DC League of Super-Pets (2022)
105 min|Animation, Action, Adventure|29 Jul 2022
7.1Rating: 7.1 / 10 from 75,246 usersMetascore: 56
Krypto the Super-Dog and Superman are inseparable best friends, sharing the same superpowers and fighting crime side by side in Metropolis. However, Krypto must master his own powers for a rescue mission when Superman is kidnapped.

DC League of Super Pets adalah film animasi superhero yang kini terfokus pada side-kick, binatang peliharaan super. Film ini diarahkan oleh sineas debutan Jared Stern yang pernah terlibat dalam The Lego Batman Movie (2017). Istimewa adalah para pengisi suaranya, yakni Dwayne Johnson, Kevin Hart, Keanu Reeves, John Krasinski, Katherine McKinnon, Natasha Lyonne, dan Diego luna. Dengan bermodal bintang-bintang besar ini, apakah Super-Pets bisa mengangkat pamor semesta sinematik DC yang naik turun?

Krypto (Johnson) adalah anjing super milik Superman (Krasinski) yang sejak kecil selalu bersamanya. Kebersamaan dengan Superman mulai terusik sejak sang majikan dekat dengan Louise Lane yang kini membagi waktunya dengan sang pacar. Suatu ketika, Lex Luthor membuat masalah dengan menarik meteor kripton oranye ke bumi. Justice League turun tangan, Lex pun dibekuk, namun pecahan kripton oranye bisa ditarik oleh marmut peliharaan Lex, Lulu (McKinnon). Lulu mendapatkan kekuatan super, pun hewan-hewan peliharaan di toko binatang tersebut, yakni Ace (Hart) seekor anjing, PB seekor babi, Chip seekor tupai, dan Merton seekor kura-kura. Lulu dengan kekuatan tangguhnya berupaya untuk membebaskan Lex Luthor untuk bisa menguasai dunia bersama-sama.

Baca Juga  Get Out

Bagi yang sudah pernah menonton film animasi DC Home Video-nya, sosok binatang-binatang super ini sudah tak asing dalam satu dua filmnya. Namun untuk versi teaternya, ini adalah sebuah terobosan baru. Dengan sedikit latar cerita, penonton pun, khususnya anak-anak, bakal mudah menelan kisahnya dan langsung akrab dengan sosok Krypto. Kisahnya yang hanya terfokus pada sosok binatang-binatang super ini memiliki perspektif yang menarik dari sisi cerita, aksi, serta humornya. Walau chemistry memang lebih terasa pada Krypto dan Ace, namun pencuri perhatian terbesar jelas adalah Lulu yang diisi suara oleh McKinnon. Lulu bisa jadi adalah sosok antagonis super terkuat yang pernah ada dalam film-film DC.

DC League of Super-Pets menawarkan sesuatu yang segar untuk genrenya dengan aksi dan humor serta pesan yang mudah dibaca target genrenya. Walau kisahnya tak sulit terbaca, namun beberapa momen menyentuh dan hangat sesekali muncul. Film ini bisa jadi banyak dilewatkan oleh para fans DC, namun jujur saja, film ini jauh lebih baik dari film-film dalam DC Extended Universe. Seperti film-film animasi Home Video (DC)-nya yang berkualitas, sedikit mengherankan mengapa naskah film-film DCEU bisa ditulis begitu buruk. Super Pets adalah satu contoh yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Sebuah sekuel untuk film ini adalah satu hal yang bagus untuk dilakukan. Satu hal kecil, senang mendengar kilasan musik tema Superman (John Williams) dan musik tema Batman (Danny Elfman) ikonik yang sudah lama sekali tidak saya dengar di bioskop.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaPaws of Fury: The Legend of Hank
Artikel BerikutnyaPurple Hearts
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.