More Than Family adalah film drama komedi keluarga arahan oleh Choi Ha-na-I yang dibintangi Krystal Jung, Jang Hye-jin, dan Choi Deok-Moon. Tema hamil di luar nikah memang sudah jamak, namun More Than Family mampu mengemas kisahnya dengan cara yang tidak biasa.

Toi-il (Jung) berkerja sebagai tutor pribadi siswa SMU di Seoul dan satu insiden kecil membuatnya hamil dengan muridnya, Ho-hun. Lima bulan kemudian, mereka berdua baru memberitahu orang tua mereka masing-masing. Alhasil, orang tua Toi-il geram dengan putrinya, sementara orang tua Ho-hun justru sebaliknya merasa bahagia. Toi-il sendiri sebelum menikah, mencoba mencari kedamaian dengan mencari identitas ayah kandungnya di kota tempat ia dibesarkan.

Tidak mau terjebak dengan kisah senada, More Than Family mencari cara berbeda untuk menyampaikan pesannya. Tidak seperti lazimnya yang mengambil fokus pada problema pasangan mudanya, film ini justru lebih banyak menggambarkan konflik batin Toi-il dan hubungannya dengan ayah-ibu kandungnya, serta ayah tirinya. Ketidakharmonisan orang tuanya rupanya berbuah trauma pada sang putri yang memiliki ketakutan akan kebahagiaannya di masa depan. Konflik yang demikian kompleks ini, hebatnya mampu disajikan ringan, dibalut sisi komedi yang sangat menghibur. Adu mulut dan ceplosan konyol di antara para karakternya amat dominan sepanjang film. Tak ada yang mampu menyajikan ini lebih baik dari film-film buatan Korea Selatan.

Kisahnya yang ringan dan mengena juga disajikan pula menggunakan pendekatan estetik yang unik. Beberapa kali teknik long take digunakan sepanjang dialog dalam beberapa adegan pentingnya. Satu yang mencuri perhatian adalah satu shot berdurasi panjang di taman bermain badminton. Dalam satu shot istimewa ini menyajikan serangkaian konflik yang berisi adu mulut panjang antara teman-teman Badminton Ho-hun dengan To-il dan keluarganya. Jujur saja, saya tak keberatan melihat satu take panjang berkualitas macam ini berapa lama pun durasinya. Kasting dan akting adalah kunci dari segalanya, dan seperti kebanyakan film Korea, para pembuat film seperti tidak pernah meleset mengkasting para pemain untuk peran tertentu. Mereka semua bermain sempurna.

Baca Juga  The Violent Heart

More Than Family menampilkan kisah menghibur bertema hamil di luar nikah dengan problematika keluarga yang membumi serta beberapa momen estetik yang mengesankan. Adegan kecil pada penghujung film yang menampilkan dialog kunci antara To-il dengan sang ibu tentu punya potensi menimbulkan pro dan kontra bagi penonton. Jika berpatok pada hukum dan tradisi tentu pernyataan ini jauh dari ideal yang melemahkan institusi pernikahan. Namun, jika berpatok pada realita, To-il juga tidak salah. Kebahagiaan keluarga bisa dicapai melalui situasi dan cara yang tidak ideal. To-il memahami ini melalui jalan yang berliku dan penuh goncangan bersama orang tuanya. Pergeseran nilai adalah sesuatu yang tak terelakkan selama bumi masih berputar.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaHunter Hunter
Artikel BerikutnyaThe Nest
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.