Monster Hunter (2020)
103 min|Action, Adventure, Fantasy|18 Dec 2020
5.2Rating: 5.2 / 10 from 68,052 usersMetascore: 47
When Cpt. Artemis and her loyal soldiers are transported to a new world, they engage in a desperate battle for survival against enormous enemies with incredible powers. Feature film based on the video game by Capcom.

Monster Hunter merupakan film aksi fantasi adaptasi game populer berjudul sama produksi Capcom. Film ini digarap sineas spesialis adaptasi game, Paul W. Arderson yang pernah menggarap film adaptasi Mortal Kombat, Alien vs Predator, Seri Resident Evil, Death Race, dan Death or Alive. Film berbujet USD 60 juta dibintangi aktis spesialis laga Milla Jovovich didampingi oleh Tony Jaa serta Ron Pearlman. Ini adalah untuk kesekian kalinya sang sineas berkolaborasi bersama Jovovich yang juga istrinya sendiri.

Dalam sebuah operasi militer di gurun, Kapten Natalie (Jovovich) dan timnya mengusut satu tim lain yang hilang tanpa bekas. Sebuah badai misterius mendadak muncul dan sang kapten bersama timnya terlempar jauh ke dimensi lain. Belum rasa terkejut hilang, satu monster raksasa menyerang mereka. Sang kapten bersama timnya berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup dan kembali ke dunia asal mereka.

Inti kisahnya sederhana sekali, hanya bertahan hidup. Bahkan dialognya jika digabung hanya belasan menit saja dari keseluruhan filmnya. Sang bintang, Jovovich, untuk kesekian kalinya menjadi perempuan tangguh pembunuh monster yang sudah ia akrabi sejak dua dekade lalu. Sosok sang kapten yang lebih manusiawi memang agak berbeda dengan perannya di seri Resident Evil yang dingin. Sosok Jovovich kini terlihat lebih menyenangkan untuk ditonton. Chemistry dengan partner barunya (Tony Jaa) secara sabar terjalin kuat walau tanpa dialog normal dengan beberapa kali sisipan humor yang memicu tawa penonton. Dua pertiga durasi filmnya memang lebih menghibur ketimbang segmen klimaks yang berjalan terasa cepat dan dipaksakan.

Baca Juga  The Menu

Monster Hunter memberikan beberapa sekuen aksi dan efek visual mengesankan serta mampu memberikan hiburan yang seperti apa yang diharapkan penikmat genrenya. Dibandingkan seri Evil, Monster Hunter memiliki pencapaian CGI yang jauh lebih baik. Segmen aksinya pun tak buruk, walau banyak mengingatkan pada film B-Movies ikonik, Tremors (1990). Ending-nya jelas membuka peluang sekuelnya, sayangnya jika saja dalam situasi normal, film ini pasti sudah meraup ratusan juta dollar secara global. Beruntung kita masih bisa menyaksikannya di bioskop, walau saya sangat terganggu dengan volume suara yang terlampau keras hingga harus mengganjal kuping dengan tissue!

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaHorizon Line
Artikel BerikutnyaBlack Box
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.