant yang konon merupakan seri pertama dari semesta sinematiknya. Film ini digarap oleh sineas debutan, David S. F. Wilson dengan diproduseri Neil Moritz dan sang bintang yang bermain dalam filmnya, Vin Diesel. Aktor ternama Guy Pearce serta aktris Meksiko, Elza Gonzalez turut bermain pula dalam filmnya. Di tengah, gegap gempita genre superhero yang ramai satu dekade belakangan, mampukah Bloodshot mengambil celah kecil di antara para raksasa box-office superhero? Rasanya mustahil.

Alkisah marinir tangguh, Ray Garrison bersama sang istri, Gina, berlibur di pelosok Italia setelah ia menyelesaikan sebuah misi. Tanpa diduga, satu komplotan teroris menculiknya untuk sebuah informasi penting. Ia pun tewas terbunuh. Ray terbangun di sebuah fasilitas modern yang telah membangkitkannya dari kematian. Dalam tubuh Ray, rupanya telah tertanam teknologi Nano yang mampu memberikannya kekuatan ekstra serta menyembuhkan luka di tubuh dengan seketika. Teringat masa lalunya, Ray pun lari dari sana untuk membalaskan dendamnya.

Plotnya terasa familiar? Kisahnya memang sudah sangat jamak untuk medium film. Saya pikir filmnya berbau “vampire” (mirip Blade) setelah melihat judulnya, ternyata jauh dari ini. Kombinasi cerita Jason Bourne plus Capt. America lebih tepatnya. Tidak mirip memang tapi idenya kurang lebih sama. Namun di luar dugaan, pada pertengahan kisah, arah cerita berbelok drastis, harapan pun mulai muncul. Ah, namun sayang, kelokan drastis kisahnya tetap saja tak mampu mengangkat kisahnya secara kesuluruhan. Datar sih tidak, tapi sulit untuk bisa masuk ke tokoh-tokohnya karena minimnya background mereka. Sosok jagoan pun sudah sulit untuk bersimpati, apalagi karakter lainnya.

Baca Juga  The Old Guard

Segmen aksi yang menjadi unggulan menunya justru menjadi kelemahan terbesar film ini. Dengan banyak shot dekat, aksi perkelahian tak bisa kita nikmati secara memuaskan. Teknik slow-motion silih berganti digunakan, aduh, sudah terlalu kuno untuk segmen aksi macam ini. Saya memang tak berharap koreografi yang menawan tapi setidaknya ada sesuatu yang baru untuk bisa lebih bergairah untuk ditonton. Segmen aksi klimaks di elevator sepertinya dimaksudkan untuk ini, bermain-main dengan ketinggian, namun efek visualnya terlalu artifisial. Satu lagi kelemahan adalah sang bintang sendiri. Tipikal perannya dan, maaf, sang aktor memang sama sekali tidak bisa berakting selain beraksi fisik.

Kejutan twist dalam Bloodshot, tak mampu mengangkat kisahnya yang tak segar serta aksi yang terlalu standar, dan satu lagi, Diesel terbukti tak bisa lepas dari peran tipikalnya. Saya bukan ingin meremehkan akting sang bintang, hanya saja, apa pun yang ia lakukan, hasilnya akan tetap kembali ke peran yang sama. Diesel sudah berulang kali berusaha keras untuk membuat franchise sukses di luar seri Fast & Furious. Catat saja, Riddick, XxX, The Last Wicth Hunter, dan kini Bloodshot. Hasilnya gagal, dan rasanya akan selalu gagal. Diesel tak akan pernah bisa lepas dari “Dom” Toretto. Ini pun jika penonton tak lelah dengan seri ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaAku Tahu Kapan Kamu Mati
Artikel BerikutnyaMariposa
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.