Herself (2020)
97 min|Drama|08 Jan 2021
7.0Rating: 7.0 / 10 from 4,688 usersMetascore: 70
A young mother escapes her abusive husband and fights back against a broken housing system. She sets out to build her own home and in the process rebuilds her life and re-discovers herself.

Herself adalah film drama keluarga produksi Inggris yang diarahkan oleh Phyllida Llyod yang lama vakum setelah menggarap dua film sukses, Mamma Mia! (2008) dan The Iron Lady (2011). Tidak seperti dua film ini yang sarat dengan bintang besar, kini ia menggandeng beberapa aktor-aktris panggung lokal, antara lain Clare Dunn, Harriet Walter, Conlet Hill, serta Cathy Belton. Jujur saja, film ini jauh lebih baik dari dua film terakhirnya.

Setelah pisah rumah akibat perlakukan brutal sang suami, Sandra mendapatkan hak asuh atas kedua putrinya yang masih kecil dan tinggal sementara di hotel murah dekat bandara. Ia bekerja apa saja agar kedua putrinya bisa hidup lebih baik dengan masih dalam pengawasan ketat aparat hak asuh negara. Suatu ketika, majikan di tempat ia bekerja menawarkan tanahnya untuk dibangun rumah yang bisa ia tempati. Sandra pun melakukan apapun untuk membangun rumah ini dengan segala rintangan di depannya.

Kisah perjuangan hidup sejenis rasanya sudah tak terhitung banyaknya diangkat dalam medium ini. Namun, Herself memiliki kekuatan tersendiri yang tidak dimiliki kebanyakan film lainnya. Naskahnya yang solid ditunjang performa para pemain utamanya, membuat kita begitu mudah larut dalam kisahnya. Penampilan Clare Dunn didukung dua aktris cilik yang luar biasa, Molly McCann dan Ruby Rose O’hara begitu mencuri perhatian. Ketiganya mampu bermain begitu luwes dan natural. Chemistry antara ibu dan kedua putrinya sungguh tak dapat dipercaya, laiknya mereka adalah ibu dan anak sungguhan. Sejak awal hingga akhir, chemistry-nya tanpa cacat sedikit pun. Rasanya saya belum pernah melihat chemistry ibu–anak sekuat ini.

Baca Juga  The God Committee

Sentuhan sang sineas sendiri juga tak kalah berperan. Saking larutnya kita dalam kisah filmnya, beberapa pencapaian teknis bagus seolah terlewatkan. Teknik montage seringkali disajikan dengan sangat mengesankan dalam banyak adegan, serta tentu elemen musikalnya. Beberapa tembang pop populer disajikan mengikuti mood adegan (lirik) dengan amat manis hingga bahkan sang pemain sendiri bernyanyi dalam satu adegannya. Satu nomor klasik karya J.S. Bach secara elegan mengiring salah satu adegan krusialnya. Sang sineas memang tahu betul bagaimana menggunakan musik dalam filmnya.

Drama bertema sejenis memang sudah membludak, namun Herself dengan kekuatan kasting dan sentuhan sang sineas membuat film ini menjadi salah satu yang terbaik di genrenya. Temanya memang sudah biasa, namun film ini luar biasa dalam pengemasannya. Pesannya memang abadi dan tak lekang waktu yakni tentang kasih sayang, persahabatan, selalu ikhtiar dan berbuat baik. Apa ini cukup untuk bahagia? Ya, walau kadang hidup tidak seperti yang kita maui. Coba kamu tanya saja Sandra.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaPieces of a Woman
Artikel BerikutnyaHorizon Line
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.