F9: The Fast Saga (2021)
143 min|Action, Crime, Thriller|25 Jun 2021
5.2Rating: 5.2 / 10 from 163,548 usersMetascore: 58
Dom and the crew must take on an international terrorist who turns out to be Dom and Mia's estranged brother.

Masih ingat benar film ini seharusnya dirilis bulan April tahun lalu. Jujur saja, waktu itu sudah tidak ada keinginan untuk menonton filmnya, mengapa? Film ini sudah terlalu absurd bagi saya. Aksinya sudah tidak lagi bisa dinikmati, apalagi kisahnya. Pandemi seperti merubah banyak mindset banyak orang. Juga termasuk penikmat film, mungkin juga saya. Mungkin mereka sudah haus akan hiburan sehingga apa saja yang ada dianggap sebagai pemuas dahaga setelah sekian lama tidak menonton dianggap baik. Aneh, banyak film buruk (menurut saya) diapresiasi terlalu tinggi, sebut saja WW84, Justice League’s Snyder Cut, dan terakhir Kong. F9? Rasanya ini yang terburuk diserinya.

Rekan saya pernah berkelakar soal masa depan seri ini, jangan-jangan besok Toretto cs mengikat mobil mereka dengan roket dan terbang ke luar angkasa. OMG! Saya tidak menyangka jika ini sungguh-sungguh terjadi. Kekonyolan aksinya semakin menjadi dari seri ke seri, setidaknya sejak seri 6. Seri 5 masih yang terbaik di serinya yang menjadi landasan formula plot untuk seri berikutnya hingga kini. Bicara aksi, hingga kini balapan antara Dom dan Brian di seri pertama walau hanya di track lurus bagi saya masih yang paling berkesan, terlebih untuk tata suaranya. Tidak ada lawan!

Apa masalah F9? Aksi absurdnya tak terhitung. Tidak akan ada sosok yang mati di seri ini. Lucunya, di film ini, sosok Roman mencoba berfilosofi ria dengan nasib mereka yang tidak hanya sekedar beruntung, namun ada sesuatu yang lebih besar dari ini hingga setelah sekian lama, Roman tidak pernah lecet sedikitpun. Mungkin ini satu-satunya hal yang saya paling suka di plotnya. Mereka mengolok mereka sendiri. Bicara family? Rasanya lelah sekali saya mendengarnya dari seri ke seri. Inti plot F9 memang benar-benar family. Sang antagonis adalah saudara kandung Dom dan Mia. Mengapa kita tidak pernah mendengarnya dari dulu? Ya bisa-bisa saja. Mati saja bukan masalah. Besok mungkin, Dom punya saudara sepupu super jahat yang entah kini dia di mana.

Baca Juga  Victor Frankenstein

Fans serinya bisa jadi masih tergila-gila dengan aksi absurd macam ini, tapi sudah tidak lagi untuk saya. Semua juga tahu, apapun kisahnya sudah tidak lagi masalah karena nama besar serinya sudah menjadi jaminan untuk meraup ratusan juta dollar. Sekuelnya, pasti bakal terus diproduksi entah sampai kapan. Setidaknya saya hanya berharap sebuah aksi dan cerita yang solid bisa dinalar dan tidak memaksa untuk kisah dan genrenya. Pesan keluarga yang jadi jargon seri ini justru malah menjadi kelemahan plotnya yang mudah sekali diantisipasi. Coba kita lihat, mau sampai mana seri ini? Spin-off, macam Hobbs & Shaw atau bisa jadi serialnya mudah sekali diproduksi, setidaknya ini bisa jadi opsi lain untuk mengatasi kejenuhan serinya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaGas Kuy
Artikel BerikutnyaInfinite
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.