His House (2020)
93 min|Drama, Horror, Thriller|30 Oct 2020
6.5Rating: 6.5 / 10 from 48,205 usersMetascore: 72
A refugee couple makes a harrowing escape from war-torn South Sudan, but then they struggle to adjust to their new life in an English town that has an evil lurking beneath the surface.

His House merupakan film horor arahan Remi Weekes yang dirilis oleh Netflix pada bulan Oktober lalu. Film produksi BBC Films ini dibintangi oleh aktor-aktris Inggris, Wunmi Mosaku, Sope Dirisu, serta Matt Smith. His House memiliki nuansa kental isu imigran dan secara unik mengkombinasinya dengan tema horor konvensional.

Bol dan Rial adalah sepasang suami istri yang merupakan pengungsi asal Sudan. Setelah menanti sekian lama di pengungsian yang berlokasi di Inggris, akhirnya mereka mendapatkan kesempatan untuk hidup normal di sebuah wilayah pinggiran kota dalam pengawasan supervisor. Pasangan tersebut mendapat tempat tinggal yang layak dengan harapan besar menanti mereka. Semalam di rumah tersebut, Bol dan Rial merasakan ada sesuatu yang janggal di rumah tersebut yang tidak hanya menganggu secara fisik, namun juga menguak masa lalu mereka yang kelam.

Plotnya memang terasa konvensional untuk genrenya. Tema “haunted house” telah dieksplorasi ratusan kali, namun tidak seperti film ini. Bagi fans seri Conjuring rasanya sulit mendapat tempat di sini. His House memang tidak mengarah ke sini dan bukan inovasi jump scare dan sosok seram yang mereka tawarkan. Sementara penikmat horor multi level macam ini bisa jadi juga sudah tak asing selain melihat isu dan kedalaman temanya. His House mampu meresponnya dengan sangat baik. Sebuah kejutan kecil di pertengahan durasi mengubah segalanya dengan resolusi akhir yang solid.

Baca Juga  The Marvels

Walau tak bisa dibilang menghibur untuk ukuran genrenya, His House secara unik mampu mencampurkan plot rumah hantu dengan tema dan isu pengungsi dengan gaya berkelas. Banyak momen mencampurkan masa kini, masa lalu, dan imajinasi secara efektif. Sementara dua pemain utamanya bermain apik dengan ekspresi trauma yang begitu terasa sekali sepanjang filmnya. Seperti dalam banyak film horor, iblis bisa merupakan manisfestasi dari pikiran negatif, rasa bersalah, atau trauma berkepanjangan. Cukup hadapi kenyataan karena masa lalu tidak akan bisa diubah. Waktu yang akan menyembuhkan.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaPawn
Artikel BerikutnyaHappiest Season
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.