Escape the Field adalah film thriller arahan Emerson Moore yang dibintangi oleh Jordan Claire Robbins, Theo Rossi, dan Shane West. Film yang dirilis platform Amazon Prime ini memiliki latar setting eksterior hanya di sebuah ladang jagung yang luas. Layaknya, permainan escape room dengan set unik, film ini memiliki ide dan premis menarik untuk level produksinya.

Sam (Robbins) terbangun sendirian di tengah ladang jagung dengan pistol dan satu buah peluru di sampingnya. Ternyata ia tidak sendirian, empat orang lain juga terjebak di tempat tersebut dengan beberapa item di tubuh mereka, yakni lentera, sebungkus korek api, kompas, dan belati. Sambil mencari tahu apa yang terjadi dengan mencoba mencari jalan keluar, mereka harus berhadapan pula dengan sesosok “monster” yang memangsa mereka satu persatu.

Sejak awal, kisahnya memang mengusik rasa penasaran kita. Separuh durasi pun, plotnya masih mampu menjaga intensitas misteri dan ketegangan. Kunci tipikal thriller permainan survival macam ini selain prosesnya adalah motif. Siapa orang-orang ini? Mengapa mereka? Untuk apa mereka berada di sana? Semuanya harus terjawab. Film ini banyak mengingatkan pada Predators (2010), The Maze Runner (2014), dan Into the Tall Grass (2019). Escape the Field adalah kombinasi ketiganya plus permainan teka-teki ala Escape Room. Kombinasi ini patut diapresiasi, namun hingga akhir, substansi kisahnya (tiga pertanyaan di atas) tidak pernah terjawab dengan lugas. Ini yang menjadi kegagalan terbesar filmnya. Ending-nya memang memberi petunjuk besar, tapi tetap tidak menjawab apa pun.

Escape The Field memiliki premis thriller yang menjanjikan namun malah tersesat dalam prosesnya. Melalui para kastingnya yang bermain bagus dan setting “minimalis” yang mengesankan, film ini sebenarnya mampu dieksplorasi lebih dalam lagi. Latar belakang tokoh-tokohnya semestinya punya relasi kuat dengan situasi uji coba tersebut. Apa yang mereka hadapi, entah itu eksperiman pemerintah, alien, ranah gaib, atau lainnya, tidak punya sesuatu yang kuat untuk kita bisa peduli dengan tiap karakternya. What’s the point? Jika ingin mencari film yang lebih baik, ketiga judul film di atas bisa jadi acuan, atau jika kamu mau plot bertahan hidup dan saling bunuh, bisa tonton seri The Hunger Games atau Battle Royale (Jepang), atau The Hunt. Semua film ini punya motif, alasan, serta pesan yang jelas.

Baca Juga  Coming 2 America

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaDoctor Strange in the Multiverse of Madness
Artikel BerikutnyaThe Northman
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.