Shadow in the Cloud (2020)
83 min|Action, Horror, War|01 Jan 2021
5.0Rating: 5.0 / 10 from 30,572 usersMetascore: 66
A female WWII pilot traveling with top secret documents on a B-17 Flying Fortress encounters an evil presence on board the flight.

Shadow in the Cloud adalah film perang-horor garapan Roseane Liang yang dibintangi oleh Chloe Grace Moretz. Film ini merupakan garapan patungan studio produksi AS dan New Zealand. Shadow in the Cloud juga diputar pertama kali dalam ajang Toronto International Film Festival 2020 bulan September lalu. Sepertinya, baru kali ini sebuah film mengkombinasi banyak genre dan tema, perang, horor, fantasi, filmnoir, feminisme, hingga aksi yang teramat konyol.

Kisah filmnya ber-setting Perang Dunia II. Alkisah Maude Garret (Morretz) adalah seorang perwira angkatan udara yang mendapat misi untuk membawa paket rahasia dengan menumpang pesawat tempur yang menuju New Zealand. Satu-satunya tempat duduk yang tersisa hanyalah kubah tempur yang terletak di bagian bawah pesawat. Tak lama setelah tinggal landas, Maude melihat ada sesosok yang merayap di bagian luar pesawat dan teror pun dimulai.

Wow luar biasa. Boleh dibilang Shadow adalah salah satu pengalaman estetik terunik sekaligus terkonyol yang pernah saya alami selama menonton film. Pendekatan cerita hanya dibatasi melalui perspektif Maude seorang, di mana mata kamera tak pernah lepas dari sosok karakter ini. Selama lebih dari separuh film, kita bisa merasakan betapa tidak nyamannya Maude di bawah sana, terjebak di ruang sempit berketinggian ribuan meter dengan bahaya sewaktu-waktu menanti, baik dari sosok “gremlin” maupun pesawat musuh. Ini memang banyak mengingatkan pada film thriller Buried yang tokohnya terjebak di peti mati, namun dalam Shadow, sisi horor dan ketegangan memadu maksimal. Sungguh ekstrem!

Baca Juga  Look Both Ways

Pendekatan estetik yang demikian unik ternyata tidak berimbang dengan kekonyolan adegan aksinya. Seberapa kuat sih daya tahan tubuh manusia jika harus bergelantungan dan merayap di badan pesawat pada ketinggian ribuan meter? Sosok Ethan Hunt (Tom Cruise) saja harus bersusah payah melakukan ini di seri Mission Impossible. Ya, bisa dimaklumi motifnya tapi bukan begini caranya untuk menggambarkan sosok perempuan tangguh, seolah Maude masih turunan suku Amazon. Amat disayangkan, mengapa harus sekonyol ini?

Kombinasi genre langka dengan pendekatan estetik dan penceritaan yang unik, namun Shadow in the Cloud memiliki masalah dengan adegan aksinya yang teramat konyol. Jika saja aksinya tidak seperti ini, Shadow bisa memiliki poin maksimal karena kombinasi genrenya yang teramat segar. Bahkan pendekatan estetik filmnoir pun bisa disisipi dengan mengesankan pada paruh durasi awal. Film ini bisa menjadi satu contoh kasus kajian studi genre yang sempurna. Menonton film ini memiliki rasa campur aduk di antara kejutan dan kebodohan sinematiknya.

Stay safe and Healthy!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSylvie’s Love
Artikel BerikutnyaNext Door Neighboor
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.