Horizon Line (2020)
92 min|Action, Adventure, Drama|12 Jan 2021
4.8Rating: 4.8 / 10 from 11,437 usersMetascore: N/A
A couple flying on a small plane to attend a tropical island wedding must fight for their lives after their pilot suffers a heart attack.

Horizon Line adalah film aksi thriller produksi Swedia arahan Mikael Marcimain. Namun uniknya, film ini justru menggunakan bahasa Inggris dengan dibintangi para pemain asal Amerika, sebut saja Alexander Dreymon, Allison Williams, dan Keith David. Mirip Shadow in the Cloud yang belum lama rilis, kisah filmnya sebagian besar ber-setting di dalam pesawat.

Setelah setahun berpisah, Sara dan Jackson yang mantan sepasang kekasih dipertemukan dalam acara pernikahan rekan mereka di satu wilayah kepulauan. Karena tertinggal rombongan utama, Sara pun harus menumpang pesawat baling-baling milik rekan lamanya yang ditumpangi pula oleh Jackson. Di luar dugaan, sang pilot di tengah perjalanan meninggal akibat terkena serangan jantung. Sara dan Jackson berusaha bertahan menerbangkan pesawat dengan bahan bakar yang menipis serta di bawah mereka adalah lautan luas yang jauh dari daratan.

Premisnya memang menarik dan kisah thriller dengan ruang terbatas semacam ini terhitung langka. Sayangnya, ide kisahnya tidak diimbangi naskah yang solid. Alut plotnya terlalu mudah untuk kita antisipasi. Unsur ketegangan pun tampak kurang menggigit sehingga penonton kurang bisa larut untuk masuk dalam kisahnya. Ini diperburuk pula dengan chemistry antara dua tokoh utamanya yang terasa lemah. Subplot relasi asmara antara Sara dan Jackson yang melatari konflik besarnya juga tidak terasa efeknya. Entah karena akting, entah dialog, yang jelas seberapa keras mereka berusaha, tetap saja ikatan mereka terasa kurang meyakinkan. Intinya, seberapa pun gentingnya situasi, semua terlihat bakal berakhir baik-baik saja. Kunci sebuah thriller adalah aksi ketegangan maksimal yang membuat penonton bisa melupakan alur kisah utamanya.

Baca Juga  Rebel Moon - Part Two: The Scargiver

Thriller dengan premis menjanjikan, sayangnya Horizon Line gagal membangun chemistry serta ketegangan yang cukup untuk membuat filmnya bisa lebih dekat dengan penonton. Setidaknya dari sisi aksi, adegannya lebih bisa dinalar ketimbang Shadow in the Cloud yang teramat absurd. Membuat film thriller yang mampu memompa maksimal adrenalin penonton memang tak mudah. Contoh thriler sejenis yang berlokasi di dalam pesawat yang terbilang berhasil, sebut saja Critical Decision (1996) dan Air Force One (1997). Sementara satu contoh thriller masterpiece walau setting-nya berbeda adalah garap Alfonso Cuarón, Gravity (2013).

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaHerself
Artikel BerikutnyaMonster Hunter
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.