Song Bird tercatat adalah film pertama yang diproduksi setelah sebagian besar wilayah di AS menghentikan aktivitasnya pada pertengahan tahun ini. Film fiksi ilmiah ini digarap oleh debutan Adam Mason dengan nama produser besar Michael Bay ada di belakangnya. Film ini juga menampilkan beberapa bintang ternama, sebut saja Alexandra Daddario, KJ. Apa, Sofia Carson, Peter Stormare, Craig Robinson, hingga Demi Moore. Dengan segala keterbatasan produksinya, apa yang ditawarkan Song Bird untuk merespon pandemi COVID-19? Ternyata nol.

Pada tahun 2024 dikisahkan virus COVID-19 yang mewabah pada tahun 2020 bermutasi menjadi COVID-23 yang berlipat kali lebih mematikan dan telah memakan jutaan korban. Kota-kota besar menjadi kota mati karena diberlakukan lock down total di seluruh wilayah. Militer mengambil-alih kontrol penuh. Setiap harinya, semua orang diwajibkan melakukan cek virus melalui perangkat seluler mereka. Warga sama sekali tidak boleh keluar rumah dan akan ditembak di tempat jika melanggar. Setiap orang yang terinfeksi akan dibawa ke “Q-zones” yang konon tak ada yang pernah kembali dari sana. Di momen ini yang bisa hidup bebas seperti burung hanyalah orang yang punya imun terhadap virusnya yang ditandai dengan gelang kuning di tangan mereka.

Nico adalah satu di antaranya yang bekerja sebagai kurir pengantar barang. Nico memiliki kekasih, Sara, yang tinggal bersama sang nenek. Masalah muncul ketika sang nenek mulai menunjukkan gejala penyakit COVID-23. Untuk menghindari mereka dibawa ke Q-Zones, Nico berpacu dengan waktu berusaha mendapatkan gelang kuning dengan cara ilegal.

Latar kisahnya jelas kini terasa masuk akal dan sungguh memang bisa terjadi. Sangat menarik melihat segala hal yang kini telah kita akrabi memiliki solusi teknologi yang efektif sebagai protokol kesehatan harian, seperti scan virus menggunakan aplikasi lalu juga scan cahaya UV sebagai disinfektan di setiap rumah. Sayangnya, naskah filmnya tak mampu memanfaatkan ini semua dengan membuat kisah yang setidaknya terbilang wajar (logis). Sebegitu burukkah? Ya.

Baca Juga  Titanic 3D

Jika sudah membaca ringkasan plot di atas, rasanya sudah tampak inti masalah kisahnya. Semua serba tak masuk akal. Apa coba yang Nico harapkan setelah mendapatkan gelang imunitas untuk sang pacar dan neneknya? Mau kabur bagaimana dan ke mana? Ketika tim karantina masuk paksa ke rumah untuk mengambil Sara dan neneknya, semua adegan yang ada di sini mengabaikan logika yang amat membodohi kita. Jika bukan karena untuk menulis ulasan film ini, pasti saya sudah mematikan tv. C’mon. Saya tidak pernah membayangkan banyak hal begitu bodohnya tersaji dalam satu film. Luar biasa sekali.

Song Bird mencatat sejarah sebagai film ber-genre “COVID-19” paling awal yang diproduksi di AS, namun banyaknya pelanggaran “protokol” serta logika sederhana dalam plotnya membuatnya menjadi salah satu film fiksi ilmiah terburuk yang pernah diproduksi. Saya tidak paham, apa yang para pembuat film ini pikirkan ketika membuat filmnya. Produksi film ini hanya untuk memanfaatkan momen semata tanpa sama sekali ada niatan untuk memberikan itikad baik serta simpati pada situasi pandemi yang hingga kini belum berakhir. Semoga ini bukan awal yang buruk untuk film bertema pandemi berikutnya.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaI’m Your Woman
Artikel BerikutnyaWonder Woman 1984
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.