I should have another job.

Ratusan film bertema vampir telah ada di medium film, dan beberapa di antaranya berkualitas bagus. Day Shift mencoba premis yang sedikit berbeda. Film rilisan Netflix ini dibesut oleh sineas debutan J.J Perry. Film berbujet USD 100 juta dibintangi oleh Jammie Foxx, Dave Franco, Snoop Dog, serta Karla Souza. Dengan bujet sebesar ini rasanya Day Shift bakal menjanjikan sesuatu yang menarik.

Bud Jablonski (Foxx) adalah pemburu vampir handal yang menutupi profesinya di mata istri dan anaknya. Gara-gara profesinya ini, pernikahannya di ambang perceraian. Bud harus mendapatkan sejumlah besar uang dalam waktu singkat agar tidak kehilangan mereka. Suatu siang, Bud membunuh vampir tua yang ternyata adalah putri dari vampir berpengaruh, Audrey (Souza). Audrey pun berupaya mencari dan membalas dendam pelakunya. Situasi sulit ini diperumit dengan agensi Bud yang mengharuskan ia didampingi seorang petugas kantor, Seth (Franco) ketika ia beraksi di lapangan.

Untuk subgenrenya, premisnya memang menarik dan segar, namun banyak hal terlihat janggal. Para pembunuh vampir ini bekerja secara rahasia dengan shift siang dan malam. Vampir adalah sumber mata pencarian para pemburu ini yang jumlah buruan mereka tidak sedikit. Anehnya, suasana kota terlihat super normal dan tidak genting atau ada jam malam, dengan para pemburu dan penghisap darah yang berkeliaran siang dan malam. Bud bahkan mengunci pintunya dengan lusinan pengaman, namun apa tak pernah berpikir bahwa vampir bisa masuk dengan memecahkan kaca jendela? Saya mencoba untuk melupakan ini semua.

Di luar hal di atas, sejak awal plotnya mampu untuk memancing rasa penasaran penonton. Kisahnya bekerja efektif pada siang hari ketika Bud beraksi memburu para vampir. Ini adalah sesuatu yang baru untuk genrenya. Sayangnya, ini hanya bertahan hingga separuh durasi film. Ketika ancaman menjadi lebih genting, seketika itu pula kisahnya melemah. Konsep tema keluarga dan sisi komedi justru malah menjadi penghancur kisahnya. Vampir, gadis kecil plus humor, bukanlah satu formula yang bisa memicu adrenalin penonton. Semua justru menjadi berkesan tak serius dan main-main. Ancaman menjadi nol karena kita tahu persis apa yang bakal terjadi.

Baca Juga  WandaVision

Day Shift, seperti titelnya, premis dan kisahnya menarik di siang hari, namun ketika malam tiba, segalanya menjadi berantakan. Untuk levelnya bujetnya, jika benar, Netflix mengambil resiko yang teramat besar. Setidaknya, mereka bisa menyewa penulis naskah yang lebih kompeten serta sineas yang lebih berpengalaman. Untuk para fans subgenre vampir, film ini boleh dicoba. Silahkan menonton.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaWedding Season
Artikel BerikutnyaSecret Headquarters
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.