Minari merupakan film drama arahan sineas asal AS, Lee Isaac Chung yang masih peranakan Korea Selatan. Cerita filmnya konon diadaptasi lepas dari kisah hidupnya yang ia tuangkan dalam naskah yang ia tulis sendiri. Film ini dibintangi beberapa aktor dan aktris asal Korea, Stephen Yeun, Han Ye-ri, Youn Yuh-jung, hingga aktor senior Hollywood, Will Patton. Kisah tentang imigran kelas bawah, jelas bukan hal baru. Satu contoh hangat adalah Tigertail yang dirilis Netflix bulan April tahun lalu.

Jacob dan istrinya adalah warga AS peranakan Korea. Tergiur harapan besar bermodal tanah puluhan hektar untuk bertani, Jacob mengajak istri dan keluarganya, Anne dan David untuk pindah ke wilayah perkebunan di Arkansas. Dengan berlatar 1980-an, film ini mengisahkan suka duka keluarga Jacob untuk menggapai kehidupan yang lebih baik untuk masa depan mereka.

Tema kemiskinan memang banyak sekali mewarnai medium film sejak era klasik hingga kini, sebut saja The Grapes of Wrath, The Bicycle Thief (Italia), Children of Heaven (Iran), To Live (Tiongkok), Not One Less (Tiongkok), hingga Tiger Tail baru lalu. Banyak dari film-film ini meraih apresiasi tinggi, baik dari pengamat maupun festival film. Minari sendiri tak banyak menawarkan sesuatu yang berbeda.

Tak ada yang istimewa dalam filmnya selain kisahnya yang membumi dan personal. Dengan tempo sedang, alur plotnya berjalan apa adanya (datar) mengikuti keseharian keluarga Jacob. Kisahnya semakin menarik ketika sang nenek masuk dalam kehidupan mereka. Momen-momen intim dan menyentuh justru ada pada hubungan antara sang nenek dan si kecil David. Di tengah-tengah kesulitan hidup mereka, momen-momen kecil ini memberi nuansa kehangatan tersendiri. Satu contoh kecil ketika sang bocah iseng memasukkan air seninya ke minuman neneknya hingga ia dihukum ayahnya, namun sang nenek tetap membelanya.

Baca Juga  Don't Breathe

Walau kisahnya tidak se-ekstrem To Live arahan Zhang Yi Mou, namun dengan pencapaian akting yang natural dari semua karakternya segalanya menjadi berisi. Sisipan pertikaian kecil antara sang ayah dan ibu tidak disajikan eksplosif, namun begitu mengena. Bahkan aktor sekelas Will Patton pun, tidak berusaha show off melalui perannya yang sederhana. Kasting keluarga Jacob semuanya sempurna, namun yang mencuri perhatian tentu adalah sang nenek yang diperankan Youn Yuh-jung. Ilustrasi musiknya yang sendu mengiringi kisah melodrama ini menjadi semakin menyentuh.

Melalui pendekatan yang membumi dan bersahaja, Minari memang bukan film pertama yang mengangkat isu kemiskinan kalangan imigran di AS, namun tema ini seolah tak pernah mati dan masih relevan hingga kini. Judulnya merujuk pada tanaman Minari (mirip seledri) yang bisa disayur atau untuk obat yang konon di Korea masa silam disajikan untuk makanan raja di musim tertentu. Uniknya, tanaman ini nyaris bisa tumbuh di mana saja, terutama negara tropis, hingga AS dan Australia. Sebuah metafora yang sempurna untuk kisah menyentuh tentang perjuangan satu keluarga imigran dalam menggapai mimpi mereka.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaNext Door Neighboor
Artikel BerikutnyaPieces of a Woman
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.