Call adalah film horor thriller fantasi produksi Korea Selatan yang dirilis oleh Netflix. Film arahan Lee Chung-hyun ini dibintangi oleh Park Shin-hye, Jeon Jong-seo, serta Kim Sung-ryung. Sekali lagi, sineas Korea Selatan membuktikan dengan kembali mampu mengadopsi konsep cerita lawas dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih segar, intens, dan lebih suram.

Seo-yeon pulang untuk menjenguk ibunya yang sakit dan kembali ke rumah masa kecilnya. Secara misterius, Seo-yeon ditelpon seorang gadis asing yang mengaku tinggal di alamat rumahnya. Usut punya usut, Seo-yeon pun akhirnya baru menyadari jika gadis yang menelponnya, Young-sook, adalah seseorang di masa lalu yang pernah tinggal dirumahnya. Mereka pun bermain dengan nasib dan Seo-yeon tak sadar jika mengubah masa lalu akan ada konsekuensinya di masa depan. Agak sulit memang untuk menjelaskan alur plotnya tanpa spoiler. Cara terbaik adalah menonton film istimewa ini.

Bagi penikmat film yang pernah menonton Frequency (2000), plot film ini jelas terasa sangat familiar. Dalam film ini, sang ayah melalui alat radio amatir mampu berkomunikasi dengan putranya di masa depan karena adanya anomali alam. Mereka pun mencoba untuk merubah masa lalu yang berdampak secara spontan ke masa depan. Plotnya mirip sekali dengan Call pada paruh segmen awal, tidak hingga haluan cerita berubah total di paruh kedua.

Tidak seperti Frequency, Call mengambil rute plot yang lebih dalam dan gelap. Permainan mengubah nasib menjadi permainan hidup mati yang begitu menegangkan meyajikan kucing-kucingan antara masa lalu dan masa depan. Naskahnya memang brilian. Aksi dan reaksi begitu intens dan solid. Permainan waktu menjadikan sisi misteri, ketegangan, dan kejutan, amat sulit untuk ditebak arah kisahnya. Masa depan menjadi tak pasti. Apapun bisa terjadi dan semakin plotnya berjalan, tempo ketegangan semakin tinggi pula.

Baca Juga  Squid Game - S2

Sisi ketegangan cerita diimbangi pula dengan sisi teknisnya yang amat mapan. Setting interior rumah yang selalu berubah dari momen ke momen ditampilkan secara meyakinkan. Editing, jelas menjadi kunci utama film ini dengan konsisten mampu menyelipkan atau menyembunyikan informasi dari penonton untuk menjaga ketegangan sekaligus mengejutkan penonton. Kekuatan terbesar jelas pada dua tokoh utamanya, khususnya Jeon Jong-seo yang bermain brutal sebagai Young-sook, sang psikopat.

Call memang tak lagi orisinal, namun film ini secara berani dan mengejutkan mampu mengeksplorasinya secara brilian dengan mengambil jalan yang lebih gelap. Berbeda dengan Frequency, satu hal kecil yang mengganjal hanyalah motif yang melatarbelakangi anomali sambungan telepon tersebut. Ini tak disinggung secara jelas. Film Korea lagi-lagi mampu mengungguli pesaing terberatnya dari barat sana dengan sentuhan yang berbeda. Call jelas bukan yang terakhir. Masih kita nantikan, kejutan apa lagi yang bakal kita dapatkan dari film-film produksi Korea Selatan di masa mendatang.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaBlack Beauty
Artikel BerikutnyaLove and Monsters
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses