Below Zero (2021)
106 min|Action, Drama, Thriller|29 Jan 2021
6.2Rating: 6.2 / 10 from 21,481 usersMetascore: N/A
On a lonely road, a prison transport is brutally assaulted. Martin, the policeman who was driving, survives and fortifies his position while the con men search for a way to finish him.

Cerita film dengan ruang terbatas memang bukan hal baru dalam film. Namun, ruang cerita ber-setting dominan mobil tahanan napi adalah satu hal yang jarang ditemui. Below Zero atau Bajocero adalah film aksi thriller produksi Spanyol arahan Fernando Navarro. Film rilisan Netflix ini dibintangi oleh aktor senior, Javier Gutierrez bersama Luiz Callejo, serta Karra Elejalde. Dengan berbekal kisah yang segar, lantas bagaimana film ini mengemas ketegangannya?

Martin (Guiterrez) adalah polisi senior yang baru saja dipindah posisinya. Di hari pertama bertugas, ia langsung mendapat tugas berat untuk memindahkan beberapa narapidana kelas kakap ke lokasi tahanan lain. Di malam yang dingin bersalju, mobil tahanan napi yang dibawa Martin dan rekannya berjalan melewati wilayah hutan dan pegunungan. Tak diduga, mobil tahanan tersebut dihentikan seseorang misterius yang mengincar satu tahanan di dalamnya. Martin dengan segala upaya berusaha melindungi para tahanan sementara di saat bersamaan para napi melihat ini sebagai peluang untuk kabur.

Tanpa banyak latar cerita, kisahnya langsung bergerak to the point yang tak seberapa lama kita sudah berada di jalanan. Plotnya di momen awal, sanggup memancing rasa ingin tahu kita karena penonton tak tahu mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi. Kisah pun menjadi semakin menegangkan ketika Martin pun memutuskan untuk berlindung di dalam mobil tahanan bersama para napi. Posisi Martin di dalam ruang sempit dan serba tak menentu inilah yang membuatnya kisahnya menarik dan mengusik rasa penasaran. Simpati kita hanya terbatas pada sosok Martin, namun berkembangnya cerita, meluas ke para tahanan hingga sosok misterius tersebut. Ini yang menjadi masalah dan mulai mereduksi ketegangannya.

Baca Juga  The Mitchells vs. the Machines

Apa yang dilakukan sosok misterius ini dalam satu momennya bisa jadi mampu mengundang rasa simpati kita. Siapa pun bakal terganggu mentalnya dengan rasa trauma sebesar itu. Namun, alangkah muspranya segala aksi “mulia”nya ketika ia melibatkan (baca: mengorbankan) orang-orang yang tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Baik proses hingga eksekusi akhir menjadi terasa sia-sia. Aksi Martin yang mudah kita antisipasi juga tidak lantas membuatnya menjadi mulia. Orang lain bisa beranggapan berbeda. Saya hanya tidak suka dengan apa yang saya lihat.

Dengan premis yang menarik dan segar, Below Zero menyajikan sebuah thriller aksi menawan walau dalam beberapa momen terasa dipaksakan. Setidaknya, film ini telah mencoba menyajikan sesuatu yang baru dengan hanya berbekal ruang sempit. Con Air (1997) bisa jadi adalah satu contoh film terdekat yang boleh dibilang lebih menghibur. Menjaga intensitas ketegangan memang bukan hal yang mudah, terlebih kisah yang memiliki nilai serta sisi humanis yang kental. Dunia kini boleh jadi sudah gila dengan segala masalahnya. Tetapi ini bukan menjadi alasan bagi kita untuk ikut terseret di dalamnya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaPalmer
Artikel BerikutnyaPromising Young Woman
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.