Finch (2021)
115 min|Adventure, Drama, Sci-Fi|05 Nov 2021
6.9Rating: 6.9 / 10 from 109,468 usersMetascore: 57
On a post-apocalyptic Earth, a robot, built to protect the life of his creator's beloved dog learns about life, love, friendship and what it means to be human.

Finch adalah film drama fiksi ilmiah pasca bencana yang diarahkan oleh Miguel Sapochnik. Film yang minim pemain ini dibintangi oleh Tom Hanks dan Caleb Landry Jones sebagai Jeff, si robot. Finch mestinya rilis teater bulan Oktober tahun lalu, namun bencana pandemi akhirnya membuat film ini dibeli oleh platform Apple TV+ yang dirilis awal bulan November ini. Film dengan tema pasca bencana sudah puluhan kali kita lihat, namun Finch memiliki pendekatan cerita yang berbeda.

Sepuluh tahun berselang setelah bumi dilanda percikan dari lidah api Matahari (solar flare) menyebabkan lapizan ozon sirna dan suhu muka bumi menjadi tak lagi layak huni. Sebagian besar umat manusia bersama flora dan fauna musnah, menyisakan tanah kering dan tandus, gurun pasir hingga reruntuhan gedung dan bangunan. Finch (Hanks) bersama sang anjing adalah segilintir orang yang selamat setelah bencana tersebut. Finch membuat robot AI yang ia harapkan dapat membantu kesehariannya untuk bertahan hidup. Di saat sang robot bisa diaktifkan, justru saat itu pula badai super akan menerjang lokasinya. Finch, bersama anjing dan robotnya, Jeff, bergerak ribuan mil menuju San Fransisco yang mereka harapkan bisa menjadi rumah baru mereka.

Bagi Tom Hank sendiri, kisah macam ini jelas bukan yang pertama baginya. Dalam Cast Away, ia bahkan hanya bermain solo nyaris sepanjang film. Sosok karakter yang diperankan Hanks kali ini memang tidak murni sendirian. Ia ditemani sang anjing, serta dua robot miliknya, Dewey dan Jeff. Plotnya tidak hanya urusan bertahan hidup, namun yang menarik adalah relasinya dengan Jeff, sang robot pintar. Plotnya mencoba mengambil perspektif berbeda dari lazimnya, yakni sisi gelap umat manusia yang tak lagi bisa diselamatkan. Pelajaran hidup bukan lagi untuk Finch, namun adalah Jeff. Untuk si robot? Lantas untuk apa kisah filmnya? Ini yang membuat kisahnya unik.

Baca Juga  Rapunzel (Tangled)

Seperti kebanyakan film pasca bencana, sisi visual menjadi satu sajian utama yang dominan, demikian pula Finch. Penggunaan CGI tampak begitu masif di segmen pembuka dengan menyajikan cuaca super ekstrem yang kini melanda bumi. Kita telah melihat ratusan film dengan pencapaian CGI macam itu dan Finch tidaklah buruk, pun tidak istimewa. Sisi setting juga jelas dominan, dengan sajian bangunan reruntuhan baik indor maupun eksterior yang pula sudah menjadi visual standar untuk genrenya. Tak ada hal yang baru.

Finch menyajikan sebuah drama sci-fi yang mengeksplorasi tema AI dengan sisi humanis kental. Relasi segitiga antara Finch, sang anjing, dan Jeff adalah kekuatan utama filmnya. Finch tak lagi bisa percaya pada manusia, yang sikapnya kontradiktif dengan sang robot yang dibuat dengan protokol untuk melindungi manusia. Batasan abu-abu ini yang dieksplorasi dalam plotnya sehingga sang robot mampu belajar bahkan melebihi ekspektasi Finch sendiri, yakni ketika sang robot lebih manusiawi dari manusia. Robot AI sepintar Jeff, saat ini jelas belum eksis. Plotnya memang terlalu absurd dari sudut pandang manusia. Seolah sebuah teori penciptaan kehidupan, namun dari sisi berbeda. Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan opini ini, namun setidaknya ini adalah hal baru untuk genrenya. Dengan pesimismenya, bisa jadi anggapan ini benar adanya. Seperti kata Finch, sebelum bencana ini datang, manusia sudah membunuh dirinya sendirinya. Realita dan situasi saat ini memang berbicara begitu. Apa kita bisa buktikan jika opini Finch itu salah?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaLast Night in Soho
Artikel BerikutnyaEternals
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses