Elvis (2022)
159 min|Biography, Drama, Music|24 Jun 2022
7.3Rating: 7.3 / 10 from 255,583 usersMetascore: 64
The life of American music icon Elvis Presley, from his childhood to becoming a rock and movie star in the 1950s while maintaining a complex relationship with his manager, Colonel Tom Parker.

Tak banyak memang, biopik musikus legendaris yang bagus, sebut saja Straight Outta Compton, Walk the Line, Rocketman hingga Bohemian Rhapsody. Superstar legendaris, Elvis Presley akhirnya mendapat filmnya sendiri setelah beberapa kali sosoknya hanya disinggung sekilas dalam beberapa film lain, termasuk Walk the Line. Satu hal yang menarik di sini adalah sang sineas asal Australia, Baz Lurhmann. Musik bukan hal asing bagi Lurhmann, seperti Moulin Rogue!. Siapa sangka film ini sudah berumur lebih dari dua dekade lamanya. Lurhmann seperti kita tahu memiliki gaya pendekatan estetiknya yang khas, kombinasi unsur musik, sinematografi dinamik, hingga gaya editing cepat.

Bermain dalam film berbujet USD 85 juta ini adalah bintang senior Tom Hanks serta aktor muda Austin Butler sebagai Elvis. Kebanyakan bintang lainnya adalah aktor-aktris Australia, antara lain Olivia DeJonge, Richard Roxburg, Luke Bracey, hingga David Wenham. Film ini diproduksi awal di Australia bersamaan datangnya pandemi pada Januari 2020 yang konon selesai setahun kemudian. Lantas, apakah waktu selama ini mampu membuat film ini berada di level film-film biopik legenda musik di atas?

Seperti film biopik kebanyakan, film berdurasi 159 menit ini mengambil rentang waktu sejak Elvis masih bocah hingga ajalnya ketika berumur 42 tahun. Uniknya, film ini dituturkan melalui sudut pandang sang manager, Kolonel Tom Parker (Hanks) yang sekaligus menjadi narator. Sosok sang manajer digambarkan sebagai seorang antagonis ketimbang protagonis. Melalui sang kolonel kisahnya dituturkan secara dinamis dan cepat dengan penggunaan teknik montage yang dominan, dan tentunya gaya estetik sang sineas. Bagi saya, sang sineas adalah masalah terbesar filmnya.

Begitu tahu bahwa Lurhmann yang menggarap film ini, satu hal yang saya takutkan pun terjadi. Bagi yang tak asing dengan sang sineas, gaya penuturan estetiknya memang jauh lebih menonjol ketimbang narasinya. Elvis bukanlah film biopik normal layaknya Walk the Line dan Bohemian Rhapsody yang banyak mengedepankan sisi drama dan emosi. Dengan kemasan yang sedemikian atraktif, saya kehilangan banyak koneksi emosional sehingga kita tak bisa benar-benar merasa dekat dengan sosok-sosoknya. Problem demi problem berjalan sedemikian cepat tanpa bisa kita cerna sepenuhnya. Seolah, film ini dibuat bagi orang yang sudah tahu dan pernah membaca biografi Elvis. Banyak hal yang terlewat karena tak ada momen dramatik di sana. Bahkan musik, yang menjadi tema dan konsepnya, nyaris tidak pernah bisa kita nikmati utuh karena selalu dijeda dialog atau suara narator. Bagi saya ini amat sangat mengganggu.

Baca Juga  Hanya Namamu dalam Doaku | REVIEW

Namun, sejak segmen debut Elvis manggung di Texas (sekitar durasi 90 menit). Secara perlahan film ini mulai menemui bentuknya dan mulai mendapatkan emosinya. Segmen konsernya diulur lama dan kita pun bisa menikmati beberapa nomor ikonik sang legenda. Emosi semakin bertambah masuk seiring suramnya kehidupan Elvis yang terperangkap menjadi mesin penghasil uang untuk sang kolonel. Hingga klimaks yang emosional menyuguhkan satu cuplikan footage aslinya, di mana ia melantunkan lagu untuk terakhir kalinya (di panggung) sebelum wafat. Apakah segmen paruh dua filmnya mampu mengangkat filmnya? Ya, hanya saja, film ini tidak mampu menggambarkan utuh siapa sosok Elvis sebenarnya, entah karena naskah, entah gaya penyutradaan, bisa pula kombinasi keduanya. Siapa yang “membunuh” Elvis? Saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Elvis butuh satu biopik yang normal.

Dengan gaya pendekatan estetiknya yang khas, Elvis adalah milik Lurhman bukan Elvis. Siapa pun mengamini bahwa Lurhmann adalah seorang sineas hebat, hanya saja, apakah ia sosok yang tepat untuk mengarahkan film ini? Moulin Rouge menjadi film musikal istimewa karena kisahnya adalah cerita fiksi yang didukung pendekatan sinematik yang tepat. Pendekatan Lurhmann bekerja sempurna di sini. Bagi saya, untuk konteks biopik rock, Walk the Line dan Bohemian Rhapsody masih jauh lebih superior.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaKeluarga Cemara 2
Artikel BerikutnyaMinions: The Rise of Gru
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses