The Climb (2019)
98 min|Comedy, Drama|13 Nov 2020
6.7Rating: 6.7 / 10 from 5,166 usersMetascore: 82
A look at the friendship between two guys that spans over many years.

The Climb adalah film drama komedi yang ditulis, diarahkan, diproduseri, serta dibintangi oleh Michael Angelo Covino. Sang partner Kyle Marvin juga turut menulis, memproduseri, dan membintangi filmnya dengan masing-masing menggunakan nama asli mereka dalam cerita film ini. Uniknya pula, film ini diadaptasi film-film pendek karya Covino dan Marvin yang mengisahkan perjalanan hidup dan pertemanan mereka. Filmnya pun layaknya film pendek yang terbagi menjadi tujuh segmen.

Mike (Covino) adalah sahabat Kyle (Marvin) sejak kecil. Namun, sepanjang hidup mereka, Mike selalu merusak dan menganggu kehidupan Kyle dari hubungan asmara, keluarga, keseharian, hingga pernikahan. Tapi entah mengapa, Kyle selalu tak bisa lepas dari Mike.

Rasanya sudah lama, sejak sebuah film mampu menyajikan kisah dengan kemasan cerita dan estetik yang begini unik. Kisahnya yang tersegmen menjadi tujuh bagian masing-masing bercerita tentang satu momen penting dalam kehidupan Mike dan Kyle. Rentang waktunya pun bervariasi dan kadang pula disisipi segmen musikal. Iya musikal! Satu hal yang menarik melalui pembabakan ini, kita disuguhi “surut” (bukan pasang-surut) kehidupan mereka berdua karena semua momennya adalah di mana persahabatan Mike dan Kyle dalam situasi terburuk. Jika Mike dan Kyle bertemu, segalanya adalah bencana atau memalukan bagi mereka dan pula orang di sekitar mereka. Semua kisahnya terlihat personal yang bisa jadi adalah buah pengalaman pribadi Covino dan Marvin sendiri. Jika tidak, rasanya tak akan mampu sekonyol ini. Tak pernah dalam medium film menyajikan hubungan persahabatan sedekat sekaligus se-“toxic” ini.

Baca Juga  Batman: The Long Halloween Part One

Pendekatan estetiknya adalah yang menjadi kekuatan lainnya. Semua segmennya didominasi teknik long take dengan ragam variasi teknik, durasi, dan motif. Segmen pertama misalnya, berupa following shot mengikuti perjalanan bersepeda mereka bedua ketika menaiki dan menuruni bukit. Satu shot panjang tak terputus bergerak dari satu ruang ke ruang lain, baik indoor maupun eksterior, disajikan demikian mengesankan dalam segmen malam natal. Satu titik lemah film ini karena mata kita terus menerus mengikuti shot yang tak terputus, rasa lelah mulai menghampiri sejak pertengahan kisah. Excited yes, but also exhausted.

Tak disangka melalui The Climb, genre komedi mampu demikian sinematik dengan struktur narasi unik dalam mengemas tema toxic relationship. Hubungan keduanya dalam satu titik juga membuat kita jenuh. Rasanya kita ingin berteriak, “tinggalkan dia Kyle!”. Namun, berjalannya kisah, kita pun menyadari bahwa Kyle ternyata begitu rapuh dan tak bisa hidup tanpa Mike karena hanya dia seorang yang memahami dirinya. Entah apa semua ini ada di kehidupan Corvino dan Marvin sesungguhnya tapi satu hal yang jelas mereka berdua adalah pembuat film yang bertalenta tinggi.

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSoul
Artikel BerikutnyaWe Can Be Heroes
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.