Penulis skenario senior Gina S. Noer kembali mengarahkan isu yang menggelitik melalui film keduanya, Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga. Sebuah ide yang memainkan what if bersama tim kepenulisan yang telah akrab dengannya, Wahana Kreator. Melalui produksi StarVision Plus, para bintang dalam film drama roman keluarga ini antara lain Angga Yunanda, Putri Marino, Slamet Rahardjo, Ira Wibowo, Elly D. Luthan, Widi Mulia, dan Ersa Mayori. Mengingat-ingat kembali capaian Gina dan Wahana Kreator tiga tahun lalu, bagaimana dengan film ini?

Kisahnya ialah ihwal relasi dua orang tua tunggal yang telah dimakan usia, dengan anak mereka yang dikhawatirkan tak bermasa depan. Raja (Angga Yunanda) seharinya-harinya mesti menemani ayahnya, Dewa (Slamet Rahardjo) yang lambat-laun mulai kerap pikun. Sedangkan Asia (Putri Marino) bersama ibunya, Linda (Ira Wibowo) berjuang mempertahankan pekerjaan mereka yang berisiko pada masa pandemi demi melunasi hutang. Pertemuan ayah dan ibu tersebut lantas membawa kisah kian berlanjut, hingga timbul perasaan tak biasa antara Raja dan Asia.

Gina S. Noer tampaknya memang memiliki perhatian dan kesenangan yang sama besar dengan Ernest Prakasa terhadap tema-tema keluarga. Temanya sendiri menjadi salah satu di antara sejumlah tema populer yang telah terlewat umum. Namun, bukan Gina dan Tim Wahana Kreator bila tak punya suatu tawaran dari tema yang mereka bawa. Tawaran berupa satu isu penting, menggelitik, dan bermain dengan kemungkinan what if pada saat yang sama. Terlihat dengan jelas pula buatan hasil kerja sama mereka selalu menunjukkan “kehati-hatian” dalam menyikapi isu yang mereka angkat, hingga penyelesaiannya. Dua film mereka, Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga dan Dua Garis Biru memperlihatkan betapa mereka tak mau meletakkan solusi-solusi yang mungkin menimbulkan kecaman.

Bila dilihat dari kejauhan, problematika dari isu yang diangkat dalam film kedua Gina ini pun memiliki potensi yang mengusik nalar pula. Setelah tiga tahun silam sineas ini menggegerkan perfilman tanah air lewat Dua Garis Biru. Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga, meski berkali-kali mengetengahkan penyelesaian masalah secara kekeluargaan, tak dapat ditampik begitu saja ada masalah serius di dalamnya.

Bersama tema dan isu yang digarap, penekanan terbaik yang paling menonjol dilakukan oleh sineas film ini ada pada tempo. Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga berjalan dengan begitu lambat. Meski tak selambat film-film yang memang secara khusus dikemas dalam tempo lambat. Film ini masih menyelipkan hentakan-hentakan kecil dari kemarahan yang meluap-luap lewat perdebatan antartokohnya. Raja dengan kakak-kakaknya, Raja dengan ayahnya, Asia dengan Raja, dan lainnya.

Baca Juga  Geez & Ann

Namun konflik-konflik yang saling berbalutan satu sama lain kerap kali mengaburkan konsentrasi untuk mengamati suguhan sebagian sinematik film ini. Film ini terus menghadirkan konflik-konflik antartokoh serta bagaimana lingkungan kian menekan mereka dengan kondisi yang ada. Di samping itu, akting dari para bintangnya pun menghipnotis perhatian melalui olah peran mereka. Tampak dengan jelas kematangan masing-masing, meski yang terlibat di sana berbeda generasi. Terutama antara Angga dan Putri Marino dengan pemeran orang tua keduanya, Slamet Rahardjo dan Ira Wibowo. Tokoh-tokoh lain seperti Suri (Ersa) dan Ratu (Widi) lantas merespons baik chemistry saling silang antara mereka berempat dengan peran masing-masing.

Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga juga memperdengarkan segi musiknya dengan baik. Hadir lewat setiap kesempatan adegan tari, film ini menyesuaikan sifat-sifat dari setiap musik dan lagunya dengan kebutuhan dramatik cerita. Lagi-lagi menunjukkan kematangan persiapan sineas menggarap cerita serta mempertimbangkan aspek musik. Sebagaimana dilakukannya pula saat mengarahkan Dua Garis Biru tiga tahun lalu. Jelas masih tak lepas dari peran besar Wahana Kreator. Seolah mirip dengan relasi Marchella dan Visinema.

Meski dengan beragam keriaan dari semua itu, ada pula elemen-elemen yang biasa saja dalam film ini. Minimal dapat menyamai kehebohan isunya pun belum. Tercatat Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga kekurangan tenaga untuk menghadirkan pula pesona-pesona dari aspek lain. Misalnya dari pengambilan gambar dan editing, atau kostum dan warna. Memang, ada yang disajikan dengan baik. Namun sebagian sisanya hadir dengan cara-cara yang telah umum. Beberapa di antara latar-latar tempatnya terlalu umum. Tampaknya memang tak terdapat pilihan yang cukup beragam di sekitaran ibu kota. Sejumlah masalah yang dimunculkan pun terbilang umum.

Dengan konteks dan isu yang menarik nun sensitif, Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga tak cukup baik dalam mengoptimalkan keseluruhan aspek agar saling mengimbangi. Bagus, namun masih dengan catatan. Dramatis dan haru, tetapi belum mampu menggantikan tempat film sang sineas sebelumnya. Agaknya masih perlu waktu, baik bagi Gina maupun timnya untuk merancang formula-formula lain yang dapat lebih kuat ketimbang film pertamanya.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaThe 355
Artikel BerikutnyaThe Silent Sea
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.