Chernobyl: Abyss merupakan film bencana produksi Rusia yang diarahkan dan diproduseri oleh Danila Kozlovsky. Uniknya, Kozlovsky juga bermain sebagai protagonis utama dalam film ini. Film yang dirilis Netflix ini bisa jadi merupakan respon dari drama miniseri Chernobyl rilisan HBO. Ledakan di reaktor Chernobyl dianggap adalah salah satu bencana buatan manusia terbesar yang pernah terjadi di bumi dengan menewaskan ratusan ribu jiwa hingga satu wilayah luas harus dievakuasi akibat radiasi.

Puluhan film fiksi dan dokumenter telah dibuat, berkaitan dengan peristiwa ini. Masih ingat mungkin, film horor found footage tentang mutan yang ada di lingkungan kompleks ini? Saya tidak ingin terjebak ke dalam politisasi film maupun intrik politik dari peristiwa bencana ini karena ini bukan ranah wilayah ulasan ini. Ulasan ini murni hanya komentar tentang penceritaan dan pencapaian estetiknya.

Sudut pandang dan tokoh utama film ini adalah Alexey (Kozlovsy), seorang komandan pemadam kebakaran yang akan dipindah tugaskan ke Kiev. Dua kejadian besar dalam hidup Alex nyaris datang di momen bersamaan. Pertama adalah cintanya terhadap Olga yang memiliki putra yang juga bernama Alex, lalu kedua adalah ledakan reaktor Chernobyl. Alasan pertama adalah mengapa Alex melakukan apapun untuk menghentikan bencana ini. Yah, mirip-mirip Titanic, kisah bencana hanya merupakan pajangan sebagai kisah percintaan antara keduanya. Walau tidak semegah dan sedramatik Titanic, namun ending-nya cukup memberi kejutan dan amat menyentuh penonton.

Soal latar bencana dalam plotnya, kita memang tidak mendapat info yang utuh. Kita tidak akan tahu, sebenarnya apa yang membuat reaktor tersebut bisa meledak. Mungkin pembuat film berpikir, sudah terlalu banyak film yang sudah menjelaskan ini. Fokus kisahnya adalah pasca-ledakan dan bagaimana agar tidak berdampak luas ke seluruh wilayah Rusia dan Eropa (begitu katanya). Dialog dipenuhi istilah teknis yang rasanya tidak bakal kita pahami. Mudahnya, ada satu pipa kran yang harus ditutup agar efek bocornya radiasi bisa terkontrol. Masalahnya, pipa kran tersebut terletak jauh di ruang bawah yang akibat ledakan kini terendam air dengan suhu mencapai 60° C. Di sinilah para protagonis kita unjuk gigi dengan fokus pada sosok Alex tentunya.

Baca Juga  Batman Cape Crusader

Sebelum bicara intensitas ketegangan, saya mau bicara soal pendekatan estetiknya, khususnya setting. Sejak awal pun yang memperlihatkan kompleks wilayah Chernobyl, film ini sudah terlihat meyakinkan dari aspek ini, baik arsitektur maupun berbagai moda kendaraan untuk eranya. Warna tone film pun mendukung latar cerita filmnya. Visualisasi ledakan terlihat meyakinkan pula hingga segmen aksi ketika Alex menyelamatkan rekan-rekan sejawatnya. Sementara segmen di ruang reaktor bawah banyak mengingatkan pada film bencana klasik, The Poseidon Adventure yang juga menampilkan setting yang demikian istimewa. Kengerian suasana interior ruangan yang terendam air memang sungguh terasa. Setting yang amat meyakinkan menambah intensitas ketegangan makin meningkat pula. Aspek inilah yang merupakan kekuatan terbesar filmnya.

Chernobyl: Abyss menampilkan salah satu disain produksi terbaik untuk genrenya, di lain sisi, pendekatan fiksinya terlihat terlalu kental.  Sudut pandang roman di satu sisi, justru melemahkan kisah filmnya yang didasarkan kisah nyata, yang memang ada bukti dan faktanya. Titanic mampu memberikan efek dramatik yang begitu kuat karena peristiwa tersebut sudah terjadi lebih dari 100 tahun lalu. Tidak ada orang yang tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa, semua hanyalah rekonstruksi belaka. Chernobyl memang sah-sah saja memakai pendekatan yang sama, hanya saja mungkin kebanyakan orang/pengamat, lebih menyukai sisi lain dari bencana ini, seperti penutupan informasi oleh otoritas tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSurvive: The Rise of Psychopath
Artikel BerikutnyaSherni
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses