Fresh adalah film komedi thriller garapan sineas debutan Mimi Cave yang dibintangi Sebastian Stan dan Daisy Edgar-Jones. Film berdurasi 114 menit ini dirilis platform streaming Hulu beberapa hari yang lalu. Fresh mencoba memadukan banyak elemen genre di dalamnya, roman, horor, komedi, slasher, thriller, dan bahkan bisa jadi supernatural. Lantas seperti apa kombinasi multigenre ini dalam filmnya?

Noa (Jones) adalah gadis muda lajang yang kini tengah mencari jodoh. Sifatnya yang rada “pemilih” membuatnya sulit mendapat pasangan. Ketika berbelanja di supermarket, Noa bertemu dengan seorang pria tampan menarik bernama Steve (Stan). Dengan gaya humor Steve yang “to the point”, Noa pun langsung kepincut, dan tak lama pun mereka berkencan. Noa seolah mendapat pasangan impiannya hingga suatu ketika, sang pacar ternyata jauh dari sosok yang ia pikir.

Babak pertama kisahnya bisa dikatakan adalah murni tipikal genre roman. Bagi yang belum menonton trailer-nya, dijamin bakal mendapat kejutan hebat. Filmnya mendadak berubah haluan menjadi genre thriller/horor yang begitu “menjijikan”, kontras dengan babak sebelumnya. Penampilan mengesankan dari dua kasting utama yang chemistry-nya begitu kuat membuat kisahnya seolah mengarah pada plot komedi romantis yang bagitu manis. Saya berharap betul kisahnya mengarah ke sini. Stan dan Jones begitu menggemaskan. Ternyata naskahnya berbicara lain.

Jika masih ingat film horor komedi Get Out, alur plotnya rada sedikit memiliki kemiripan, walau kini modusnya berbeda. Tak akan ada yang mengira jika Steve ternyata ada sosok yang begitu brutal. Justru setelah masuk babak kedua, plotnya mulai terbaca arahnya, dan kita tahu persis, pada satu titik, Noa akan berusaha lepas dari cengkraman Steve. Potong silang dengan rekan Noa, Mollie, yang mulai menyelidiki keberadaan Noa makin menegaskan segalanya. Klimaks yang kita harapkan pun terjadi, namun ada beberapa hal dibiarkan begitu saja tanpa motif yang jelas. Lalu siapa dan apa “sekte” di balik ini semua? Apa poin filmnya dengan ending semacam ini?

Baca Juga  Glass Onion: A Knives Out Mystery

Fresh adalah percobaan segar untuk genre “roman” thriller dengan penampilan apik dua kasting utamanya, walau naskahnya agak lepas di babak ketiga. Dengan ending-nya, pesan yang diarahkan sejak awal menjadi rada kabur. Singkatnya setelah semua ini, Noa akan memaafkan sosok pacar yang brengsek sekalipun, asalkan “normal”. Tidak akan pernah ada sosok yang sempurna selain yang mampu menerima kita apa adanya dan membuat kita jadi lebih baik. Tapi entahlah, rasanya ini tidak berlaku untuk kisah film ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaNightride
Artikel BerikutnyaThe Bombardment
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.