Dolittle (2020)
101 min|Adventure, Comedy, Family|17 Jan 2020
5.6Rating: 5.6 / 10 from 70,960 usersMetascore: 26
A physician who can talk to animals embarks on an adventure to find a legendary island with a young apprentice and a crew of strange pets.

Kisah klasik Doctor Dolittle adaptasi buku karya Hugh Lofting, kini kembali dibuat filmnya yang digarap oleh Stephen Gaghan. Pada tahun 1998, filmnya pernah dibuat (Dr. Dolittle) dengan bintang Eddie Murphy yang kisahnya lepas dari novelnya. Kini, film terbarunya, Dolittle, dibintangi aktor kondang Robert Downey Jr., Michael Sheen, Antonio Banderas, serta didukung nama-nama besar sebagai pengisi suara binatang, antara lain Emma Thompson, Tom Holland, Rami Malek, John Cena, Kumal Nanjiani, Ralph Fiennes, Olivia Spencer, Marion Cotillard, serta Selena Gomez. Lantas mampukah Dolittle punya kualitas sebesar nama-nama para pemerannya?

Dolittle adalah dokter hewan yang memiliki kelebihan berbicara dengan binatang. Sepeninggal sang istri, Dolittle seperti kehilangan gairah hidup. Ia mengasingkan diri di dalam istananya tanpa mau lagi membuka praktek bagi binatang-binatang yang sakit. Suatu ketika, sang ratu sakit keras, dan kerajaan Inggris memanggil Dolittle untuk mengobatinya. Diagnosa mengharuskan Dollitle dan rekan-rekan binatangnya untuk mencari buah ajaib yang ada di sebuah pulau misterius jauh di lautan. Petualangan pun dimulai.

Konon, film ini lebih loyal pada bukunya ketimbang versi Eddie Murphy yang hanya mencaplok sosoknya saja. Saya memang tak pernah membaca bukunya tapi dari apa yang disajikan, semuanya ambyar. Semua serba cepat dan memaksa. Alur plotnya seperti tak sabar untuk menampilkan adegan aksi demi aksi dengan tidak menekankan pada substansi cerita yang mengindahkan logika penceritaannya sendiri. Banyak hal yang hilang dan terlewat, serba tak berproses. Adegan seringkali melompat jauh, misal dari aksi bahaya mendadak dalam situasi yang nyaman. Sebenarnya ini tidak mengapa, namun karena terlalu sering, mood menjadi hilang dan kita tidak mampu larut ke dalam kisahnya.

Baca Juga  Murder on the Orient Express

Satu hal yang menjadi daya tarik, tentu adalah sang bintang utama. Setelah sang aktor sukses berperan menjadi sosok superhero ikonik Marvel, kini ia harus berperan dalam karakter yang sama sekali berbeda. Sukseskah aktingnya? Bagi saya sangat menggelikan. Downey berusaha keras menjauh dari sosok Tony Stark, namun uniknya, ia justru mendekat ke sosok Capt. Jack Sparrow (Johnny Depp). Dengan aksen Inggris yang tanggung, dan gesturnya, sosoknya malah ada di tengah-tengah antara Tony Stark dan Jack Sparrow, bisa terbayang? Saya tidak tahu persis apakah sosok asli di bukunya memang seperti ini tapi seolah ada yang hilang dari karakter Dolittle.

Di luar pencapaian visual yang menawan dan sisi humornya, Dolittle terjebak dalam plotnya yang lemah, memaksa, dan absurd. Ini mungkin tak masalah untuk target penontonnya serta fans sang aktor bintang, namun jelas bukan untuk penikmat film reguler. Ini mungkin juga menjawab mengapa film ini tidak diputar di bioskop terbesar di kota Jogja. Magnet terbesar Dolittle adalah sang bintang, namun dengan performanya justru menjadi bumerang untuk filmnya. Jika sukses komersial, tentu sekuelnya bakal diproduksi, namun sepertinya film ini bakal jauh dari harapan.   

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaSurat dari Kematian
Artikel Berikutnya1917
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.