Fear Street 3 (2021)
112 min|Horror, Mystery|16 Jul 2021
Rating: Metascore: N/A
The origins of Sarah Fier's curse are finally revealed as history comes full circle on a night that changes the lives of Shadysiders forever.

Fear Street Part Three 1666 (FS 1666) adalah seri final dari trilogi horor Fear Street yang dirilis Netflix sejak tiga minggu lalu. Sama seperti dua pendahulunya sebelumnya, seri ketiga ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya R. L. Stine dan disutradarai oleh Leigh Janiak. Film ketiga berdurasi dua jam ini dibintangi nyaris seluruh kasting seri pertama dan keduanya, antara lain Kiana Madeira, Benjamin Flores Jr., Ashley Zukerman, serta Gillian Jacobs. Lantas, apakah seri final ini mampu menuntaskan trilogi ini dengan memuaskan?

Plot besar FS 1666 dibagi menjadi dua segmen, yakni masa lalu (1966) dan sekarang (1994). Melanjutkan kisah seri keduanya, Deena (Madeira) kembali ke masa lalu, yakni tahun 1666, awal di mana malapetaka di Shadyside bermula. Setelah Deena mengetahui dalang di balik semuanya, bersama Josh, Ziggy (tua), dan Martin (tahanan sherrif), mereka berusaha untuk mematahkan kutukan di kota ini sekaligus menyelamatkan sang kekasih, Sam. Jelas tidak mudah karena lagi-lagi mereka harus menghadapi para tukang jagal dari masa lalu yang tidak bisa dibinasakan begitu saja.

Sebelum masuk ke dalam ulasan seri ketiga ini. Saya mencatat hal yang unik dalam ketiga seri ini. Plot film FS 1666 layaknya dua film yang terpisah waktu amat jauh, lebih dari 300 tahun. Satu segmen plot adalah asal usul kutukan Shadyside dan satunya ending dari kutukan tersebut. Segmen pertama, lini masanya berada jauh sebelum seri ke satu dan ke dua, sementara segmen kedua adalah sesaat setelah peristiwa seri pertama. Sementara seri kedua, lini masanya juga terjadi sebelum seri pertama. Jadi, FS 1666 adalah prekuel dan sekaligus sekuel. Jadi jika diurutkan adalah sebagai berikut: 3A (1666), 2 (1978), 1 (1994), lalu 3B (1994). Struktur serinya adalah nonlinier. Satu hal yang langka dalam sebuah trilogi film, terlebih genrenya.

Seri ketiga (segmen 1666) menjawab semua pertanyaan pada seri pertama dan kedua. Segmen pertama ini secara detil mengisahkan Sarah Frier yang uniknya menggunakan sosok Deena sebagai mediumnya. Tidak hanya Deena, namun juga Sam, Josh, Ziggy (muda), Cindy (muda), dan lainnya, sehingga kita tahu relasi antar tokoh dalam kisah ketiga serinya secara keseluruhan. Ini tentu memudahkan pula untuk mencerna inti plot dan relasi antara konflik seri pertama dan kedua dengan segmen 1666 ini. Konsep pengaturan tokoh dan lini masa dalam ketiganya harus diakui memang brilian. Naskahnya mampu membuat satu cerita yang kompleks menjadi sederhana.

Baca Juga  The Sound of Metal

Segmen kedua seri ketiga (1994) jauh berbeda dengan seri pertama filmnya, di mana kala itu Deena dan Josh bertindak sembrono dan spekulatif terhadap hal-hal yang sama sekali tidak mereka pahami. Kini, dengan segala informasi yang utuh, aksi-aksinya menjadi lebih menegangkan dan menghibur untuk ditonton. Motif begitu kuat dan ancaman menjadi begitu terasa karena tokoh-tokohnya tahu benar apa yang kini mereka hadapi. Sosok Martin yang merupakan pemain baru, menjadi selipan humor di antara aksi brutalnya. Ini berbeda jauh dengan seri pertama yang hanya mengumbar aksi kucing-kucingan dan aksi brutal semata.

Seperti seri pertama dan kedua, setting kembali menjadi satu poin besar dalam kisahnya. Seri ketiga yang membangun satu pemukiman masa silam terlihat meyakinkan. Musik dan lagu, yang tidak banyak saya bahas di ulasan sebelumnya, memang membantu suasana intens pada banyak adegan pada ketiga serinya. Lagu-lagu pop dan rock populer pada masing-masing eranya juga pas mendampingi beberapa kali segmen montage-nya yang menawan. Para kastingnya juga bermain baik, hanya saja di seri ketiga ini, aksen dialog masa silamnya (1666) masih terasa kurang greget, walau tampak mereka sudah berusaha.

Fear Street Part Three 1666 adalah sebuah resolusi yang memuaskan dengan kombinasi cerita unik serta segmen klimaks yang intens. Satu paket trilogi horor ini dengan segala tribute-nya adalah sebuah pencapaian langka dalam genrenya. Sangat disayangkan, ketiga film ini tidak bisa kita saksikan di bioskop. Film ini pasti bakal membuat sensasi penonton yang luar biasa, terlebih di sini. Bicara tema, kita semua sudah tahu ke mana arah seri ini sejak awal. Bagi yang pro dan kontra, saya tidak mau mengambil posisi selain hanya menghargai aspek cerita dan filmis yang disuguhkan trilogi horor ini. Cara bertutur dan kisahnya yang berseri bisa jadi bakal tren di masa datang. Konon trilogi ini kini tengah trending, sayang, tidak ada angka box-office yang bisa mengukur kesuksesan film ini.

baca ulasan: Fear Street Part One 1994     Fear Street Part Two 1978

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaSpace Jam: A New Legacy
Artikel BerikutnyaThe Forever Purge
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.