Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga (2020)
123 min|Comedy, Music|26 Jun 2020
6.5Rating: 6.5 / 10 from 102,053 usersMetascore: 50
When aspiring musicians Lars and Sigrit are given the opportunity to represent their country at the world's biggest song competition, they finally have a chance to prove that any dream worth having is a dream worth fighting for.

Film tentang sebuah kontes lagu memang jarang diproduksi. Kali ini, Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga mengambil latar cerita kontes lagu Eurovision yang amat populer di Eropa, seperti halnya American Idol di AS. Tak tanggung-tanggung, film yang dirilis Netflix ini menampilkan beberapa bintang top, sebut saja Will Ferrel, Rachel McAdams, Pierce Brosnan, Dan Stevens, Demi Lovato, hingga beberapa penyanyi ternama mantan kontestan Eurovision tahun-tahun sebelumnya.

Alkisah Lars (Ferrel) dan Sigrit (McAdams) yang tinggal di satu kota kecil di Islandia, memiliki kecintaan menyanyi sejak mereka kecil dengan grup musik, Fire Saga. Lars punya ambisi untuk menjadi pemenang Eurovision, kontes lagu terbesar di Eropa. Harapan Lars menjadi kenyataan ketika secara acak, mereka terpilih menjadi salah satu kontestan di ajang menyanyi di negara mereka. Rupanya keberuntungan memang berada di tangan mereka hingga akhirnya mereka bisa mewakili Islandia di ajang Eurovision.

Walau latar cerita bukan di AS, namun gaya guyonan ala Will Ferrel yang ceplas ceplos dan konyol, tetap saja tak jauh berbeda dengan film-film sang bintang sebelumnya. McAdams yang biasa bermain dalam drama serius pun terlihat kagok dalam filmnya, kontras dengan sosok Lars. Terlebih dengan aksen lokal yang tak pernah mereka perankan. Kisahnya sendiri, sama seperti komedi romantis kebanyakan, tak sulit untuk diantisipasi, dengan sisipan komedi konyol dari Ferrel yang sering kali berlebihan. Tanpa Ferrel, bisa jadi film ini bekerja lebih baik. Bicara oleh vokal, Will Ferrel memang bernyanyi menggunakan vokalnya sendiri, namun McAdams, kabarnya di-mix dengan suara penyanyi Swedia, Molly Sanden. Tentu saja. Apa lagi yang mau diharapkan dari suara vokal sebaik itu.        

Baca Juga  Nightmare Alley

Ringan dan menghibur, tak lebih, Eurovision Song Contest: The Story of Fire Saga menarik perhatian melalui segmen musikal dan komedinya dengan para bintang topnya yang tampil hanya sebagai pajangan. Suasana kompetisi yang diharapkan juga tak menggigit seperti yang kita harapkan. Bagi pembaca yang suka dengan kombinasi musik dan komedi, film ini bisa menjadi tontonan selingan. The High Note yang rilis baru lalu tetap menjadi pilihan utama jika kamu menyukai genre sejenis ini.   

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaForce of Nature
Artikel BerikutnyaThe Old Guard
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.