Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)
126 min|Action, Adventure, Fantasy|06 May 2022
6.9Rating: 6.9 / 10 from 477,632 usersMetascore: 60
Doctor Strange teams up with a mysterious teenage girl who can travel across multiverses, to battle other-universe versions of himself which threaten to wipe out the multiverse. They seek help from the Scarlet Witch, Wong and others.

Doctor Strange in the Multiverse of Madness tercatat adalah seri Marvel Cinematic Universe ke-28, setelah superhero eksentrik ini muncul dalam Spiderman: No Way Home yang rilis akhir tahun lalu. Film ini diarahkan oleh sineas besar Sam Raimi yang kita tahu telah mengarahkan trilogi Spider-Man yang dibintangi Tobey Maguire. Bermain dalam Madness adalah para kasting regulernya, yakni Benedicth Cumberbatch, Benedict Wong, Rachel McAdams, hingga Elizabeth Olsen, dengan pendatang baru Xochitl Gomez. Sejak muncul pada seri pertamanya (2016), sosok Doctor Strange telah malang melintang dalam seri MCU lainnya. Bermodal konsep multiverse dan karakter MCU lainnya, Madness membawa semesta sinematiknya ke petualangan yang lebih gelap dan mencekam.

Kota New York mendadak kedatangan monster raksasa gaib yang dihadang susah payah oleh Doctor Strange (Cumberbatch) dan Wong (Wong). Monster ini mengincar gadis muda bernama American Chaves (Gomez) yang ternyata memiliki kemampuan istimewa, yakni dapat berpindah dari satu semesta ke semesta lainnya. Strange berinisiatif untuk meminta bantuan Wanda Maximoff alias Scarlet Witch(Olsen), yang di luar dugaan ternyata adalah otak pelakunya yang ingin mengambil kekuatan Chaves. Sang gadis mendapat perlindungan penuh dari Kamar Taj, namun Scarlet terlalu kuat. Dalam satu aksi, Strange dan Chaves terlempar ke semesta alternatif lain, yang ini membawa masalah baru buat mereka.

Walau plotnya tidak serumit yang dibayangkan jika menontonnya, namun ada beberapa catatan kecil bagi yang ingin menonton. Rasanya bakal sedikit masalah buat penonton yang belum melihat serial MCU, WandaVision, Loki, dan What If…?. Konsep multiverse dan sosok Wanda dieksplorasi jauh di sini dan menjadi landasan naskah Madness. Motif Wanda melakukan semua ini berlatar dari WandaVision, lantas multiverse dan segala aturan mainnya, dibahas tuntas dalam Loki dan What If…?. So, sebelum menonton Madness sebaiknya memahami betul plot tiga serial ini.

Bermain-main dengan konsep ini memang punya banyak resiko. Multiverse memiliki banyak kemungkinan konsekuensi yang bahkan aturan mainnya bisa jadi belum terjelaskan utuh karena saking kompleksnya (terbukti dalam mid-credit scene Madness). Kamu pasti paham betul ini jika sudah menonton What If…? dan Loki. Namun, jika dibandingkan Spiderman: No Way Home yang terlihat adanya kompromi studio di sana (Marvel/Disney dan Sony), Madness lebih natural dalam menyisipkan konsep ini dalam naskahnya. Kejutannya lagi, rupanya konsep dan konfliknya hanyalah sebagai media penyambung pesan atau sebutlah metafora dari masalah personal dua tokoh utamanya, Strange dan Wanda. Ini yang brilian dan jarang kita temui dalam film-film MCU lainnya.

Baca Juga  Mission: Impossible - Dead Reckoning Part 1

Saya potong bahasan dulu, menyoal estetik. Apa lagi yang mau kita omongkan. Standar visual (CGI) seri MCU, Moon Knight yang baru saja kelar minggu ini, sudah setinggi itu, apa lagi Madness. Edan pokoknya. Satu catatan menarik juga perihal score yang digawangi oleh komposer Danny Elfman yang memang menjadi kolaborator Sam Raimi dalam trilogi Spiderman (Tobey Maguire) dan seri Batman (Tim Burton). Bagi yang tahu persis gaya musiknya, memang membawa nuansa berbeda untuk Madness, yang baru kali ini Elfman terlibat dalam film MCU. Namun jujur, saya kehilangan score Doctor Strange sebelumnya yang terasa begitu menyentuh.

Kembali ke bahasan sebelumnya, menyoal substansi cerita. Mantan Strange, Rachel, bertanya padanya di adegan awal, “Are you happy?”. Strange merespon singkat, “Yes, I’m happy”. Bagi yang sudah paham sosok Strange, tentu kita tahu jawaban sesungguhnya. Dengan segala kekuatan yang ia miliki, Strange tetap tidak bisa mendapatkan hati Rachel. Tema ini sebelumnya telah dieksplorasi begitu brilian dalam seri What If…? di episode “What If… Doctor Strange Lost His Heart Instead of His Hands?”. Seri pendek ini adalah salah satu kisah terbaik dalam MCU. Strange yang menjadi kuasa tanpa tanding di multiverse tetap tidak mampu menemukan apa yang ia cari, justru sebaliknya, penderitaan tiada akhir. Madness adalah versi kecil dari kisah ini dengan membawa sosok Wanda bersamanya. Dua sosok terkuat ini rupanya masih belum bisa move-on dari konflik batin mereka. Buku hitam yang dimiliki Wanda justru membawanya semakin tersesat. Kisah film ini, sederhananya adalah proses perjalanan dua sosok ini mencari jawaban dari pertanyaan di atas. Terasa klise memang, namun dengan segala kerumitan kisahnya, pesan kecil ini tersaji baik dengan emosi cukup menyentuh.

Doctor Strange in the Multiverse of Madness membawa MCU ke ranah multiverse lebih jauh lagi dengan segala pesona visual serta kejutan kedalaman emosinya. Bagi penikmat MCU, terdapat beberapa kejutan kecil yang mirip No Way Home baru lalu. Seisi bioskop mendadak menjerit ketika sosok-sosok cameo besar ini bermunculan. MCU bakal sukses komersial besar lagi kali ini, walau mungkin angkanya tidak sebesar No Way Home. Bagi MCU sendiri, ini bakal memanjakan para fansnya dengan kisah yang semakin menggila dengan eksplorasi cerita yang sudah tidak terukur. Kita tunggu saja kejutan dalam film-film MCU ke depannya. Are you happy?   

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaMoon Knight
Artikel BerikutnyaEscape the Field
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.