Tak ada keraguan, pandemi panjang yang melanda umat manusia di bumi bakal menjadi tren dan “trauma” di masa mendatang, tak terkecuali medium film. Beberapa film bertema ini mulai muncul sekalipun masih berkelas medioker. Locked Down boleh jadi adalah film studio besar pertama (Warner Bros.) yang merilis tema ini dengan bintang-bintang besarnya, yakni Anne Hathaway, Chiwetel Ejiofor, serta Ben Stiller, Mandy Kaling, hingga Ben Kingsley. Sineasnya pun tak tanggung-tanggung, Doug Liman, yang kita kenal dengan film-film box-office, seperti Bourne Identity, Mr. & Mrs. Smith, Edge of Tomorrow, hingga American Made. Film berbujet hanya USD 3 juta ini dirilis melalui platform HBO Max.

Pandemi Covid-19 dan lockdown di kota London membuat frustasi banyak orang, tidak terkecuali pasangan Paxton (Ejiofor) dan Linda (Hathaway). Terjebak sekian lama di flat yang mereka tinggali membuat fisik dan mental mereka terganggu. Hubungan yang sudah merenggang semakin bertambah parah. Tidak hingga, Linda memiliki ide untuk mencuri berlian senilai USD 3 juta di tempat ia bekerja. Bersama Paxton yang bekerja sebagai pengantar barang, ia pun merencanakan segalanya dengan matang.

Jka saja, film ini rilis setahun lalu, bisa jadi tak akan ada orang yang mau menonton film “murah” macam ini. Idenya sederhana dan tampak sekali produksinya pun demikian. Bisa jadi, kru yang membuat film ini hanya beberapa gelintir orang saja dan lokasinya pun hanya dominan di satu lokasi. Layaknya film dokumenter, kualitas gambar dan audio jelas tidak sebaik film-film yang rilis di bioskop. Segalanya sudah lebih dari cukup untuk tema dan situasinya.

Film ini tentu membuat kita tersenyum geli melihat bagaimana hal-hal yang kita akrabi kini tersaji di filmnya. Work from home, meeting menggunakan zoom dan video call menjadi andalan, rutinitas yang membosankan dalam rumah, kiriman makanan cepat saji, dan kita kadang melakukan hal-hal gila di luar kebiasaan untuk lepas dari rasa bosan dan frustasi. Seperti Paxton yang membaca puisi di tengah jalan di gang rumahnya hingga Linda yang turut membuat ramai lingkungan dengan memukul panci.

Baca Juga  Pitch Perfect 3

Lalu plot utamanya, boleh jadi aksinya memang tidak seheboh film-film besar sejenis, macam seri Ocean Eleven atau Fast Five, namun situasi pandemi yang membuat film ini menjadi unik. Jalanan Kota London yang sepi, toko-toko yang tutup, protokol penggunaan masker, menjadi production value yang sempurna untuk kisahnya. Satu hal yang menjadi penekanan di sini adalah nuansa realisme adegannya. Kita bisa tahu benar sekarang, bagaimana kualitas akting Hathaway dan Ejiofor jika mereka berakting “normal”. Chemistry mereka berdua sangat brilian dan Ini dimanfaatkan benar sang sineas sebagai sisipan komedinya.

Locked Down jauh dari kata istimewa untuk genrenya (aksi pencurian), namun sebagai fenomena boleh dibilang sejauh ini film terbaik yang mengawali subgenre: Cov-19. Di masa mendatang, kita bakal melihat film-film sejenis diekplorasi dalam bentuk dan ragam. Saya sangat bergairah menanti bagaimana tema ini dikemas oleh para pembuat film dalam banyak variasi dengan lokasi di berbagai tempat di dunia. Semua orang pasti memiliki cerita. Bakal menarik, mencermati bagaimana medium dan industri film berubah begitu drastis terpukul oleh Cov-19, tidak hanya secara ekonomi dan sosial, namun juga secara estetik. Dalam perkembangan sejarah film telah membuktikan bagaimana medium ini selalu bisa bertahan dan keluar dari masa sulit.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaOutside the Wire
Artikel BerikutnyaRun Hide Fight
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.