Monsters of Man (2020)
131 min|Action, Sci-Fi, Thriller|25 Dec 2020
5.3Rating: 5.3 / 10 from 3,639 usersMetascore: N/A
A US weapons manufacturer tests its 4 killer robots on heroin producers in the Golden Triangle in SEAsia. It goes haywire.

Monsters of Human adalah film fiksi ilmiah independen yang naskahnya juga digarap oleh sang sineas, Mark Toia. Penata kamera pun dipegang oleh sang sutradara sendiri. Film ini dibintangi nama-nama asing, terkecuali Neil McDonough yang seringkali kita lihat berperan sebagai sosok antagonis di film-film mapan. Film ini konon didanai dari sumbangan publik melalui website indiegogo.com. Tak banyak ekspektasi, namun di luar dugaan film ini mampu menunjukkan keterampilan sang sineas dalam mengolah adegan aksi dan ketegangan dengan segala keterbatasannya.

Perang perusahaan robot AI untuk militer kini tengah panas-panasnya. Salah satu perusahaan robot melakukan uji coba dengan mengirim empat robot terbarunya ke suatu wilayah pedalaman di Thailand yang disinyalir sebagai sarang perdagangan obat terlarang. Tak diduga, misi berbelok arah ketika satu robot mengalami malfungsi dan di lokasi pemukiman tersebut ternyata terdapat tujuh orang dokter muda asal AS dalam sebuah misi kemanusiaan dan satu orang mantan Navy Seal.

Ide kisahnya memang menarik, namun pengembangan plotnya begitu buruk. Tapi entah mengapa, film ini menarik untuk diikuti dengan sedikit harapan kejutan-kejutan kecil bakal terjadi. Nyatanya tidak. Plotnya bolak-balik ke kanan-kiri menggambarkan belasan karakternya yang membuat arah kisahnya seperti tak fokus. Bertahan hidup dari kejaran para robot sudah sering kita jumpai dan banyak film jauh lebih baik dari ini. Satu aspek cerita menarik di mana satu robot mencoba mencari eksistensi dirinya, sayangnya tidak mampu dieksplor lebih dalam. Hasilnya, film ini terasa tidak memiliki tujuan dan pesan yang kuat, pointless, selain hanya berlarian di hutan sementara di sisi yang berbeda para ilmuwan lugu diintimidasi oleh bos mereka. Hanya ini. Sepanjang film, satu opsi cerita lain membayang kuat yang punya potensi sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik.

Baca Juga  Outside the Wire

Satu sisi yang jarang ada di film-film sejenis adalah level kebrutalannya. Mustahil dalam film-film mainstream kita menonton seorang anak dan ibunya ditembak begitu sadis dalam film. Tak enak untuk dilihat tapi sense realitas terasa lebih kuat. Ini juga didukung oleh CGI yang tak buruk untuk level bujetnya. Walau jelas para robot disajikan dengan teknik animasi tapi keberadaan mereka terasa begitu nyata dan mengancam. Jika saja bujetnya lebih, rasanya film ini secara teknis bisa jauh lebih baik.

Di balik kebrutalan dan kisahnya yang pointless, Monsters of Human memiliki potensi cerita segar untuk genrenya. Jika saja naskahnya digarap lebih sabar, film ini bisa bersaing dengan film-film besar fiksi ilmiah lainnya. Terdapat satu momen memorable. Walau tak nyaman dilihat, adegan berkesan adalah ketika sang robot menganalisa organ manusia dengan membedah tubuhnya untuk mencari tahu eksistensi dirinya. Sang robot bahkan mengiris kulit wajah sang korban dan berkaca di cermin untuk melihat wajahnya sendiri. Jika film ini digarap lebih mapan, bisa jadi adalah salah satu adegan terbaik sepanjang masa untuk genrenya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Sound of Metal
Artikel BerikutnyaSafety
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.