Brut Force adalah film drama kriminal yang ditulis dan digarap oleh sineas debutan Eve Symington. Film ini dibintangi oleh Lelia Symington, Tyler Posey, Patricia Velasquez, serta Sidney Symington. Brut Force dirilis platform streaming Apple TV. Tak banyak, film drama investigasi semacam ini yang diproduksi. Tak diduga, Brut Force memiliki perspektif unik dalam memandang masalah sosial besar di sebuah wilayah pinggiran Kota California.

Sloane (Lelia) adalah seorang jurnalis yang baru saja dipecat dari pekerjaannya di kota. Ia kemudian diminta datang oleh rekan lamanya ke satu kota kecil di pinggiran yang ternyata juga adalah kampung halaman Sloane. Wilayah tersebut yang didominasi perkebunan anggur membutuhkan banyak tenaga imigran untuk panen, termasuk kebun sang ayah. Ada indikasi pihak tertentu yang berusaha untuk mengusik para imigran agar tak betah bekerja di sana. Sloane yang melakukan investigasi kecil mendapati bahwa kasus ini tidak semudah yang ia pikir karena pihak otoritas dan pemilik kebun anggur besar terlibat dalam masalah ini.

Jika saja, naskahnya lebih hati-hati dan tidak tergesa, rasanya film ini bisa bersaing dalam Academy Awards tahun depan. Investigasi yang dilakukan sosok Sloane adalah aksi unik yang jarang kita temui dalam medium film. Plotnya banyak mengingatkan pada Winter’s Bone (2010) yang dibintangi Jennifer Lawrence, hanya saja potensi isunya, Brut Force lebih luas. Melalui tempo yang sedang, alur plotnya mampu memancing rasa penasaran dari waktu ke waktu, namun sayangnya menjelang babak ketiga, plotnya langsung memaksakan arah ke pihak antagonis utamanya. Kasus sebesar dan seberat ini (bangunan penampungan imigran dibakar hingga masuk headline surat kabar lokal), pihak otoritas tidak tampak sama sekali? Rasanya janggal, Sloane bisa leluasa melakukan investigasi tanpa sedikit pun “diganggu” pihak polisi.

Baca Juga  Monsters vs. Aliens

Sosok Sloane yang diperankan Lelia Symington, boleh jadi adalah salah satu karakter terkuat dalam genrenya. Sebagai peran jurnalis yang cerdas dan tangguh, Lelia tampil maskulin dan percaya diri, namun kesedihan dan trauma masa lalunya masih terpancar di wajahnya. Sosok perempuan berkarisma macam ini begitu langka dan kurang dieksplorasi lebih dalam, persis seperti naskahnya yang tak mampu menggali lebih dalam isu dan latar lokasi ceritanya. Di luar peran Sloane dan setting wilayah pinggiran yang memesona, sisi sinematografi pun begitu kuat mendukung sajian visual filmnya. Namun sayangnya, ini juga tak mampu mengangkat filmnya.

Melalui penampilan yang mengesankan dari bintang utama, Brut Force adalah plot investigasi membumi yang memiliki isu kuat, sayangnya skala dan eksekusi kisahnya kurang dalam dan menggigit. Sebagai penikmat, saya merasa banyak hal yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih jauh lagi, seperti anggur, imigran (yang hanya tampil secuil), dan sejarah lokal kota yang rasanya bisa membuat isunya jauh lebih besar. Sinergi antara pemilik kebun, pekerja imigran, dan otoritas dengan segala tradisi pembuatan anggur sudah terjalin sejak lebih dari seratus tahun lalu. Saya tidak merasakan bagaimana tantangan jaman mampu menjawab gesekan dan dinamika ini semua dalam filmnya selain hanya kisah antara putri dan ayahnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Unbearable Weight of Massive Talent
Artikel BerikutnyaSpoiled Brats
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.