Aktor sekaligus jadi sutradara, kali ini dilakukan oleh Derby Romero melalui film aksi dan road movie berjudul Gas Kuy. Duet penulis yang menggarap skenarionya adalah Nicholas Raven dan Baskoro Adi Wuryanto. Ini adalah kali ketiganya mereka bertandem setelah mengerjakan genre yang berbeda (horor) lewat Kajeng Kliwon, Nightmare in Bali dan 11:11: Apa yang Kau Lihat? Film produksi Darihati Films ini diperankan oleh sejumlah nama baru, seperti Rendy Herpy, Nadira Adnan, Kevin Zufri, dan Haviza Devi Anjani, dengan menghadirkan pula nama-nama lama yaitu Rangga Azof dan Derby Romero, serta sosok yang barangkali direncanakan hendak sebagai kejutan, yakni Yayan Ruhian. Kali kedua Derby menempati posisi dalam directing setelah MatiAnak, akankah hasilnya menunjukkan perbedaan?

Empat orang sahabat sejak SMA yang kini telah menjalani rutinitas sehari-hari, memutuskan untuk melakukan touring Jawa-Bali. Mereka adalah Brama (Rendy Herpy), Aaron (Rangga Azof), David (Derby Romero), dan Charles (Kevin Zufri). Meski mulanya lancar hingga sampai di pertengahan jalan, salah seorang teman semasa SMA memicu masalah besar yang mengikuti keempatnya sampai di Bali. Bukan hanya itu, persoalan perempuan, Eva (Haviza Devi Anjani), bahkan dengan mudahnya meretakkan keakraban mereka. Masing-masing harus bersikap dewasa, atau masalah tidak akan pernah tuntas sama sekali dan justru memecah belah persahabatan mereka.

Sudah jelas bahwa directing dan penulisan skenario film ini 11-12 kualitasnya dengan garapan yang sudah-sudah, baik sutradaranya dengan MatiAnak maupun kedua penulisnya dengan Kajeng Kliwon, Nightmare in Bali dan 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Sekali lagi, unsur seks, pelecehan, dan wanita seksi dijadikan daya tarik dalam film. Seolah para sineasnya sudah mentok dan tidak ada hal lain yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang penceritaan, lalu mengambil jalan pintas dengan memasukkan ketiga hal di atas. Apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh film ini dengan memasukkan hal-hal tadi? Berkaca pada format yang digunakan Warkop DKI dengan para wanita di dalamnya? Bila memang iya, rasanya Gas Kuy hanya menelan mentah-mentah format tersebut untuk kemudian dijadikan sebagai salah satu referensinya.

Baca Juga  Ketidakberdayaan Wanita dalam Perempuan Punya Cerita

Sang sutradara Gas Kuy pada dasarnya merupakan seorang aktor yang tampak masih ingin menjajal peruntungannya dengan men-direct film “sekaligus” memerankannya. Setelah tidak mampu mengarahkan dengan baik MatiAnak –dengan genre horornya, Derby ternyata masih belum mau meletakkan keinginannya dalam menyutradarai, yang kali ini dilakukannya melalui genre aksi dan road movie. Namun sayangnya dia harus menelan pil pahit lagi, karena Gas Kuy pun hanyalah sesuatu yang numpang lewat semata. Kecuali kalau penontonnya sekadar ingin menikmati visual road movie melalui touring motor dan kemunculan Yayan Ruhian, ya silakan saja.

Selain visual dan kehadiran Yayan Ruhian yang mewarnai segmen aksi, film ini hanya dibuat untuk ‘seru-seruan’ sutradara dan kedua penulisnya. Bahkan eksplorasi terhadap kemampuan bela diri sang aktor laga tersebut pun, kendati hanya sedikit, nyatanya malah mengecewakan. Padahal kemunculannya bisa saja menjadi kejutan yang seru dan menaikkan ketertarikan terhadap film ini melalui adegan aksinya.

Meski begitu, Gas Kuy memahami dengan baik kebutuhan pengambilan gambar untuk road movie yang mengangkat tema touring motor. Walau pada tema ini pun para sineasnya tak memahami dengan baik segala hal yang berkaitan dengan topik “touring”. Semua yang disajikan adalah murni tindakan suka-suka dari para pembuatnya, baik untuk menghadirkan unsur drama maupun komedinya. Tak terkecuali dari aspek-aspek naratif dan sinematik lain, terutama musik dan dialog yang kerap kali tak sesuai dengan adegannya.

Gas Kuy sekadar film ‘seru-seruan’ yang dibuat secara suka-suka, dengan memasukkan semua hal yang dikehendaki para pembuatnya, tanpa tendensi untuk memperhatikan sebaik mungkin citra filmnya saat sudah siap tayang. Ketiga kepala yang menggarap film ini pun nyatanya mesti lebih banyak lagi belajar, terhadap genre-genre yang telah mereka jajal selama ini (serta yang lainnya). Boleh dibilang, ketiganya kurang beruntung bertemu dalam Gas Kuy, karena sama-sama belum ada yang memiliki –setidaknya—satu film yang dapat dikatakan sebagai karya kebanggaan masing-masing. Dengan semua ini, hanya dua hal yang “minimal” menyelamatkan film ini agar tak benar-benar tenggelam, yaitu visual dan kehadiran Yayan Ruhian.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaThe Conjuring: The Devil Made Me Do It
Artikel BerikutnyaF9
Miftachul Arifin
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi S-1 Film dan Televisi. Aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi, serta turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak: Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Ia pernah menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Latar belakangnya sebagai mahasiswa film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase pada September 2019, dan aktif menulis review film-film Indonesia.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.