Monsters of Man (2020)
131 min|Action, Sci-Fi, Thriller|25 Dec 2020
5.4Rating: 5.4 / 10 from 8,031 usersMetascore: N/A
A US weapons manufacturer tests its 4 killer robots on heroin producers in the Golden Triangle in SEAsia. It goes haywire.

Monsters of Human adalah film fiksi ilmiah independen yang naskahnya juga digarap oleh sang sineas, Mark Toia. Penata kamera pun dipegang oleh sang sutradara sendiri. Film ini dibintangi nama-nama asing, terkecuali Neil McDonough yang seringkali kita lihat berperan sebagai sosok antagonis di film-film mapan. Film ini konon didanai dari sumbangan publik melalui website indiegogo.com. Tak banyak ekspektasi, namun di luar dugaan film ini mampu menunjukkan keterampilan sang sineas dalam mengolah adegan aksi dan ketegangan dengan segala keterbatasannya.

Perang perusahaan robot AI untuk militer kini tengah panas-panasnya. Salah satu perusahaan robot melakukan uji coba dengan mengirim empat robot terbarunya ke suatu wilayah pedalaman di Thailand yang disinyalir sebagai sarang perdagangan obat terlarang. Tak diduga, misi berbelok arah ketika satu robot mengalami malfungsi dan di lokasi pemukiman tersebut ternyata terdapat tujuh orang dokter muda asal AS dalam sebuah misi kemanusiaan dan satu orang mantan Navy Seal.

Ide kisahnya memang menarik, namun pengembangan plotnya begitu buruk. Tapi entah mengapa, film ini menarik untuk diikuti dengan sedikit harapan kejutan-kejutan kecil bakal terjadi. Nyatanya tidak. Plotnya bolak-balik ke kanan-kiri menggambarkan belasan karakternya yang membuat arah kisahnya seperti tak fokus. Bertahan hidup dari kejaran para robot sudah sering kita jumpai dan banyak film jauh lebih baik dari ini. Satu aspek cerita menarik di mana satu robot mencoba mencari eksistensi dirinya, sayangnya tidak mampu dieksplor lebih dalam. Hasilnya, film ini terasa tidak memiliki tujuan dan pesan yang kuat, pointless, selain hanya berlarian di hutan sementara di sisi yang berbeda para ilmuwan lugu diintimidasi oleh bos mereka. Hanya ini. Sepanjang film, satu opsi cerita lain membayang kuat yang punya potensi sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik.

Baca Juga  Herself

Satu sisi yang jarang ada di film-film sejenis adalah level kebrutalannya. Mustahil dalam film-film mainstream kita menonton seorang anak dan ibunya ditembak begitu sadis dalam film. Tak enak untuk dilihat tapi sense realitas terasa lebih kuat. Ini juga didukung oleh CGI yang tak buruk untuk level bujetnya. Walau jelas para robot disajikan dengan teknik animasi tapi keberadaan mereka terasa begitu nyata dan mengancam. Jika saja bujetnya lebih, rasanya film ini secara teknis bisa jauh lebih baik.

Di balik kebrutalan dan kisahnya yang pointless, Monsters of Human memiliki potensi cerita segar untuk genrenya. Jika saja naskahnya digarap lebih sabar, film ini bisa bersaing dengan film-film besar fiksi ilmiah lainnya. Terdapat satu momen memorable. Walau tak nyaman dilihat, adegan berkesan adalah ketika sang robot menganalisa organ manusia dengan membedah tubuhnya untuk mencari tahu eksistensi dirinya. Sang robot bahkan mengiris kulit wajah sang korban dan berkaca di cermin untuk melihat wajahnya sendiri. Jika film ini digarap lebih mapan, bisa jadi adalah salah satu adegan terbaik sepanjang masa untuk genrenya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaThe Sound of Metal
Artikel BerikutnyaSafety
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.